
AMBON,NUNUSAKU.ID,– Potensi perikanan Maluku yang melimpah harus dikelola secara optimal agar mampu memberi nilai tambah bagi perekonomian daerah dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat, khususnya nelayan.
Pandangan tersebut akan dibagikan anggota DPR RI Daerah Pemilihan Maluku, Saadiah Uluputty yang juga mahasiswa S2 Rekayasa Kelautan Universitas Pattimura (Unpatti), dalam kuliah tamu di Fakultas Teknik Unpatti, Jumat (30/10/26) besok.
Kuliah tamu tersebut mengangkat tema “Tantangan Pengembangan Industri Perikanan di Daerah Penghasil Ikan”. Forum ini diharapkan menjadi ruang pertukaran gagasan antara insan akademis dan mahasiswa untuk merumuskan solusi bagi pengembangan sektor perikanan Maluku.
Menurut Saadiah, pembahasan mengenai potensi laut Maluku tidak boleh berhenti pada pengakuan bahwa daerah ini kaya akan sumber daya ikan. Tantangan sesungguhnya adalah bagaimana kekayaan tersebut dapat diolah menjadi kekuatan ekonomi yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
“Laut dan wilayah hidup masyarakat Maluku tidak bisa dipisahkan. Karena itu, tema ini harus terus didiskusikan agar kita mampu menemukan cara mengelola kekayaan laut secara optimal,” kata Saadiah.
Ia menekankan pentingnya membangun pola pikir berbasis hilirisasi dan nilai tambah (added value) di kalangan mahasiswa. Dengan demikian, potensi perikanan Maluku tidak hanya dipasarkan dalam bentuk bahan mentah, tetapi dapat dikembangkan menjadi produk olahan bernilai ekonomi lebih tinggi.
Dorong Inovasi Produk Perikanan
Salah satu langkah strategis yang dapat dikembangkan adalah inovasi produk perikanan. Mahasiswa didorong untuk melihat peluang pengolahan hasil laut lebih jauh, mulai dari produksi makanan siap saji berbasis tuna dan cakalang premium, ekstraksi kolagen dari sisik ikan, pengolahan gelatin ikan, hingga pemanfaatan rumput laut sebagai bahan kemasan ramah lingkungan.
Inovasi tersebut membuka peluang bagi tumbuhnya industri pengolahan berbasis sumber daya lokal sekaligus memperluas kesempatan usaha dan lapangan kerja di Maluku.
Selain inovasi produk, penguatan sistem logistik dan teknologi pendingin atau cold chain juga menjadi perhatian penting. Tantangan geografis Maluku sebagai provinsi kepulauan membutuhkan solusi teknologi yang mampu menjaga mutu ikan sejak ditangkap hingga tiba di tangan konsumen.
Mahasiswa Fakultas Teknik dan bidang teknologi informasi dapat mengambil peran melalui pengembangan teknologi pendingin yang terjangkau serta sistem rantai pasok berbasis Internet of Things (IoT). Penerapan teknologi tersebut diharapkan membantu menjaga kualitas hasil tangkapan nelayan, termasuk dari pulau-pulau terluar, sekaligus meningkatkan daya saing produk perikanan di pasar yang lebih luas.
Limbah Perikanan Harus Bernilai Ekonomi
Saadiah juga menyoroti peluang pengembangan ekonomi berbasis pemanfaatan limbah perikanan atau zero waste. Bagian ikan yang selama ini kurang dimanfaatkan, seperti kepala, tulang, dan jeroan, dapat dikembangkan menjadi bahan baku pakan, pupuk organik, serta bahan untuk produk lain sesuai standar keamanan dan kebutuhan industri.
Pendekatan ini tidak hanya berpotensi meningkatkan nilai ekonomi hasil perikanan, tetapi juga mengurangi limbah dan mendorong praktik industri yang lebih berkelanjutan.
Disisi lain, pemberdayaan masyarakat pesisir perlu menjadi bagian dari strategi pengembangan industri perikanan. Melalui program kuliah kerja nyata (KKN) dan pengabdian kepada masyarakat, mahasiswa dapat merancang model koperasi modern atau usaha rintisan lokal yang menghubungkan nelayan secara langsung dengan pembeli dan industri pengolahan.
“Model tersebut diharapkan memperluas akses pasar, memperkuat posisi tawar nelayan kecil, serta menciptakan rantai perdagangan yang lebih efisien dan transparan,” tandas mantan anggota DPRD Maluku itu.
Dari Kekayaan Laut Menuju Kesejahteraan
Bagi politisi PKS itu, perguruan tinggi memiliki peran penting dalam melahirkan generasi yang tidak hanya memahami potensi sumber daya laut, tetapi juga mampu menciptakan inovasi dan solusi untuk mengembangkannya.
Mahasiswa sebagai calon pemimpin dan penerus estafet pembangunan perlu didorong untuk berpikir melampaui pola ekonomi yang hanya mengandalkan penjualan bahan mentah. Pengetahuan, teknologi, kreativitas, dan kewirausahaan harus menjadi bagian dari upaya membangun industri perikanan yang kuat di daerah penghasil ikan.
“Intinya, Maluku perlu menggeser cara pandang dari sekadar daerah yang kaya ikan menjadi daerah yang mampu mengolah kekayaan lautnya menjadi sumber kemakmuran,” tukasnya.
Melalui diskusi akademis tersebut, diharapkan lahir gagasan dan solusi nyata yang dapat diterapkan untuk memperkuat industri perikanan, membuka peluang usaha, meningkatkan nilai tambah produk lokal, serta memperbaiki kesejahteraan masyarakat pesisir. “Laut Maluku kaya, masyarakatnya harus sejahtera,” pungkas Saadiah. (NS)





