Tak Mudah Wujudkan Inovasi TPA Benowo-Surabaya ke Kota Ambon
TPA benowo

Surabaya,Nunusaku.id,- Bukan hal mudah mewujudkan inovasi yang dilakukan Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Benowo di Kelurahan Sumberrejo, Kecamatan Pakal, Kota Surabaya ke Kota Ambon.

Sebab dari segi sarana dan prasarana penunjang, Ambon tertinggal. Belum lagi penataan internal baik retribusi sampah harus digenjot agar menghasilkan pendapatan bagi daerah untuk implementasi “mimpi” itu.

Pasalnya, TPA Benowo bukan sekedar tempat pembuangan sampah, tetapi juga sebagai Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa). Bahkan PLTSa Benowo ini jadi PLTSa pertama dan terbesar di Indonesia yang diresmikan Presiden Joko Widodo pada Mei 2021 sebagai tempat pengolah sampah menjadi energi listrik yang dikembangkan Pemkot Surabaya.

Sampah yang dihasilkan dari TPA dengan memiliki luas 37,5 hektar itu mampu diolah menjadi energi listrik yang mampu menerangi dan memenuhi kebutuhan bagi warga Surabaya.

TPA Benowo menerima sampah sebanyak 1.600 ton per hari. Untuk PLTSa dikelola PT Sumber Organik dengan 1000 ton per hari untuk menghasilkan listrik 9 MWatt. Sementara 600 ton yang sisa dikelola pihak ketiga yang lain. Hasilnya, dijual listrik ke PLN kurang lebih 1 hingga 2 MWatt per hari.

“Ini bisa kita kembangkan di Kota Ambon, tetapi memang bukan hal mudah,” jelas Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Persampahan (DLHP) Kota Ambon, Alfredo Hehamahua saat bersama Kadis LH Kota se-Indonesia mendatangi TPA Benowo disela Musyawarah Nasional (Munas) APEKSI VI di Surabaya, Rabu (7/5).

Walau TPA Benowo sangat layak untuk dijadikan sebagai contoh pengolahan sampah di Indonesia, termasuk Kota Ambon, tapi itu bukan hal mudah. Sebab selain dukungan anggaran dan infrastruktur, tetapi inovasi juga perlu dilakukan DLHP untuk mendatangkan PAD sebanyak mungkin.

Sebab di Surabaya, didukung 191 TPS, kemudian ada TPS 3R sebanyak 13 unit dengan jumlah armada kurang lebih 600 unit. Sebagian besar armada itu konvektor ada 300 unit armada. “Sehingga ini memang jadi contoh bagi kita, jika ingin Ambon bebas sampah,” terang Hehamahua.

Sayangnya, perlu kerja keras untuk mewujudkan TPA Benowo bertransformasi di Kota Ambon. Sebab APBD Kota Ambon dan Surabaya beda jauh antara “langit dan bumi”. Surabaya di angka 10,9 triliun, Ambon hanya Rp 1,2 triliun.

Belum lagi, Pemkot Ambon terbatas di armada, baru miliki 24 unit truk sampah, 8 truk amrol, tiga mobil dan 30 armada roda tiga. Rencana penambahan 10 unit di tahun depan dinilai masih kurang. Apalagi sebagian besar TPS telah rusak dan tidak lagi representatif.

SDM pendukung juga penting. Namun kenaikan upuh buruh belum bisa terealisasikan di tahun anggaran 2025. Masih stag di angka Rp 42.500 per hari untuk buruh pengangkut, upah buruh sapu jalan (pagi) Rp 30 ribu dan upah buruh sapu jalan (siang) Rp 50 ribu.

Pekerjaan rumah berat jelas pada aspek mendongkrak PAD di tahun 2025. Sebab DLHP merupakan OPD pengumpul. Berkaca dari target 2024 untuk retribusi sampah yaitu Rp 21 Miliar, DLHP tak mampu mencapainya, hanya mendapat Rp 7 Miliar atau dibawah 40 persen. (NS)

 

 

Views: 13
Facebook
WhatsApp
Email