
AMBON,Nunusaku.id,- Wakil Ketua DPRD Maluku, Fauzan Rahawarin bersama Wakil ketua komisi II DPRD, John Laipeny dan anggota DPRD Maluku, Rovik Afifuddin menerima aspirasi aliansi pemuda dan mahasiswa Wetar di ruang rapat komisi II, Kamis (25/9).
Mereka menuntut DPRD untuk mendesak dinas Lingkungan Hidup (DLH), dinas ESDM dan Dinas Perikanan Provinsi Maluku melakukan investigasi terhadap kondisi tongkang milik PT Batu Tua Tembaga Raya (BTR) yang patah dan diduga mencemari lingkungan sekitar.
Usai dialog, Wakil ketua Komisi II DPRD Maluku, Jhon Laipeny tegas mendukung penuh aspirasi para pemuda dan mahasiswa Wetar yang prihatin dengan daerah asalnya, karena keberadaan PT Batu Tua dirasa tidak ada manfaatnya.
Hal ini sejalan pula dengan semangat yang sama sebagai wakil rakyat dapil KKT-MBD. Sebab memang faktanya kondisi Wetar saat ini sedang tidak baik-baik saja ditengah operasinya PT BTR hingga insiden patahnya Tongkang yang akan mengangkut material ke Morowali.
“Sampai sekarang Tongkang itu patah di pinggir laut dekat dermaga, dibiarkan oleh perusahaan. Tidak ada inisiatif untuk menarik dan pindahkan dia. Lalu mereka juga mau bangun dermaga yang baru. Jangan sampai timbul masalah lagi jika tanpa kajian,” tandas Laipeny.
Karena itu, memungkinkan nantinya rekomendasi moratorium atau penghentian sementara operasional PT BTR di Wetar dari Komisi bisa saja terjadi seperti masalah kapal-kapal ikan terbang di Seira Kepulauan Tanimbar, jika asas kemanfaatan dan dampak langsung tidak dirasakan daerah dan masyarakat, tapi malah sebaliknya.
“Besok kita agendakan panggil para pihak terkait masalah di Wetar. Jangan sampai itu juga keluar (rekomendasi moratorium-red). Karena kajian dari intelektual MBD terhadap kasus disana juga sudah keluar dan mereka minta kita RDP. Ini kalau kita gabung, bisa menguatkan alasan kita soal PT Batu Tua,” jelasnya.
Selain itu, Laipeny juga menyinggung soal PT Batu Tua yang minim perhatian anak Wetar dan MBD prioritas bekerja. Sebagian besar pekerja di perusahaan didatangkan dari Kupang. Anak daerah tak sampai 20-an yang bekerja di PT Batu Tua.
Demikian pula di sektor pendidikan, wacana membangun sekolah di Wetar oleh PT Batu Tua tak seperti janji perusahaan. Sebab hanya dibangun satu ruangan kelas untuk TK, demikian pula di sektor kesehatan.
“Jadi selama ini yang mereka (PT BTR) promosi, publikasi itu semua hanya kamuflase, pencitraan. Tidak sesuai fakta yang terjadi di lapangan yang dirasakan manfaatnya,” tandas politisi Gerindra itu.
Menurutnya, investasi oleh PT BTR yang berjalan selama ini sama sekali tidak dirasa manfaat atau menguntungkan masyarakat Wetar secara keseluruhan. Manfaat itu hanya untuk perusahaan dan dua desa saja, Kurap dan Lurang.
“Hasil RDP pemuda Wetar dan Pemda MBD beberapa Minggu lalu, terungkap angka 62 Miliar yang dibilang merupakan knontribusi PAD dari PT BTR. Itu banyak dan mesti berbanding lurus dengan kesejahteraan masyarakat Wetar, tapi faktanya berbeda,” tegas Laipeny (NS)






