Sakralitas Pataka Pamahanunusa Terusik, HUT ke-69 Masohi Sisakan "Noda" Penghormatan Adat
IMG-20261103-WA0010

Masohi,NUNUSAKU.ID,— Ditengah semarak perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-69 Kota Masohi, sebuah prosesi yang seharusnya menjadi simbol kehormatan dan kebanggaan masyarakat Maluku Tengah justru menghadirkan suasana berbeda.

Penyerahan Pataka Pamahanunusa, yang menjadi bagian penting dalam rangkaian upacara adat, sempat terhenti akibat ketegangan di Lapangan Nusantara, Selasa (3/11/26).

Peristiwa itu menjadi salah satu momen yang paling menyita perhatian dalam perayaan hari jadi Kota Masohi tahun ini. Bukan karena kemegahan acaranya, melainkan karena prosesi adat yang sarat makna tersebut tidak berjalan sebagaimana mestinya.

Di hadapan jajaran pemerintah daerah, unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), tokoh masyarakat, serta para undangan, kelompok Cakalele dari Desa Amahai menjalankan ritual penyerahan Pataka Pamahanunusa kepada Bupati Maluku Tengah (Malteng), Zulkarnain Awat Amir.

Namun, ketika prosesi masih berlangsung, perangkat pengeras suara milik panitia justru diaktifkan. Situasi tersebut memicu keberatan dari kelompok Cakalele yang tengah menjalankan tahapan ritual adat.

Ketegangan pun muncul di sekitar lokasi upacara. Suasana yang semula berlangsung khidmat berubah menjadi tidak kondusif. Sejumlah tamu undangan terlihat meninggalkan tempat duduk, sementara perhatian peserta upacara tertuju pada situasi di sekitar podium.

Rangkaian kegiatan akhirnya dihentikan sementara. Upacara yang telah dipersiapkan sebagai momentum bersejarah bagi Kota Masohi itu harus tertunda kurang lebih dua jam.

Dibalik peristiwa tersebut, terdapat satu hal yang menjadi perhatian: bagaimana sebuah tradisi adat ditempatkan dalam agenda resmi pemerintahan.

Pataka Pamahanunusa bukan sekadar benda yang diserahkan dalam sebuah seremoni. Ia memiliki nilai simbolis yang berkaitan dengan identitas, kehormatan, dan kebersamaan masyarakat Maluku Tengah.

Demikian pula Cakalele, yang tidak hanya menjadi pertunjukan budaya untuk memeriahkan acara. Di dalamnya terdapat unsur tradisi dan tata cara yang perlu dihormati oleh seluruh pihak yang terlibat.

Karena itu, setiap tahapan prosesi membutuhkan koordinasi yang cermat. Pengaturan waktu, komunikasi antara panitia dan pelaksana adat, hingga penggunaan perangkat pendukung acara semestinya diselaraskan agar tidak mengganggu jalannya ritual.

Peristiwa di Lapangan Nusantara menjadi pengingat bahwa penyelenggaraan kegiatan yang melibatkan unsur adat tidak cukup hanya mengandalkan susunan acara dan kesiapan teknis. Pemahaman terhadap nilai serta tata cara adat juga menjadi bagian penting dari keberhasilan sebuah kegiatan.

Setelah situasi menjadi perhatian masyarakat, Bupati Zulkarnain Awat Amir, memberi penjelasan resmi. Didampingi Wakil Gubernur Maluku, Abdullah Vanath, dan jajaran Forkopimda, ia menyampaikan bahwa kejadian tersebut merupakan akibat dari kesalahan teknis pihak penyelenggara.

Zulkarnain juga membantah narasi yang berkembang di media sosial mengenai adanya perkelahian fisik maupun aksi saling serang antarkelompok.

“Tidak ada aksi saling serang. Tidak ada pihak yang menyerang pihak lain, dan tidak ada pula yang diserang,” tegasnya.

Ia kembali menekankan, kejadian tersebut tidak perlu dimaknai sebagai konflik antarkelompok masyarakat.

“Apa yang terjadi semata-mata merupakan akibat dari kesalahan teknis di pihak kami,” tambahnya.

Pernyataan itu memperlihatkan bahwa pemerintah daerah mengakui adanya kekurangan dalam penyelenggaraan kegiatan, sekaligus mengambil tanggung jawab atas terganggunya prosesi yang menjadi bagian penting dari perayaan HUT Kota Masohi.

Tidak berhenti pada klarifikasi. Bupati juga menyampaikan permohonan maaf kepada Raja atau pemimpin adat dari Amahai dan Soahuku, masyarakat luas, serta seluruh lembaga adat di Kabupaten Maluku Tengah.

Permohonan maaf tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintah daerah merespons kekecewaan yang muncul akibat terganggunya prosesi adat.

Dalam kehidupan masyarakat Maluku Tengah, adat memiliki kedudukan yang tidak dapat dipisahkan dari perjalanan sejarah dan kehidupan sosial. Ia menjadi warisan yang menghubungkan generasi masa lalu, masa kini, dan masa depan.

Sebab itu, penghormatan terhadap adat seharusnya tidak hanya terlihat dalam pakaian tradisional, tarian, maupun simbol-simbol budaya yang ditampilkan dalam sebuah perayaan. Penghormatan itu harus tercermin pula dalam sikap, koordinasi, dan keputusan setiap penyelenggara kegiatan.

HUT ke-69 Kota Masohi semestinya menjadi momentum untuk memperkuat persatuan, membangun kebanggaan daerah, serta memperlihatkan kekayaan budaya Maluku Tengah kepada masyarakat luas.

Namun, kejadian di Lapangan Nusantara memberikan catatan tersendiri bagi pemerintah daerah dan seluruh pihak yang terlibat.

Sebab, kemajuan sebuah daerah bukan hanya ditentukan oleh pembangunan infrastruktur, pertumbuhan ekonomi, atau kemeriahan perayaan tahunan. Ada warisan budaya dan kehormatan masyarakat yang juga harus dijaga.

Pada akhirnya, Pataka Pamahanunusa mengingatkan bahwa identitas sebuah daerah tidak hanya hidup dalam simbol yang diarak atau diserahkan dalam sebuah upacara. Identitas itu hidup dalam penghormatan terhadap adat, kebijaksanaan dalam bertindak, serta kesediaan semua pihak untuk menjaga persaudaraan.

Masohi boleh terus berkembang mengikuti zaman, tetapi nilai-nilai adat yang menjadi bagian dari jati diri masyarakat Maluku Tengah tidak boleh kehilangan tempatnya.

Karena sebuah perayaan dapat selesai dalam hitungan jam, tetapi kehormatan adat harus dijaga sepanjang masa. (NS-02)

Views: 5
Facebook
WhatsApp
Email