LGJI Amboina Dipersoalkan: Kritik Boleh, Menuduh Harus Berbukti
IMG-20260909-WA0002

AMBON,NUNUSAKU.ID,- Polemik yang mengemuka setelah pelaksanaan Lomba Gerak Jalan Indah (LGJI) Amboina 2026 seharusnya tidak berhenti pada perdebatan siapa yang layak menjadi juara.

Lebih jauh dari itu, publik perlu mempertanyakan satu hal yang jauh lebih penting: apakah proses penilaian dan penetapan juara telah berjalan sesuai aturan dan dapat dipertanggungjawabkan?.

Pertanyaan ini penting karena ditengah kontroversi yang berkembang, muncul tudingan mengenai adanya keuntungan sepihak hingga dugaan bahwa pemenang telah ditentukan sebelum perlombaan berakhir.

Tudingan semacam itu tentu tidak boleh dianggap sepele. Namun, pada saat yang sama, tudingan serius juga membutuhkan bukti yang serius.

Jangan sampai dugaan berubah menjadi kesimpulan, sementara fakta yang menjadi dasar kesimpulan tersebut tidak pernah dibuka kepada publik.

Kritik terhadap penyelenggaraan LGJI merupakan bagian dari kontrol publik. Peserta yang merasa dirugikan berhak mempertanyakan hasil. Media juga memiliki kewenangan untuk mengkritisi proses penyelenggaraan.

Tetapi ada garis yang harus dijaga.

Mempertanyakan hasil adalah hak. Menuduh adanya kecurangan adalah perkara lain yang membutuhkan bukti.

Jika benar terjadi permainan, publik berhak mengetahui siapa yang bermain.

Jika benar ada intervensi terhadap dewan juri, harus jelas siapa yang melakukan intervensi dan bagaimana hal tersebut dilakukan.

Jika benar terjadi perubahan nilai, data penilaian semestinya dapat menunjukkan perubahan tersebut.

Dan jika benar ada aturan yang dilanggar, aturan mana yang dilanggar juga harus dapat ditunjukkan secara terang.

Tanpa itu semua, tudingan berisiko berhenti sebagai persepsi.

Jangan Ukur Penilaian Juri Hanya dari Sorakan Penonton

Dalam perlombaan yang mengedepankan kreativitas, gerakan, kekompakan dan berbagai unsur penilaian lainnya, sangat mungkin terjadi perbedaan antara penilaian publik dan dewan juri.

Penonton dapat melihat sebuah barisan tampil lebih atraktif, lebih kreatif atau lebih menghibur. Namun, penonton belum tentu mengetahui seluruh indikator yang digunakan juri dalam memberikan nilai.

Karena itu, ketika pilihan juri berbeda dengan pilihan mayoritas penonton, perbedaan tersebut belum otomatis menjadi bukti adanya permainan.

Justru disinilah pentingnya transparansi.

Rubrik penilaian harus jelas. Indikator penilaian harus diketahui. Mekanisme penjurian harus dapat dipahami. Dan jika diperlukan, hasil penilaian harus dapat dijelaskan kepada peserta maupun publik.

Sebab, yang harus dibangun bukan hanya legitimasi terhadap pemenang, tetapi juga kepercayaan terhadap proses yang melahirkan pemenang.

Panitia Jangan Antikritik, Publik Jangan Gegabah

Panitia LGJI juga tidak seharusnya bersikap defensif terhadap kritik.

Ketika muncul pertanyaan dari peserta dan masyarakat, penjelasan yang terbuka justru menjadi cara paling sederhana untuk meredakan kecurigaan.

Jika proses sudah berjalan sesuai ketentuan, jelaskan.

Jika mekanisme penilaian sudah ditetapkan sejak awal, buka penjelasannya.

Jika dewan juri bekerja secara independen, sampaikan mekanismenya.

Transparansi bukan tanda kelemahan panitia.

Sebaliknya, transparansi merupakan bentuk tanggung jawab kepada peserta dan masyarakat.

Namun, transparansi juga harus berjalan beriringan dengan sikap kritis publik yang bertanggung jawab.

Jangan sampai karena kecewa terhadap hasil, maka seluruh proses langsung dianggap bermasalah.

Jangan pula karena sebuah tim tampil lebih menarik menurut penonton, kemudian kesimpulan dibuat bahwa tim tersebut seharusnya menjadi juara.

Perasaan boleh kecewa. Kritik boleh keras. Tetapi kesimpulan harus tetap tunduk pada fakta.

LGJI Jangan Kehilangan Makna

Sebabai tradisi yang sudah menjadi daya tarik Ambon untuk sektor pariwisata dan ekonomi, LGJI bukan sekadar perebutan piala.

Dibalik barisan peserta, ada anak-anak muda yang berlatih berhari-hari, mengeluarkan tenaga, waktu dan biaya. Ada semangat kebersamaan, kreativitas, disiplin dan kebanggaan sebagai bagian dari masyarakat Kota Ambon.

Karena itu, sangat disayangkan apabila setelah perlombaan selesai, seluruh energi justru terkuras dalam perang opini, saling curiga dan saling menyerang.

Polemik semestinya menjadi momentum untuk memperbaiki penyelenggaraan LGJI, bukan menghancurkan kepercayaan terhadap kegiatan itu sendiri.

Kedepan, panitia dapat memperkuat sejumlah hal: memperjelas indikator penilaian sejak awal, memastikan independensi dewan juri, menyediakan mekanisme keberatan bagi peserta, serta mendokumentasikan hasil penilaian secara lebih transparan.

Dengan mekanisme yang semakin terbuka, ruang bagi kecurigaan akan semakin kecil.

Pada akhirnya, persoalan LGJI Amboina bukan semata-mata tentang siapa yang mendapat piala.

Persoalannya adalah apakah seluruh peserta merasa telah diperlakukan secara adil dan apakah masyarakat dapat mempercayai proses yang menghasilkan keputusan tersebut.

LGJI boleh dikritik.

Panitia boleh dievaluasi.

Dewan juri boleh dimintai penjelasan.

Tetapi jangan sampai kritik berubah menjadi vonis tanpa bukti.

Jika ada kecurangan, bongkar dengan data. Jika ada pelanggaran, tunjukkan aturannya. Jika ada intervensi, ungkap faktanya.

Namun, jika yang ada baru sebatas dugaan karena hasil perlombaan tidak sesuai harapan, maka jangan buru-buru mengubah dugaan menjadi kebenaran.

Sebab, dalam sebuah perlombaan, yang seharusnya menjadi pemenang bukan hanya barisan yang membawa pulang piala.

Yang jauh lebih penting untuk dimenangkan adalah sportivitas, kejujuran, keadilan dan rasa persaudaraan orang basudara. (Jancy Latuperissa, Ketua PHBG Jemaat GPM Silo).

Views: 30
Facebook
WhatsApp
Email