
AMBON,Nunusaku.id,- Bentrokan antar warga yang terjadi di kawasan pertigaan Air Besar, Negeri Batu Merah, Kota Ambon, Kamis (28/3/24) dini hari lalu harus dibubarkan paksa kepolisian dengan tembakan gas airmata.
Aparat kepolisian harus lepaskan tembakan gas air mata untuk bubarkan kedua belah pihak bertikai karena terlihat sangat brutal. Belakangan, baru diketahui gas air mata yang dilepas asapnya juga membawa dampak ke anak balita di sekitar kejadian.
Kabid Humas Polda Maluku, Kombes Pol M. Rum Ohoirat menjelaskan, tembakan gas air mata di daerah pemukiman warga sudah diperhitungkan secara matang sesuai SOP yang telah ditetapkan. Aparat juga sudah menghitung-hitung dampak yang akan terjadi.
Namun, lanjut dia, tembakan gas air mata terpaksa dilepas untuk mencegah dampak lebih besar terjadi, seperti korban jiwa, atau kerugian materi seperti pembakaran rumah masyarakat di lokasi bentrok tersebut.
“Jadi sebelum gas air mata dilepas, itu sudah diperhitungkan secara matang dan sesuai prosedur. Apalagi di waktu malam hari. Tujuannya untuk mencegah dampak lebih besar terjadi, sepertinya jatuhnya korban dan pembakaran rumah warga,” ungkap Kombes Rum di Ambon, Sabtu (30/3/24).
Diketahui, bentrokan terjadi antara kelompok warga di kawasan RT 05 dengan RT 06/RW 017. Perkara ini berawal dari aksi saling pukul sarung antar anak remaja hingga meluas menjadi baku lempar batu antara warga.
Kejadian ini kali kedua. Padahal Polri melalui Bhabinkamtibmas telah berulang kali lakukan kegiatan pendekatan warga agar ikut menjaga anak-anaknya agar tidak berkeliaran dan berbuat hal-hal negatif apalagi kejadian itu mendekati jam sahur di bulan Ramadhan.
Aparat Polresta Pulau Ambon dan Pulau-pulau Lease yang mendapat informasi bentrok kemudian mendatangi Tempat Kejadia Perkara (TKP) sekira pukul 02.00 WIT dan melakukan himbauan serta upaya pembubaran massa.
Namun kedua pihak tidak mematuhi perintah aparat keamanan tersebut bahkan cenderung semakin brutal dan membahayakan keselamatan umum.
Lebih lanjut kata Kombes Rum, aparat terpaksa melepaskan gas air mata setelah semua langkah pencegahan, komunikasi dan penghalauan massa yang telah dilakukan namun masih tetap tidak bisa dikendalikan.
Olehnya itu, demi keselamatan umum dan tidak terjadinya jatuh korban jiwa atau kerugian materi masyarakat dan meluasnya bentrok tersebut, Polri terpaksa harus gunakan gas air mata untuk membubarkan massa yang bentrok.
“Saat disuruh bubar, masa kedua pihak tidak hiraukan. Mereka masih terus saling serang dengan batu hingga senjata tajam. Akhirnya aparat terpaksa melepas tembakan gas air mata. Dan bila ada yang kena dampak, bidang kesehatan Polri akan melakukan penanganan dan perawatan sesuai protap dan aturan yang berlaku,” jelasnya.
Upaya aparat dengan melepaskan tembakan gas air mata berhasil. Kedua belah pihak pun membubarkan diri. Bentrokan dapat diredam.
Menurutnya, ini memang pilihan sulit tapi harus dilakukan untuk membubarkan massa. Bila tidak diambil langkah tegas, nanti ada korban jiwa atau kerugian materi masyarakat , Polri disalahkan kembali karena tidak cepat mengambil langkah tegas kendalikan tawuran antar warga tersebut.
“Belakang baru diketahui, kalau ada seorang anak balita yang juga ikut terdampak asap gas air mata,” ungkapnya.
Pasca kejadian, Kapolresta Ambon, Kombes Pol Driyano Ibrahim juga sudah menemui keluarga korban.
“Kapolresta juga sudah mendatangi keluarga bayi yang terdampak dan menyampaikan permohonan maaf serta Polri pasti akan memberi perawatan kesehatan masyarakat yang terdampak akibat kejadian itu,” jelasnya.
Korban terdampak gas air mata lanjutnya, sudah mendapatkan pengecekan medis oleh tim kedokteran Polda Maluku. “Saat ini kondisi balita yang tersampak sudah semakin membaik,” ungkapnya.
Selain bertemu orang tua korban, aparat Polresta Ambon juga sudah pertemuan kedua pihak bertikai dan menghimbau untuk semua menjaga kesucian bulan Ramadhan.
Pihaknya kata Rum, berharap tidak terjadi lagi tawuran antar warga dan memastikan akan memproses hukum kepada pelaku yang nanti ditangkap karena kejadian tersebut terulang lagi.
“Kami menghimbau warga agar punya kesadaran menjaga remaja dan pemudanya agar tidak lakukan tawuran dan menjaga kerukunan di wilayahnya. Karena dampaknya bukan saja ke pihak bertikai tapi seluruh masyarakat di wilayah itu,” pintanya. (NS)





