
AMBON,Nunusaku.id,- Minggu, 22 Maret 2026, akan tercatat dalam tinta emas sejarah Desa Rumberu Kecamatan Inamosol Kabupaten Seram Bagian Barat (SBB) Provinsi Maluku.
Bukan sekadar karena sebuah gedung Gereja akhirnya berdiri utuh setelah 29 tahun dibangun setetes keringat demi setetes keringat.
Tetapi karena untuk pertama kalinya dalam sejarah Maluku, seorang Gubernur datang bersama Isteri dan rombongan, menembusi jalan yang bahkan burung pun enggan melintas, sebuah perjuangan maha berat.
Video pendek yang diabadikan warga Inamosol untuk merekam momen nan penting, menunjukkan potongan-potongan adegan yang mencekik, mobil 4×4 merayap seperti keong di atas tebing gunung yang berlumpur licin, dikepung batu-batu besar yang menganga seperti rahang bumi yang siap menelan.
Roda-roda berputar perlahan, berulang kali tertahan, berulang kali mencari pijakan. Di dalam, tampak bapak Gubernur Hendrik Lewerissa dan Ibu Maya Baby Lewerissa duduk dengan tenang, meski setiap guncangan adalah bisikan jurang yang hanya berjarak beberapa sentuhan dari tapak ban.
Ini bukan perjalanan seorang pejabat. Ini adalah perjalanan seorang pemimpin rendah hati yang memilih untuk tidak hanya mendengar dari balik meja, tetapi merasakan sendiri getaran tanah yang selama 80 tahun Indonesia merdeka menjadi saksi bisu perjuangan rakyat Kawatu, Rumberu, Rambatu dan Manusa untuk membangun rumah ibadah mereka secara layak. Dan 29 tahun proses Pembangunan !
Bapak Gubernur dan Ibu tidak datang dalam kemewahan. Mereka datang dalam keringat dan kewaspadaan. Mereka datang dengan cara yang paling terhormat, menempuh jalan yang sama, merasakan ketakutan yang sama, dan pada akhirnya, sampai di tempat yang sama dengan rakyat yang mereka layani.

Sebuah pesan serta ucapan tulus untuk mengucapkan terima kasih dari masyarakat Kecamatan Inamosol yang diungkapkan ibu Ellen Anakotta kepada Bapak Gubernur Maluku dan Ibu tentu tidaklah cukup.
“Kami masyarakat Desa Rumberu, tidak hanya mengucapkan terima kasih. Kami menundukkan kepala sebagai bentuk penghormatan yang paling dalam”.
Karena tepat di momen Minggu Sengsara Tuhan Yesus ke-V, kami (baca; masyarakat Rumberu) tidak hanya menyaksikan peresmian sebuah gedung Gereja desa Rumberu yang diberi nama “GALED”.
Tetapi kami menjadi saksi keteladanan tentang bagaimana seorang pemimpin seharusnya hadir, bukan dengan janji, tetapi dengan kehadiran. Bukan dengan kata, tetapi dengan langkah yang sampai.
Perjalanan Bapak dan Ibu adalah sebuah syair yang akan kami ceritakan kepada anak cucu Desa Rumberu dan Kecamatan Inamosol: bahwa pernah ada seorang Gubernur yang tidak takut pada jurang, demi menyalami rakyatnya di ujung jalan yang nyaris terlupakan. (***)









