
AMBON,NUNUSAKU.ID,— Pagi tadi, sebanyak 240 calon aparatur sipil negara (ASN) Pemerintah Kota Ambon memasuki sebuah tahapan penting dalam perjalanan pengabdian mereka. Bukan sekadar mengikuti pelatihan, tetapi mulai ditempa untuk memahami arti menjadi seorang pelayan masyarakat.
Mereka merupakan peserta Pelatihan Dasar (Latsar) Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) Angkatan 21–25 dan Golongan Angkatan 12 di lingkungan Pemerintah Kota Ambon tahun 2026.
Upacara pembukaan Latsar menjadi momentum bagi Wakil Walikota Ambon, Ely Toisuta, untuk menitipkan sebuah pesan penting kepada para peserta: menjadi ASN bukan hanya tentang status kepegawaian, tetapi tentang tanggungjawab, integritas, dan keberanian untuk mengabdikan diri kepada masyarakat.
Menurutnya, keberadaan para peserta di ruang pelatihan bukanlah sebuah kebetulan. Mereka telah melewati proses seleksi yang ketat hingga akhirnya mendapatkan kesempatan menjadi bagian dari aparatur sipil negara.
Namun, perjalanan sesungguhnya justru baru dimulai. Ely menggambarkan Latsar sebagai “kawah candradimuka”, tempat para CPNS dibentuk dan dipersiapkan agar memiliki integritas, disiplin, kompetensi, serta karakter yang kuat sebagai pelayan masyarakat.
Sebab, birokrasi hari ini menghadapi tantangan yang jauh berbeda dibandingkan sebelumnya. Perubahan teknologi, tuntutan masyarakat yang semakin tinggi, serta kebutuhan akan pelayanan publik yang cepat dan transparan menuntut ASN untuk tidak lagi bekerja dengan cara-cara lama.
“Saudara dituntut bertransformasi menjadi birokrat yang lincah, adaptif, dan berorientasi hasil,” tegasnya.
Ditengah perubahan tersebut, Ely mengingatkan para peserta agar menjadikan nilai dasar ASN BerAKHLAK sebagai kompas dalam menjalankan tugas.
Nilai berorientasi pelayanan, kata dia, harus diwujudkan melalui kesediaan memahami dan menjawab kebutuhan masyarakat dengan cepat, tepat dan penuh ketulusan.
Sementara akuntabilitas harus menjadi landasan dalam bekerja dengan kejujuran, tanggungjawab, kecermatan, kedisiplinan dan integritas.
Para CPNS juga diminta terus tingkatkan kompetensi, membangun hubungan kerja yang harmonis, menjaga loyalitas kepada bangsa dan negara, serta mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi dan inovasi pelayanan publik.
“Tidak kalah penting, mereka harus mampu membangun kolaborasi. Birokrasi tidak dapat bekerja sendiri. Persoalan masyarakat semakin kompleks sehingga butuhkan kerja bersama lintas sektor dan lintas perangkat daerah,” ingatnya.
Namun, ada satu hal yang juga menjadi perhatian khusus dalam pesannya, jiwa bela negara.
Menurut Ely, bagi ASN, bela negara tidak selalu berarti mengangkat senjata. Dalam kehidupan birokrasi, bela negara dapat diwujudkan melalui kedisiplinan, profesionalisme, menjaga persatuan, menolak praktik korupsi, kolusi dan nepotisme, serta memberikan pelayanan kepada masyarakat tanpa diskriminasi.
Terlebih Kota Ambon merupakan ruang hidup masyarakat yang plural dengan beragam latar belakang. Karena itu, menjaga kedamaian dan kebersamaan bagian penting dari pengabdian seorang ASN.
“Kesadaran untuk menjaga persatuan dan keutuhan bangsa, khususnya merawat kedamaian dan kebersamaan di Kota Ambon Manise yang kita cintai,” pesan Ely.
Rangkaian Latsar itu bukan hanya berlangsung di dalam ruang kelas.
Berdasarkan ketentuan kurikulum Latsar CPNS, proses pembelajaran dilaksanakan dengan metode blended learning, yang memadukan pembelajaran daring dan luring.
Peserta mengikuti pembelajaran mandiri melalui Massive Open Online Course (MOOC), pembelajaran melalui LMS Manise Corpu BPSDM Provinsi Maluku dan Zoom Meeting, aktualisasi di unit kerja masing-masing, hingga pembelajaran klasikal.
Untuk pembelajaran klasikal, peserta mengikuti kegiatan tatap muka pada 15–21 September 2026 di BPSDM Provinsi Maluku selama 62 jam pelajaran.
Dari total 240 peserta, sebanyak 200 orang berasal dari golongan I dan 40 orang golongan II. Peserta terdiri atas 153 perempuan dan 87 laki-laki.
Bagi Ely, waktu satu pekan tersebut harus dimanfaatkan sebaik mungkin, Ia meminta para peserta tidak sekadar hadir untuk memenuhi kewajiban pelatihan, tetapi benar-benar menyerap setiap ilmu, pengalaman, dan nilai yang diberikan oleh para widyaiswara maupun pelatih.
“Manfaatkan waktu yang singkat namun sangat berharga ini sebaik-baiknya. Serap ilmu sebanyak-banyaknya, bangun jejaring dan kekompakan sesama peserta, jaga kesehatan, serta tunjukkan sikap dan perilaku teladan,” pesannya.
Sebab, menurut Wawali, para CPNS yang kini duduk sebagai peserta pelatihan merupakan bagian dari wajah masa depan birokrasi Pemerintah Kota Ambon.
Di hadapan para peserta, Ely juga memberi perhatian kepada para mentor, pelatih dan panitia yang akan mendampingi proses Latsar.
Ia menitipkan para CPNS tersebut untuk dibimbing, dididik dan dibentuk menjadi kader birokrasi yang tidak hanya memiliki kemampuan teknis, tetapi juga memiliki moral dan karakter pengabdian.
Pesan itu sekaligus menjadi pengingat bahwa keberhasilan Latsar tidak berhenti pada kelulusan peserta. Yang jauh lebih penting adalah apa yang mereka bawa pulang setelah pelatihan berakhir.
Dari ruang pelatihan itulah, Pemkot Ambon berharap lahir generasi birokrasi baru yang mampu bekerja dengan hati, bergerak mengikuti perubahan, berani menolak penyimpangan, dan tetap menempatkan kepentingan masyarakat sebagai tujuan utama.
Sebab pada akhirnya, ukuran keberhasilan seorang ASN bukan hanya terletak pada jabatan yang disandang, tetapi tentang seberapa besar kehadirannya mampu memberi manfaat bagi masyarakat yang dilayani. (NS-02)






