Jejak Baru di Tanah Raja-raja; Gereja Bukit Moria Passo, Peresmian Pertama Sinode GSI di Maluku
IMG-20250928-WA0029

AMBON,Nunusaku.id,- Sinode Gereja Sahabat Indonesia (GSI) menorehkan sejarah baru dengan meresmikan Gereja Bukit Moria, Jemaat Bukit Moria Passo di Maluku.

Peresmian ini bukan hanya sekadar penambahan gedung ibadah, tetapi juga menjadi tonggak penting pengembangan pelayanan GSI di Bumi Raja-raja.

Sekaligus menjadi bukti keseriusan Sinode GSI dalam memperluas jangkauan pelayanan keagamaan, sosial, dan pastoral.

Gereja Bukit Moria kini resmi bergabung sebagai Jemaat ke-60 GSI di Indonesia, setelah sebelumnya berkembang di Halmahera dan berbagai daerah lain.

Acara peresmian berlangsung di halaman Gereja Bukit Moria, Passo, Kota Ambon, Maluku, Minggu (28/9/25), dilakukan Ketua Majelis Pekerja Harian Jemaat (MPHJ) Sinode GSI, Pdt. Dr. Daniel A. Tobing, S.Th., M.AP., M.Ipol.

Momen itu disaksikan Kepala Bidang (Kabid) Bimas Kristen Kemenag Maluku, Stepanus Tia, Pejabat Pemerintah Negeri Passo, Ivan Pattinama, serta ratusan jemaat dan tamu undangan.

Ketua Jemaat GSI Bukit Moria, Pdt. Letty Risky Pattikayhatu tak kuasa menahan haru saat menyampaikan sambutan. Ia menegaskan, berdirinya jemaat ini adalah jawaban Tuhan atas perjalanan panjang penuh tantangan.

“Kita tahu bahwa perjalanan ini tidak mudah. Mungkin ada keraguan dan beban ketika memutuskan keluar dari sinode lama dan bergabung dengan GSI. Namun iman kepada Tuhan Yesus Kristus membuat kami yakin bahwa Dia menuntun ke arah baru,” ujarnya.

Menurut Pdt. Letty, bergabungnya Jemaat Bukit Moria ke dalam Sinode GSI menjadi awal lembaran baru pelayanan yang menekankan kualitas iman, kebersamaan, dan keterbukaan untuk melayani masyarakat luas.

Sementara, Pdt. Daniel Tobing mengenang perjalanan pribadinya di Ambon yang sarat makna. Ia pertama kali datang ke kota ini pada tahun 2000, saat konflik sosial melanda. Kala itu, ia bertugas sebagai perwira TNI Angkatan Udara yang dikirim untuk operasi perdamaian.

“Saya tidak pernah membayangkan akan kembali ke Ambon sebagai Ketua Sinode. Namun inilah jalan Tuhan. Pekerjaan-Nya tak bisa diukur dengan pikiran manusia,” tuturnya penuh makna.

Bagi Sinode GSI, hadirnya Gereja Bukit Moria di Passo menjadi titik awal pertumbuhan pelayanan di Maluku.

Setelah berkembang di Halmahera, kini GSI resmi menancapkan tonggak pelayanannya di Ambon, dengan harapan kehadiran jemaat pertama ini menjadi pintu lahirnya jemaat-jemaat baru di Maluku.

Kabid Bimas Kristen Maluku, Stepanus Tia dalam pesannya mengingatkan jemaat untuk terus menjadi garam dan terang di tengah masyarakat majemuk.

Ia menekankan lima poin penting peran Gereja: pelayanan inklusif, keteladanan hidup, moderasi beragama, pelayanan yang transformatif, serta kepedulian terhadap lingkungan.

“Gedung ini bukan sekadar bangunan fisik, tetapi ruang perjumpaan dengan Allah, tempat pertumbuhan iman, dan pusat pelayanan kasih,” tegasnya.

Pejabat Pemerintah Negeri Passo, Ivan Pattinama menyampaikan apresiasi atas hadirnya GSI di wilayahnya. Ia menilai Gereja memiliki peran strategis dalam membina iman, membentuk karakter generasi muda, dan menjaga kerukunan masyarakat.

“Perbedaan adalah kekayaan. Mari terus memperkuat toleransi dan menjaga persaudaraan. Pemerintah Negeri Passo siap bekerja sama dengan gereja dalam pelayanan sosial dan kemasyarakatan,” ungkapnya.

Usai peresmian, prosesi dilanjutkan dengan ibadah syukur dan pentahbisan struktur Majelis Jemaat GSI Bukit Moria periode 2025–2028 yang akan menjadi motor penggerak pelayanan.

Struktur majelis meliputi Majelis Pertimbangan Jemaat, Majelis Pekerja Harian, serta Majelis Pemeriksaan Keuangan dan Perbendaharaan.

Usai rangkaian acara, Pdt. Daniel Tobing kepada awak media menegaskan, Majelis dan Pendeta yang ditahbiskan merupakan perpanjangan tangan Sinode untuk membina iman jemaat, mengembangkan pelayanan sosial, dan bekerja sama dengan lembaga kemasyarakatan.

“Mulai dari titik ini, kita akan terus bertumbuh sampai Tuhan datang,” tutup Tobing penuh optimisme.

Peresmian Gereja Bukit Moria Passo menandai hadirnya jemaat GSI ke-60 di Indonesia dan menjadi yang pertama di Maluku. Sinode GSI sendiri berpusat di Banten, Tangerang Selatan, dan merupakan anggota Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI) urutan ke-76.

Acara peresmian ditutup dengan ramah tamah dan makan bersama sebagai wujud kebersamaan.

Bagi Jemaat Bukit Moria, momen ini bukan hanya seremonial, melainkan awal perjalanan baru untuk menjadi gereja yang hidup, melayani, dan membawa terang Kristus bagi Ambon dan Maluku. (NS-02)

Views: 541
Facebook
WhatsApp
Email