
AMBON,Nunusaku.id,- Dibawah langit biru yang terik, lapangan Merdeka kawasan Benteng Duurstede Saparua Kabupaten Maluku Tengah (Malteng) jadi saksi 209 tahun perjuangan Pahlawan Nasional Kapitan Pattimura kembali dikenang dan dihayati.
Di tempat penuh sejarah itu, Gubernur yang juga Upulatu Maluku, Hendrik Lewerissa untuk kedua kalinya menjadi inspektur upacara (Irup) peringatan perjuangan Pahlawan Nasional Kapitan Pattimura ke-209 tahun, Jum’at (15/5/26).
Sebelum memimpin upacara, Upulatu yang mengenakan pakaian adat lebih dulu menerima obor Pattimura dari Upulatu Malteng Zulkarnain Awat Amir yang diarak-arakan oleh masyarakat adat dengan Cakalele dari Gunung Saniri sejak kemarin.
Selanjutnya Upulatu Hendrik Lewerissa menyulutkan obor tersebut di monumen obor, disaksikan ribuan pasang mata termasuk wisatawan domestik hingga mancanegara.
Tak ketinggalan, peletakkan karangan bunga bersama Upulatu Malteng dan perwakilan keluarga Kapitan Pattimura Thomas Matulessy dibawah monumen Kapitan Pattimura menjadi rangkaian upacara peringatan hari perjuangan Pahlawan Pattimura ke-209 tahun.
Meski dibawah penatnya terik matahari, namun peringatan Perjuangan Pahlawan Nasional Kapitan Pattimura ke-209 tahun, dengan Kapitan Upacara Kepala BPBD Malteng, Nova Anakotta ini berjalan khusyuk hingga selesai dengan aman dan lancar.
Dalam amanatnya, Upulatu Maluku menegaskan, api obor perjuangan Pattimura yang dimulai dari Gunung Saniri menjadi lambang membaranya semangat perjuangan Pahlawan Pattimura Thomas Matulessy melawan kolonialisme penjajahan untuk menyatukan rakyat Maluku.
Semangat itulah yang menginspirasi penetapan tema peringatan Hari Perjuangan Pattimura tahun 2026 yaitu “Teladani Perjuangan Pattimura, Wujudkan Maluku yang Gemilang menuju Indonesia Emas 2045”.
Tema ini mengandung makna bahwa semangat perjuangan Kapitan Pattimura tidak boleh berhenti sebagai catatan sejarah semata, tetapi harus hidup dalam karakter dan tindakan generasi Maluku hari ini.
“Jika dahulu Kapitan Pattimura mengangkat Parang dan Salawaku melawan kolonialisme yang merampas hak dan keadilan rakyat, maka hari ini kita menghadapi bentuk perjuangan yang berbeda: melawan kemiskinan, kebodohan, ketimpangan pembangunan hingga ketertinggalan teknologi,” terangnya.
Lebih lanjut menurut Lewerissa, semangat Lawamena Haulala mengajarkan bahwa untuk mencapai “Maluku Pung Bae”, harus utamakan bekerja bersama. Bahu membahu tanpa melihat perbedaan.
“Pemerintah tidak bisa bekerja sendiri. Kami butuh masyarakat, tokoh agama, tokoh adat, tokoh pemuda, dunia usaha dengan peran dan tanggungjawab masing-masing yang sama penting untuk membangun Maluku,” tegasnya.

Ditegaskan, perjuangan dan pesan fenomenal Pattimura yaitu “Beta Akan Mati, Namun Pattimura-Pattimura Muda akan Bangkit”, menunjukan kepada generasi Maluku masa kini dan masa depan tentang bangkitnya Pattimura-Pattimura muda yang akan meneruskan dan mewujudkan cita-cita perjuangan Pattimura.
Semangat keteladanan Pattimura di era sekarang tambahnya, berarti harus berani berinovasi untuk keluar dari zona nyaman demi kemajuan daerah, memperkuat persatuan dan menumbuhkan semangat yang melampaui sekat perbedaan suku, agama, golongan maupun kepentingan.
“Kita harus bekerja bersama, bergerak bersama untuk mengelola sumberdaya alam Maluku, baik di laut maupun darat agar memberi manfaat sebesar-besarnya bagi kesejahteraan rakyat dan generasi mendatang,” ingat Gubernur.
Di momen istimewa tersebut, Upulatu juga memberi kalimat nan tegas, penuh optimisme. Posisi Maluku yang sedang berdiri di gerbang sejarah menuju Indonesia Emas 2045: Maluku tidak boleh menjadi penonton di negerinya sendiri.
Baginya, Maluku harus tampil di garis depan sebagai kekuatan besar pembangunan di kawasan timur Indonesia, unggul sumberdaya manusianya, kuat ekonomi kelautan dan perikanannya, maju daerahnya serta kokoh persaudaraannya.
Karena itu, kepada generasi muda Maluku, Gubernur berpesan. “Sebagai Pattimura-Pattimura muda masa kini, kobarkan semangat juang, kuasai ilmu pengetahuan dan teknologi. Bangun daya saing global namun jangan pernah tercabut akar budaya, nilai pela gandong dan semangat Siwalima sebagai jati diri orang Maluku,” pesan Upulatu Maluku. (NS)





