
AMBON,Nunusaku.id,- Setia melayani jadi motto utama Bank Maluku-Maluku Utara (Malut). Motto itu mengandung makna mendalam untuk utamakan nasabah dalam pelayanan, tetapi juga menuntut kesetiaan dan keteguhan hati yang melayani dengan senyum.
Motto itu tak sekedar slogan berbentuk tulisan yang terpampang di dekat logo bank plat merah itu. Namun ditunjukkan secara nyata kepada mereka yang papah dan saat ini ada di masa sulit.
Berawal dari gerakan hati membawa rasa para karyawan/ti di Bank Maluku-Malut untuk sorong bahu dengan warga Hunuth, korban rumah terbakar dan rusak akibat bencana kemanusiaan 19 Agustus 2025 lalu.
Tagalaya berhasil dikumpulkan. Solidaritas dan rasa empati itu sejatinya tidak mengenal sekat jabatan pimpinan atau anak buah hingga agama sekalipun. Semua sama-sama pikol hahalang, atas nama kemanusiaan.
“Kami ikut berduka atas kejadian yang menimpa basudara di Hunuth. Kami hadir bukan hanya membawa bantuan uang, tapi doa dan dukungan sepenuh hati,” ujar Pemimpin PT Bank Maluku-Malut Cabang Utama Ambon Trintje Siahainenia di Gereja Elim Hunuth dengan nada bergetar, Rabu (3/9).
Dari hasil kerja keras dan upaya yang digalang, terkumpul bantuan sebesar Rp 35 juta untuk warga korban rumah terbakar dan rusak berat.
Bagi Siahainenia yang akrab disapa Dona, bantuan itu memang tidak seberapa jika dilihat dari nilainya. Tapi setidaknya ini sedikit dari kelebihan dan berkat yang diterima karyawan/ti Bank Maluku-Malut.
Sekaligus menjadi pengingat bagi basudara Hunuth bahwa mereka tidak sendiri ditengah kesusahan dan rasa duka, sebab ada tangan karyawan/ti Bank Maluku-Malut yang terulur peduli.
“Ini ruang untuk saling support dan saling menopang ditengah duka dan kesulitan hidup. Semoga kehadiran kami menguatkan sekaligus mengembalikan senyum basudara Hunuth untuk kuat,” pinta Siahainenia.
Kehadiran pimpinan dan karyawan/ti Bank Maluku-Malut cabang utama Ambon disambut senyum, sukacita dan rasa syukur penuh makna Ketua Majelis Jemaat Hunuth, Pendeta Monike Hukubun bersama warga korban rumah terbakar dan rusak.
“Kehadiran bapak/ibu pertanda kami tidak pernah sendiri. Saya yakini ini cara Tuhan mengirim orang-orang baik untuk menjadi penolong, malaikat, menjadi kaki, tangan dan mata bagi kami,” ujar Hukubun penuh teduh dan mata berkaca.
Sesungguhnya siapapun tidak ingin musibah ini terjadi dan menimpa jemaat dan warga Hunuth. Namun sebagai orang percaya meyakini, rancangan Tuhan adalah rancangan damai sejahtera, dan bukan kecelakaan.
“Katong yakini tangan Tuhan sedang bekerja menolong dan membalut luka kami baik secara fisik maupun psikis. Dukungan bapak/ibu semua membuat kami kuat dan terus menanjak hadapi hidup ini,” ungkapnya.
Mengakhiri perjumpaan itu, Hukubun juga meyakini bahwa bank Maluku-Malut hadir menyatakan kemuliaan Tuhan lewat karyawan/ti dan karena itu berkat terhadap Bank Maluku-Malut beserta karyawan/ti akan terus mengalir.
“Jangan dilihat dari berapa nilai bantuan yang didapat, tapi lihatlah nilai kasih dibalik uluran tangan bapak/ibu karyawan/ti Bank Maluku-Malut. Karena disitu pula ada kasih dan cinta Tuhan. Sehingga penting bagi kita bersyukur untuk terus menata hidup,” pesan Hukubun kepada para penerima bantuan sekaligus mengunci dengan doa syukur.
Tak cukup bantuan berupa uang tunai yang dibagi langsung ke keluarga terdampak, karyawan/ti Bank Maluku-Malut juga datang lafaskan doa dan pujian, sebagai penguat membalut sedih dan pilu Hunuth.
Sekaligus menjadi penegasan, bahwa seorang Bankir tidak hanya identik dengan materi dalam kerjanya, tetapi juga garda terdepan membangun empati sosial. Pengingat, bilamana menghadapi bencana sosial, sentuhan nyata jauh lebih bermakna daripada janji-janji.
Tindakan ini bukan hanya meringankan beban korban rumah terbakar, tetapi juga menyentuh hati publik bahwa kepedulian tidak harus menunggu momentum besar, cukup dimulai dari niat tulus dan langkah nyata.
Karena dari kasih yang tulus, lahirlah kekuatan besar untuk menyembuhkan, membangun kembali, dan memperkuat solidaritas kemanusiaan. (NS)





