Khatib Sholat Id di Ambon, Kapolda Serukan Jaga Persaudaraan & Kedamaian di Bumi Raja-Raja
IMG-20260322-WA0002

AMBON,Nunusaku.id,- Kapolda Maluku Irjen Pol. Dadang Hartanto menjadi Khatib dalam Sholat Idul Fitri 1 Syawal 1447 H/2026 M yang berlangsung di Lapangan Merdeka Kota Ambon, Sabtu (21/3/26) pagi.

Pelaksanaan Sholat Idul Fitri dipimpin Imam Masjid Raya Alfatah Hadi Basalamah dan diikuti ribuan jamaah yang memadati Lapangan Merdeka dalam suasana penuh kekhusyukan dan kebersamaan.

Turut hadir dalam kegiatan tersebut Gubernur Maluku, Pangdam XV/Pattimura, Kabinda Maluku, Sekretaris Daerah, Kakanwil Kementerian Agama Maluku, Ketua Bhayangkari Daerah Maluku, Ketua MUI Maluku, Ketua Yayasan Al-Fatah Ambon, serta Walikota Ambon.

Selain itu, hadir pula para pejabat utama gabungan TNI-Polri, pimpinan OPD lingkup Provinsi Maluku, Kapolresta Ambon dan P.P. Lease beserta jajaran, Sekretaris Kota Ambon, serta tokoh agama, tokoh masyarakat, tokoh pemuda, dan masyarakat umum yang turut merayakan hari kemenangan dengan penuh suka cita.

Dalam khutbah Idul Fitri yang disampaikannya, Kapolda mengajak seluruh jamaah untuk merenungkan makna berakhirnya bulan suci Ramadan.

Ia menegaskan, Ramadan bukan sekadar rutinitas ibadah tahunan, melainkan sebuah proses pendidikan spiritual (madrasah kehidupan) yang membentuk karakter manusia menjadi lebih baik.

Kapolda mengutip pandangan para ulama terdahulu yang tidak hanya bergembira menyambut Ramadan, tetapi juga merasa sedih ketika bulan suci tersebut berlalu.

“Para ulama saat berdoa selama enam bulan agar dipertemukan dengan Ramadan, dan enam bulan berikutnya mereka berdoa agar amal-amalnya diterima Allah SWT. Ini menunjukkan betapa agungnya Ramadan dalam kehidupan seorang mukmin,” ungkap Kapolda.

Ia menekankan, Ramadan mengajarkan umat Islam untuk menahan diri, tidak hanya dari lapar dan dahaga, tetapi juga dari amarah, hawa nafsu, dan ego pribadi.

Menurutnya, kekuatan sejati seseorang bukan terletak pada kekuatan fisik, melainkan pada kemampuan mengendalikan diri.

“Orang yang kuat bukanlah yang menang dalam pertarungan, tetapi mereka yang mampu mengendalikan dirinya ketika marah. Inilah kekuatan sejati yang melahirkan kedamaian,” tegasnya.

Kapolda mengaku, Idul Fitri jadi momentum kembali kepada fitrah, yakni kesucian diri setelah menjalani proses pembinaan selama Ramadan. Ia mengibaratkan Ramadan sebagai proses pendidikan, sementara Idul Fitri adalah hari kelulusan.

Namun demikian, ia mengingatkan kelulusan tersebut harus diwujudkan dalam perubahan nyata dalam kehidupan sehari-hari.

“Ibadah Ramadan seharusnya melahirkan pribadi yang lebih lembut hatinya, lebih tenang sikapnya, dan lebih luas kasih sayangnya kepada sesama,” ujarnya.

Kapolda juga menekankan pentingnya tradisi “saling memaafkan” sebagai bagian dari ajaran Islam yang luhur, sekaligus sebagai sarana mempererat hubungan sosial.

Menurutnya, memaafkan merupakan akhlak mulia yang mencerminkan kemampuan seseorang dalam mengendalikan ego demi menjaga persaudaraan.

Dalam khutbahnya, Kapolda turut menyoroti pentingnya menjaga persaudaraan, terutama ditengah keberagaman masyarakat Maluku. Ia mengangkat nilai kearifan lokal “hidup orang basudara” sebagai fondasi utama kehidupan sosial di daerah ini.

Ungkapan seperti “potong di kuku rasa di daging, ale rasa beta rasa, sagu salempeng dibagi dua” disebut sebagai cerminan nilai empati, kebersamaan, dan solidaritas yang telah diwariskan oleh para leluhur.

“Nilai ini sejalan dengan ajaran Islam, bahwa seseorang tidak sempurna imannya hingga ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri,” jelas Kapolda.

Ia menegaskan, perbedaan suku, agama, dan latar belakang bukanlah alasan untuk terpecah, melainkan merupakan kehendak Allah SWT agar manusia saling mengenal dan memahami.

Kapolda juga mengingatkan, keamanan dan ketenteraman merupakan nikmat besar yang sering kali terlupakan. Tanpa rasa aman, masyarakat tidak dapat menjalankan aktivitas dengan baik, termasuk dalam beribadah.

Ia mengutip hadis Rasulullah SAW yang menyebutkan bahwa seseorang yang merasa aman, sehat, dan tercukupi kebutuhannya, seakan telah memiliki dunia seisinya.

“Menjaga keamanan bukan hanya tugas aparat, tetapi tanggungjawab seluruh elemen masyarakat. Setiap ucapan dan tindakan kita memiliki dampak terhadap ketenteraman bersama,” tegasnya.

Kapolda mengajak seluruh masyarakat untuk bijak dalam bersikap, termasuk dalam menyikapi informasi, serta tidak mudah terprovokasi oleh hal-hal yang dapat memecah belah persatuan.

Lebih lanjut, Jenderal Bintang Dua itu menegaskan, perbedaan dan dinamika sosial hal yang tidak dapat dihindari dalam kehidupan bermasyarakat. Namun, yang terpenting bagaimana menyikapinya dengan bijak.

“Islam mengajarkan bahwa perdamaian itu lebih baik. Idul Fitri adalah momentum untuk membersihkan hati, memperbaiki hubungan, dan membuka pintu perdamaian,” ujarnya.

Ia mengajak seluruh jamaah untuk jadikan Idul Fitri sebagai titik awal membangun kehidupan yang lebih harmonis, dengan mengedepankan nilai kasih sayang, toleransi, dan persaudaraan.

Mengakhiri khutbahnya, Kapolda memimpin doa bersama, memohon kepada Allah SWT agar seluruh umat diberikan keberkahan, keselamatan, serta kehidupan yang damai dan harmonis.

Ia juga mendoakan agar Maluku senantiasa menjadi daerah yang aman, tenteram, dan penuh keberkahan, serta dijauhkan dari konflik dan perpecahan.

“Ya Allah, satukan hati kami, perbaiki hubungan diantara kami, dan jadikan negeri kami negeri yang aman, tenteram, dan penuh keberkahan,” tutupnya.

Melalui momentum Idul Fitri ini, Polda Maluku menegaskan komitmennya untuk terus hadir ditengah masyarakat, tidak hanya dalam menjaga keamanan dan ketertiban, tetapi juga dalam memperkuat nilai-nilai kemanusiaan, persaudaraan, dan kedamaian di Bumi Raja-Raja. (NS)

Views: 0
Facebook
WhatsApp
Email