Keluarga Ragukan Fikran Heluth Bundir, Kuasa Hukum Minta Polisi Ungkap Fakta Secara Ilmiah
0-4064x3048-0-0-{}-0-24#bokehtype:0#;illum:2 scene:0 humanIn:3;

AMBON,NUNUSAKU.ID,— Keluarga Fikran Heluth, warga Desa Luhu, Kecamatan Huamual, Kabupaten Seram Bagian Barat (SBB), Maluku, meragukan kematian Fikran yang ditemukan dalam kondisi tergantung di kawasan Sapalatu, jalan menuju lokasi tambang Gunung Tembaga, Kamis (27/8/2026).

Keluarga melalui kuasa hukum Abdul Safri Tuakia, Rosni Lestaluhu, Umar Tuasikal dan Herman Masry meminta aparat kepolisian tidak terburu-buru menyimpulkan penyebab kematian Fikran sebagai bunuh diri.

Mereka menilai terdapat sejumlah kejanggalan yang perlu diungkap melalui penyelidikan secara menyeluruh, termasuk pemeriksaan saksi, kondisi lokasi kejadian, posisi tubuh korban, tali yang digunakan serta hasil pemeriksaan forensik.

“Menurut keluarga, ada beberapa fakta dan kejanggalan yang perlu diteliti lebih lanjut,” kata Abdul Safri Tuakia kepada wartawan di Ambon, Minggu (13/9).

Terakhir Diantar Tukang Ojek

Abdul menjelaskan, berdasarkan keterangan yang diperoleh keluarga, Fikran terakhir kali diantar seorang tukang ojek bernama Marlon menuju kawasan Sapalatu.

Marlon diketahui merupakan warga Luhu yang sehari-hari bekerja sebagai tukang ojek.

Sekitar pukul 09.30 WIT, Fikran sempat mampir di sebuah kios milik Husnul Hidayah. Di tempat tersebut, Fikran membeli air mineral dan Pop Mie yang kemudian diseduh menggunakan air panas.

Setelah itu, Fikran melanjutkan perjalanan menuju kawasan Gunung Tembaga sambil membawa makanan dan minuman tersebut.

“Dia naik itu membawa Pop Mie dan makanan untuk istrinya. Tujuannya juga ada untuk memperbaiki tempat peristirahatan terakhir kakeknya,” ujar Abdul.

Keluarga Pertanyakan Keberadaan Sejumlah Orang

Keluarga juga mempertanyakan keberadaan sejumlah orang di sekitar jalur yang dilalui Fikran sebelum ditemukan meninggal dunia.

Abdul menyebut, berdasarkan keterangan sejumlah saksi yang diperoleh keluarga, ada orang yang mengaku melihat tiga orang mengikuti Fikran setelah korban membeli Pop Mie.

Selain itu, terdapat keterangan saksi lain yang menyebut melihat beberapa orang berada di sekitar kawasan Sapalatu pada Selasa dan Rabu, sebelum Fikran ditemukan pada Kamis.

Namun, Abdul menegaskan seluruh informasi tersebut masih berupa keterangan yang diperoleh keluarga dan harus diverifikasi oleh penyidik.

“Kami tidak mau mendahului proses penyidikan. Namun nama-nama yang dicurigai dan keterangan saksi sudah kami sampaikan kepada kepolisian agar ditindaklanjuti,” katanya.

Keluarga Ragukan Dugaan Bunuh Diri

Keraguan keluarga semakin kuat karena Fikran disebut tidak memiliki persoalan rumah tangga maupun masalah dengan keluarga besarnya.

Kuasa hukum keluarga lainnya, Rosni Lestaluhu mengatakan, kondisi tersebut membuat keluarga mempertanyakan kemungkinan Fikran sengaja mengakhiri hidupnya.

“Korban tidak memiliki permasalahan baik di rumah tangganya ataupun di keluarga besarnya, sehingga alasan korban mengakhiri hidupnya sendiri sangat diragukan,” ujar Rosni.

Meski demikian, keluarga menyerahkan sepenuhnya pembuktian penyebab kematian kepada proses penyelidikan dan pemeriksaan forensik.

Persoalkan Posisi Tubuh dan Tali

Salah satu hal yang menjadi perhatian keluarga adalah posisi tubuh Fikran ketika ditemukan.

Abdul mempertanyakan apakah kondisi lokasi memungkinkan korban melakukan bunuh diri dengan cara menggantung diri seperti yang diduga sebelumnya.

