
JAKARTA,Nunusaku.id,– Ditengah dinamika industri perbankan nasional yang menghadapi berbagai tantangan, pertumbuhan keuangan luar biasa pada tahun buku 2025 justru ditorehkan Bank Maluku-Maluku Utara (Malut).
Berdasarkan laporan keuangan yang disampaikan Direktur Utama (Dirut) Syahrisal Imbar di depan pemegang saham pengendali dan para pemegang saham, kinerja Bank Maluku-Malut menunjukkan perkembangan signifikan dibandingkan dua tahun sebelumnya.
Dimana Aset mencapai Rp 10,552 Triliun, tumbuh 19,84 persen tahun demi tahun (y.o.y) dari Rp 8,848 triliun pada tahun 2024.
Dana Pihak Ketiga (DPK): Tercatat Rp 6,849 Triliun, naik 18,58 persen dari Rp 5,776 triliun tahun sebelumnya.
– Kredit yang Diberikan: Mencapai Rp 6,067 Triliun dengan pertumbuhan 10,10 persen dari Rp 5,511 triliun pada 2024.
– Pendapatan Operasional: Mencapai Rp 1,190 triliun atau tumbuh 20,16 persen dari Rp 990 milyar tahun sebelumnya.
– Laba Kotor: Tercatat Rp 236 Miliar (naik 9,42 persen dari Rp 216 Miliar tahun 2024) dan laba bersih mencapai Rp181 miliar.
Dari sisi kesehatan bank, seluruh indikator juga berada di atas standar regulator:
– Capital Adequacy Ratio (CAR) sebesar 31,71 persen; Return on Assets (ROA) sebesar 2,65 persen; Net Interest Margin (NIM) sebesar 7,80 persen; BOPO sebesar 75,09 persen; NPL nett terjaga di angka 1,20 persen; LDR sebesar 88,59 persen, serta komposisi dana murah (CASA) sebesar 51,34 persen.
Capaian ini disampaikan Syahrial dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) Tahunan yang berlangsung di Hotel GiiA Maluku Jakarta, Senin (23/2).
Hadir dalam RUPS, Gubernur Maluku Hendrik Lewerissa, Wakil Gubernur (Wagub) Maluku Utara Sarbin Sehe mewakili Gubernur Sherly Laos dan perwakilan Bank DKI Jakarta sebagai pemegang saham pengendali, serta Bupati/Walikota dari seluruh wilayah Maluku dan Maluku Utara.
Plt Komisaris Utama, Ichwan dan Komisaris Bank Maluku-Malut, Maichel Papilaya turut mengikuti RUPS yang berlangsung kurang lebih dua jam itu.
Setelah dipaparkan, laporan pertanggung jawaban keuangan ini mendapatkan persetujuan bulat dari seluruh pemegang saham yang hadir.
Sebagai pemegang saham pengendali, Gubernur Hendrik Lewerissa (HL) memberikan apresiasi terhadap capaian yang diraih Bank Maluku-Malut.
“Dari sisi fundamental, Bank Maluku-Malut berhasil tumbuh positif. Jika bank ini mampu memberi performance terbaik ditengah kondisi ekonomi nasional dan dunia yang tidak pasti, ini sesuatu yang harus kita apresiasi kepada jajaran komisaris, direksi, dan pegawai,” ujarnya kepada wartawan usai RUPS.
Lewerissa menjelaskan, peningkatan semua indikator fundamental keuangan menjadi bukti pengelolaan yang dilakukan telah berjalan optimal dan memberikan kontribusi nyata bagi perkembangan perbankan daerah.

Tantiem Karyawan Naik 1,8 Persen, Deviden Dibagikan
Selain penetapan laporan keuangan, dalam RUPS juga diambil keputusan terkait jasa produksi atau tantiem, dimana terjadi peningkatan bagi para karyawan sebesar 1,8 persen.
Hal itu sebagai bentuk apresiasi pemegang saham atas kinerja positif yang ditunjukkan dan agar memacu peningkatan kinerja lebih baik. Sedangkan Komisaris turun namun tidak signifikan.
“Bonus atau tantiem tambahan bagi karyawan tidak mengurangi hak pemegang saham atas dividen yang telah ditetapkan, hanya mengurangi cadangan saja. Ini adalah langkah yang sehat,” jelas Lewerissa.
Selain itu, RUPS juga tetapkan pembagian deviden kepada para pemegang saham dengan besaran yang disesuaikan dengan kepemilikan saham masing-masing.
Gubernur HL berharap tahun 2026 ini, kinerja Bank Maluku-Malut dapat terus meningkat agar dapat memberi kontribusi lebih besar bagi pembangunan daerah Maluku dan Maluku Utara.
Sementara itu, Dirut Bank Maluku-Malut, Syahrial Imbar menyebutkan, capain pertumbuhan kredit dan aset Bank Maluku-Malut tercatat berada diatas angka nasional.
“Good newsnya adalah komposisi dana murah bank Maluku-Malut yaitu tabungan dan giro lebih besar dari deposito. Dana murah 51,34 persen. Kemudian laba sebelum pajak Rp 236,970 Miliar atau tumbuh sebesar 9,42 persen dibanding laba kotor tahun lalu,” tandas Imbar.
“Kalau laba bersih kita Rp 181,404 Miliar atau meningkat 22,53 persen dibanding laba tahun lalu. Ini jauh diatas laba perbankan nasional yang berada dibawah satu digit atau kurang lebih 7 persen,” sambungnya.
Menyoal pembagian laba dalam bentuk deviden, dia menyebut, sesuai ketetapan dalam RUPS bahwa dibagi 75 persen ke para pemegang saham. Yang mana Pemerintah Provinsi Maluku mendapat deviden Rp 47,33 Miliar atau naik 5 Miliar dibanding tahun lalu yang hanya Rp 42 Miliar.
“Demikian pula Pemerintah Kabupaten/Kota dibagi deviden langsung ke kas daerah dengan nilai beragam sesuai jumlah saham. Seperti Kota Ambon dan Kabupaten Seram Bagian Timur (SBT) Rp 7,789 Miliar, Maluku Tenggara (Malra) Rp 7,5 Miliar. Kalau di Malut kecil. Paling tinggi di Halmahera Tengah Rp 4 Miliar karena rajin setor modal,” demikian Imbar. (NS)




