Satgas PPKT Maluku Bergerak, Siapkan Aksi Kemanusiaan Penanggulangan Karhutla di Kota Ambon
file_00000000c0688211ae1453913ea68db2

AMBON,NUNUSAKU.ID,– Menyikapi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta dampaknya terhadap kesehatan masyarakat dan lingkungan, Satuan Tugas (Satgas) Pencegahan dan Penanganan Karhutla Pengurus Provinsi Karang Taruna (PPKT) Maluku akan melaksanakan serangkaian aksi sosial, kemanusiaan, dan edukasi lingkungan di Kota Ambon pada 17–25 Oktober 2026.

Kegiatan ini merupakan bentuk kepedulian dan tanggungjawab sosial generasi muda Maluku dalam membantu masyarakat yang terdampak Karhutla, sekaligus meningkatkan kesadaran publik terhadap pentingnya pencegahan kebakaran dan perlindungan ekosistem hutan.

Ketua Satgas Pencegahan dan Penanganan Karhutla PPKT Maluku, Prof. Dr. Sintya Latumahina menjelaskan, kegiatan tersebut dirancang untuk memberi bantuan langsung kepada masyarakat sekaligus memperkuat edukasi tentang bahaya kebakaran hutan dan lahan.

Prof. Sintya yang juga dosen Jurusan Kehutanan Universitas Pattimura dan Guru Besar Bidang Ilmu Perlindungan dan Kesehatan Ekosistem Hutan menegaskan, persoalan Karhutla tidak hanya berkaitan kerusakan vegetasi dan hilangnya keanekaragaman hayati, tetapi juga menyangkut kesehatan manusia, ketersediaan air bersih, kualitas udara, serta keberlanjutan kehidupan masyarakat.

Bagikan Masker di 10 Titik Kota Ambon

Salah satu agenda utama yang akan dilaksanakan adalah pembagian masker kepada masyarakat pada 10 titik di wilayah Kota Ambon.

Pembagian masker oleh Satgas ditujukan untuk membantu masyarakat mengurangi paparan partikel asap akibat kebakaran hutan dan lahan, terutama bagi kelompok rentan seperti anak-anak, lanjut usia, ibu hamil, dan masyarakat yang memiliki gangguan pernapasan.

Latumahina menjelaskan, selain pembagian masker, Satgas juga akan mendistribusikan brosur edukasi kepada warga yang terdampak.

Brosur tersebut akan memuat informasi mengenai bahaya asap kebakaran, langkah perlindungan kesehatan, upaya pencegahan kebakaran lahan, serta pentingnya partisipasi masyarakat dalam menjaga lingkungan.

“Melalui kegiatan ini, kami berharap masyarakat tidak hanya menerima bantuan, tetapi juga memperoleh pengetahuan praktis dalam menghadapi ancaman kebakaran dan pencemaran udara,” jelasnya, Jum’at (16/10).

Salurkan Air Bersih kepada 110 KK di Kawasan Kesya Gunung Nona

Tidak hanya berfokus pada persoalan kualitas udara, Satgas Karhutla PPKT Maluku juga akan melaksanakan kegiatan penyaluran air bersih bagi masyarakat di kawasan Kesya, Gunung Nona, Kota Ambon.

Bantuan tersebut direncanakan menjangkau 110 kepala keluarga (KK) yang tersebar pada tiga RT di kawasan tersebut.

Penyaluran air bersih menjadi salah satu prioritas kegiatan kemanusiaan karena akses terhadap air yang layak merupakan kebutuhan mendasar masyarakat, terutama ketika menghadapi kondisi lingkungan yang terdampak bencana.

Satgas berharap kegiatan tersebut dapat membantu meringankan beban warga dalam memenuhi kebutuhan air bersih sehari-hari.

Edukasi Karhutla Melalui RRI Ambon

Sebagai bagian dari strategi pencegahan jangka panjang, Satgas juga akan menyelenggarakan edukasi publik melalui siaran Radio Republik Indonesia (RRI) Ambon.

