Ketika Luka Diolah Menjadi Cerita, Semesta Raya Sastra 1.0 Hidupkan Kembali Minat Baca-Menulis di Ambon
IMG-20261001-WA0003

AMBON,NUNUSAKU.ID,— Luka, pengalaman pahit dan berbagai persoalan kehidupan ternyata tidak selalu harus menjadi beban. Di tangan seorang penulis, pengalaman itu justru dapat diolah menjadi cerita yang memiliki rasa, makna, sekaligus menjadi ruang penyembuhan.

Pesan tersebut mengemuka dalam diskusi buku cerpen yang digelar Komunitas Timur Menulis melalui “Semesta Raya Sastra 1.0” di Auditorium Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Pattimura, Ambon, Selasa (29/9).

Diskusi yang menjadi puncak rangkaian kegiatan sastra tersebut menghadirkan penulis sekaligus peraih sejumlah penghargaan sastra tingkat nasional, Sasti Gotama, secara daring melalui Zoom.

Sasti hadir untuk berbagi pengalaman dan proses kreatif saat menulis dibalik lahirnya karya buku kumpulan cerpennya, Akhir Sang Gajah di Bukit Kupu-Kupu.

Di hadapan mahasiswa, komunitas literasi, akademisi dan masyarakat umum, Sasti mengungkapkan bahwa menulis bukan sekadar aktivitas menghasilkan karya. Bagi Sasti, menulis juga menjadi sarana untuk mengolah pengalaman dan riset menjadi cerita yang memiliki konteks serta kedalaman makna.

“Salah satu keuntungan menjadi penulis adalah kemampuan untuk mengolah pengalaman dan hasil riset menjadi cerita yang memiliki konteks dan kedalaman makna. Menulis bagi saya adalah sarana katarsis. Ketika pengalaman dan kemalangan diolah menjadi fiksi, maka cerita tersebut dapat menjadi media penyembuh bagi penulis maupun pembaca,” kata Sasti.

Ia juga melihat sastra sebagai medium untuk membangun empati. Melalui cerita pendek, persoalan tentang kebenaran, keadilan hingga keputusan manusia terhadap tindakan orang lain dapat dipertanyakan dan direnungkan bersama.

“Sastra menjadi cara untuk membangun empati. Lewat cerpen, saya ingin mempertanyakan persoalan kebenaran, keadilan, serta bagaimana manusia mengambil keputusan terhadap tindakan orang lain,” ujarnya.

Pesan tersebut mendapat respons dari peserta. Salah satunya, Intan Rizta, yang mengaku memperoleh pengalaman berbeda karena dapat mendengarkan langsung penjelasan sang penulis mengenai karya yang dibahas.

“Ini sangat luar biasa karena katong bisa langsung mendengarkan dari Kak Sasti Gotama tentang buku yang beliau tulis. Dan, makna yang Intan ambil, kebanyakan Kak Sasti menceritakan tentang perempuan,” tuturnya.

Bagi Intan, diskusi tersebut sekaligus menjawab kegelisahan yang selama ini muncul dalam dirinya terkait proses menulis. Ia menyadari bahwa persoalan, kepedihan maupun luka yang dialami seseorang tidak harus menjadi alasan untuk berhenti berkarya.

Sebaliknya, pengalaman tersebut dapat menjadi sumber emosi dan rasa yang membuat sebuah tulisan lebih hidup dan memiliki nilai bagi pembaca.

Kegiatan yang merupakan bagian dari Program Penguatan Komunitas Sastra, Kementerian Kebudayaan, Direktorat Jenderal Pengembangan, Pemanfaatan, dan Pembinaan Kebudayaan itu juga membuka ruang bagi peserta untuk mendapatkan kiat-kiat praktis dalam menulis serta memahami manfaat membaca sastra.

Suasana kegiatan semakin semarak dengan penampilan Achmad Munir Wael melalui pembacaan puisi dan aksi pantomim yang menghibur para peserta.

Tidak hanya berdiskusi, panitia juga membagikan sejumlah buku pilihan hasil karya para pemenang penghargaan sastra tingkat nasional kepada peserta yang hadir.

Melalui Semesta Raya Sastra 1.0, Komunitas Timur Menulis ingin menjadikan sastra sebagai ruang perjumpaan, pembelajaran dan ekspresi bagi generasi muda di Ambon.

Lebih dari sekadar kegiatan literasi, forum tersebut diharapkan mampu menumbuhkan kembali kebiasaan membaca dan keberanian menulis, sekaligus mendorong generasi muda melihat pengalaman hidup sebagai sesuatu yang dapat diolah menjadi karya.

Pada akhirnya, sastra tidak hanya berbicara tentang kata-kata. Ia juga menjadi cara manusia memahami pengalaman, merawat ingatan, membangun empati dan menemukan makna dari kehidupan. (NS)

Views: 16
Facebook
WhatsApp
Email