“Ini yang kami minta diteliti. Apakah benar korban menggantung dirinya sendiri atau ada kemungkinan korban lebih dulu mengalami kekerasan hingga mengakibatkan meninggal dunia lalu kemudian digantung,” katanya.

Menurut Abdul, keluarga mempertanyakan jarak antara kaki korban dengan permukaan tanah yang disebut hanya sekitar satu jengkal.

“Kalau dilihat antara kaki korban yang tergantung dan tanah, itu hanya sejengkal. Dan itu tidak wajar,” ujarnya.

Abdul menegaskan dugaan tersebut belum dapat dipastikan dan harus dibuktikan melalui pemeriksaan ilmiah.

“Kami tetap mendukung kepolisian untuk mengungkap kasus ini secara profesional. Apakah ini bunuh diri atau tindak pidana pembunuhan harus dibuktikan berdasarkan scientific evidence yang dapat dipertanggungjawabkan,” katanya.

Keluarga Soroti Kondisi Tubuh & Pakaian Korban

Rosni juga menyebut keluarga mempertanyakan sejumlah kondisi pada tubuh Fikran ketika ditemukan, termasuk adanya luka pada bagian mata serta pembengkakan pada bagian vital korban.

Menurut dia, kondisi tersebut perlu mendapatkan pemeriksaan medis dan forensik lebih lanjut untuk mengetahui penyebabnya.

Keluarga juga mempertanyakan pakaian yang dikenakan Fikran sebelum meninggalkan rumah.

Berdasarkan keterangan ibu korban, Fikran terakhir kali pergi menggunakan kaus bola berwarna biru. Namun, menurut keluarga, pakaian tersebut tidak ditemukan ketika jenazah ditemukan dan hingga kini masih menjadi pertanyaan.

Minta Polisi Tidak Terburu-buru

Rosni meminta penyidik Polres SBB tidak terburu-buru menarik kesimpulan mengenai penyebab kematian Fikran sebelum seluruh hasil pemeriksaan diperoleh.

Ia juga menyoroti pernyataan awal pihak kepolisian yang menurutnya telah mengarah pada dugaan bunuh diri (Bundir) sebelum hasil pemeriksaan forensik diketahui.

“Saya meminta pihak kepolisian tidak menyampaikan sesuatu yang belum berdasarkan fakta. Kesimpulan mengenai penyebab kematian harus berdasarkan hasil visum, otopsi, dan bukti ilmiah,” tegasnya.

Pihak keluarga, lanjut Rosni, juga telah menyerahkan sejumlah nama serta keterangan saksi yang dinilai penting untuk ditindaklanjuti penyidik.

“Keluarga sudah menyerahkan sejumlah nama yang dicurigai sebagai pembunuh korban saat pemeriksaan,” katanya.

Ditemukan Tergantung di Kawasan Sapalatu

Berdasarkan laporan kepolisian, Fikran ditemukan warga dalam kondisi tidak bernyawa di areal Sapalatu, jalan akses menuju lokasi tambang Gunung Tembaga, Desa Luhu, pada Kamis (27/8/2026) sekitar pukul 09.30 WIT.

Salah seorang saksi, Ahmad Nurlette, mengaku menemukan kaki Fikran dalam posisi tergantung ketika melakukan pencarian bersama rekannya.

Setelah menemukan korban, Ahmad meminta rekannya turun untuk memberitahukan kepada warga. Warga kemudian mendatangi lokasi dan menunggu kedatangan polisi.

Jenazah Fikran selanjutnya dibawa ke Puskesmas Luhu untuk menjalani pemeriksaan medis.

Menurut keterangan yang disampaikan keluarga, dari pemeriksaan awal di Puskesmas Luhu terdapat dugaan korban mengalami tindak kekerasan. Namun, pihak keluarga menegaskan kesimpulan tersebut masih harus dipastikan melalui pemeriksaan forensik.

“Memang ada dugaan korban dibunuh. Tapi kita tetap menunggu hasil otopsi yang akan keluar Senin besok,” ujar pihak keluarga.

Hingga Minggu (13/9), penyebab pasti kematian Fikran belum dapat dipastikan. Keluarga berharap proses otopsi dan penyelidikan kepolisian pada Senin (14/9) dapat memberikan kejelasan mengenai apa yang sebenarnya terjadi.

Keluarga juga meminta seluruh pihak yang mengetahui atau berada di sekitar lokasi kejadian diperiksa secara profesional, sehingga penyebab kematian Fikran dapat diungkap berdasarkan fakta dan bukti yang dapat dipertanggungjawabkan secara hukum. (NS)

Views: 7
Facebook
WhatsApp
Email