Siaran edukasi ini ditujukan kepada masyarakat Maluku secara luas dengan membahas penyebab kebakaran hutan dan lahan, dampaknya terhadap kesehatan manusia dan ekosistem, serta langkah-langkah pencegahan yang dapat dilakukan masyarakat.

Edukasi juga akan menekankan pentingnya menghindari pembakaran sampah dan pembukaan lahan dengan api, meningkatkan kewaspadaan pada musim kering, serta segera melaporkan titik api kepada pihak berwenang.

“Melalui media radio, informasi diharapkan dapat menjangkau masyarakat di berbagai wilayah Maluku, termasuk daerah yang memiliki keterbatasan akses informasi digital,” demikian Latumahina.

Karhutla Ancaman Serius bagi Ekosistem Pulau Kecil

Dari perspektif ilmu perlindungan dan kesehatan ekosistem hutan, Prof. Sintya menyoroti pentingnya pendekatan penanggulangan karhutla yang sesuai dengan karakteristik geografis Maluku sebagai wilayah kepulauan.

Ekosistem pulau kecil memiliki keterbatasan luas daratan, sumber daya air, dan kemampuan pemulihan lingkungan. Karena itu, kebakaran vegetasi yang berulang berpotensi mempercepat degradasi lahan, mengurangi tutupan vegetasi, meningkatkan risiko erosi, serta mengganggu fungsi hidrologis kawasan.

Kerusakan tutupan vegetasi di daerah perbukitan juga dapat memengaruhi kemampuan tanah menyerap dan menyimpan air hujan. Dalam jangka panjang, kondisi tersebut dapat meningkatkan kerentanan wilayah terhadap kekeringan dan limpasan permukaan.

Sebab itu, penanganan Karhutla tidak cukup dilakukan melalui pemadaman api semata, tetapi harus disertai edukasi, penguatan kesiapsiagaan masyarakat, perlindungan kawasan rawan kebakaran, dan pemulihan ekosistem yang terdampak.

Jadi Garda Terdepan Perlindungan Lingkungan

Kegiatan yang akan dilaksanakan pada 17–25 Oktober 2026 tersebut sekaligus menjadi momentum untuk memperkuat peran Karang Taruna sebagai organisasi sosial kepemudaan dalam penanggulangan bencana dan pelestarian lingkungan.

Ketua PPKT Maluku, Alexander Waas mengatakan, keterlibatan generasi muda dinilai penting dalam membangun budaya pencegahan bencana berbasis masyarakat, terutama melalui aksi sukarela, penyebaran informasi, serta penguatan solidaritas sosial.

“Kami berharap rangkaian kegiatan yang dilakukan Satgas ini dapat menjadi langkah awal untuk membangun gerakan kepedulian lingkungan yang berkelanjutan dan melibatkan lebih banyak unsur masyarakat,” harap Waas.

Lebih lanjut Prof. Dr. Sintya menegaskan, perlindungan hutan dan lingkungan menjadi tanggungjawab bersama. Upaya pencegahan karhutla harus dimulai dari kesadaran individu, diperkuat melalui gerakan masyarakat, serta didukung kolaborasi pemerintah, akademisi, organisasi kepemudaan, dan berbagai pemangku kepentingan.

“Melalui aksi kemanusiaan ini, Satgas Karhutla PPKT Maluku ingin menunjukkan bahwa kepedulian terhadap korban bencana dan perlindungan lingkungan merupakan dua agenda yang harus berjalan bersama,” pungkasnya.

Dengan semangat solidaritas dan pengabdian, Karang Taruna Maluku siap mengambil bagian dalam menjaga kesehatan masyarakat, melindungi ekosistem hutan, dan mewujudkan Maluku yang lebih tangguh terhadap ancaman bencana lingkungan. (NS)

Views: 5
Facebook
WhatsApp
Email