INDEPP Lakukan Business Feasibility Bootcamp; Dorong Transformasi BUMDes di Ambon yang Profesional & Transparan
IMG-20260224-WA0016

AMBON,Nunusaku.id,- Ditengah dinamika ekonomi Maluku yang semakin kompetitif, Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) di Kota Ambon didorong untuk bertransformasi menjadi entitas bisnis yang profesional, transparan, dan berkelanjutan.

Komitmen itu diwujudkan dalam workshop Business Feasibility Bootcamp yang digelar Institute for the Development of Economic and Public Policy (INDEPP) di Pacific Hotel Ambon, Selasa (24/2/26).

Kegiatan yang berlangsung selama dua hari itu dibuka Wakil Walikota (Wawali) Ambon, Ely Toisuta, dan dihadiri para Raja, Kepala Desa, Lurah, serta Direktur BUMDes se-Kota Ambon.

Ketua Umum INDEPP, Baretha Meisar Titioka, dalam laporan menegaskan, workshop ini bukan sekadar agenda seremonial, melainkan momentum reorientasi fundamental tata kelola ekonomi desa.

“BUMDes tidak boleh lagi hanya menjadi entitas administratif yang bergantung pada penyertaan modal tanpa perencanaan yang jelas. BUMDes harus dibangun diatas fondasi riset pasar yang valid dan kalkulasi finansial yang akurat agar setiap rupiah dana desa memberikan imbal balik nyata bagi kesejahteraan masyarakat,” tegasnya.

Ia menjelaskan, lembaga yang dipimpinnya berdiri sejak 2020 dan telah melakukan sejumlah kerja sama riset dengan pemerintah daerah, termasuk bersama Bappeda Litbang Kota Ambon dalam penyusunan master plan penanggulangan kemiskinan dan analisis kebijakan ekonomi daerah.

Sejumlah hasil riset tersebut bahkan telah dibukukan dan memiliki International Standard Book Number (ISBN).

Menurut Titioka, sejumlah riset menunjukkan kegagalan BUMDes di berbagai daerah bukan semata karena keterbatasan modal, tetapi akibat ketiadaan desain strategis dan lemahnya penyelarasan visi antara pemerintah desa sebagai pengawas dan pengelola sebagai pelaksana usaha.

“Di Ambon, kita miliki potensi ekonomi yang luar biasa, namun belum teroptimalkan secara maksimal. Karena itu, kami menghadirkan pelatihan yang bersifat praktis dan aplikatif,” ujar kandidat Doktor Ekonomi dan Bisnis itu.

Workshop ini dibagi dalam empat blok kompetensi utama, yang mana di hari pertama difokuskan pada pemetaan model bisnis melalui Business Model Canvas (BMC) serta uji kelayakan finansial menggunakan perhitungan break-even point dan return on investment.

Sementara pada hari kedua, peserta dibekali materi manajemen risiko dan pengenalan sistem informasi akuntansi “SIAP BUMDes” guna mendorong pencatatan keuangan digital yang transparan.

Setiap peserta juga mengikuti pre-test untuk mengukur pengetahuan awal, yang nantinya akan dibandingkan dengan post-test guna melihat peningkatan kapasitas setelah pelatihan.

Di kesempatan itu, Wawali Ambon, Ely Toisuta menekankan, membangun BUMDes tidak cukup hanya dengan penyertaan modal, tetapi membutuhkan kesiapan kelembagaan, legalitas yang jelas, serta sumber daya manusia yang jujur, kompeten, dan profesional.

“BUMDes harus memastikan setiap unit usaha yang dikembangkan layak secara finansial, operasional, dan pasar. Studi kelayakan menjadi kunci agar risiko kerugian dapat diminimalkan dan potensi desa bisa dimaksimalkan,” ujarnya saat membuka kegiatan.

Ia juga mendorong agar workshop ini menjadi ruang berbagi pengalaman dan membangun jejaring antar BUMDes serta pihak ketiga.

Menurutnya, sinergi dan kolaborasi merupakan kunci dalam memperkuat ekonomi desa.

Narasumber workshop berasal dari Ambon maupun luar daerah, termasuk satu pemateri yang saat ini sedang melanjutkan studi di Amerika Serikat dan akan membawakan materi Business Model Canvas secara panel.

Selain itu, materi lain mencakup analisis kelayakan usaha, manajemen risiko, serta sistem informasi akuntansi.

Titioka menambahkan, perkembangan BUMDes di Kota Ambon belum merata dan masih jauh dari harapan. Meski begitu, terdapat beberapa BUMDes yang telah berkontribusi terhadap Pendapatan Asli Desa (PADes) dan membuka lapangan kerja bagi masyarakat di Desa.

“Kami realistis, tidak mungkin setelah workshop ini seluruh BUMDes langsung tumbuh pesat. Namun minimal ada yang mulai bergerak, memilih usaha yang realistis, memiliki pasar yang jelas, serta menjamin keberlanjutan,” ujarnya.

Melalui kegiatan ini, INDEPP berharap BUMDes di Kota Ambon mampu bertransformasi menjadi pilar kedaulatan ekonomi desa tidak hanya berorientasi sosial, tetapi juga kuat secara bisnis demi mendorong kesejahteraan masyarakat dan meningkatkan kontribusi terhadap pendapatan desa.

Dengan pendekatan praktik, simulasi, dan stress test arus kas, workshop ini diharapkan menjadi laboratorium bisnis bagi para pengelola BUMDes, sehingga setiap keputusan usaha benar-benar berbasis perhitungan matang dan berorientasi pada keberlanjutan jangka panjang. (NS-02)

Views: 15
Facebook
WhatsApp
Email