HL: Maluku Miliki Potensi Menjadi Pusat Ekonomi Kelautan Indonesia
d3f9de028147cf716311d9476662fb61_1

AMBON,Nunusaku.id,- Ada lima (5) potensi dan kekuatan Provinsi Maluku yang bisa berkontribusi dalam mewujudkan Indonesia Emas 2045, salah satunya di sektor perikanan.

Gubernur Maluku terpilih, Hendrik Lewerissa mengaku, dengan kekayaan laut yang luar biasa, Maluku memiliki potensi untuk menjadi pusat ekonomi kelautan Indonesia.

Dikatakan, dalam visi LAWAMENA, sektor perikanan, budidaya laut, dan industri pengolahan hasil laut akan menjadi tulang punggung ekonomi Maluku. Dengan pendekatan berbasis teknologi, diharapkan meningkatkan nilai tambah dari hasil kelautan sekaligus memastikan keberlanjutannya bagi generasi mendatang.

“Sebagai bagian dari Indonesia Emas 2045, Maluku harus mampu berkontribusi pada ketahanan pangan nasional melalui sektor perikanannya. Langkah ini tidak hanya mendukung ekonomi lokal tetapi juga memperkuat posisi Indonesia sebagai salah satu penghasil produk perikanan terbesar di dunia,” tandas HL dalam “Stadium General” di pelantikan MPW ICMI Maluku periode 2025-2030, Senin (27/1).

Kedua, infrastruktur untuk tingkatkan daya saing global. Menurut HL, pihaknya meyakini, konektivitas dan aksesibilitas adalah kunci dalam menghadapi persaingan global. Karena itu perlu mendorong pembangunan infrastruktur yang mendukung mobilitas barang, jasa, dan manusia di seluruh wilayah Maluku dan regional lainnya.

Pelabuhan-pelabuhan di Maluku harus menjadi gerbang ekspor-impor yang strategis, tidak hanya untuk kawasan timur Indonesia tetapi juga untuk pasar internasional. Selain itu, pengembangan infrastruktur digital akan menjadi prioritas.

“Dengan membangun jaringan telekomunikasi yang handal, kita akan memastikan setiap masyarakat Maluku memiliki akses terhadap informasi dan teknologi, sehingga mampu bersaing di era digital ini,” jelasnya.

Ketiga, pengembangan sumber daya manusia untuk masa depan. Indonesia Emas 2045 tidak hanya berbicara tentang ekonomi, tetapi juga tentang manusia yang unggul dan berdaya saing global yang akan mengisi bonus demografi nasional Indonesia.

Karena itu, pembangunan sumber daya manusia di Maluku harus menjadi fokus utama. Perlunya memperkuat sektor pendidikan dengan memastikan akses yang merata, memperbaiki kualitas kompetensi guru dan dosen, dan meningkatkan fasilitas belajar bagi generasi muda.

Demikian juga menggalakkan pendidikan vokasi, pelatihan keahlian yang relevan dengan potensi pembangunan di Maluku sekaligus peningkatan soft skill berbasis nilai-nilai luhur agama dan kearifan local (local wisdom) dan kecerdasan local (local genius).

“Kita perlu mengintegrasikan nilai-nilai lokal dalam kehidupan orang basudara seperti budaya Pela-Gandong di Maluku Tengah, Larvul Ngabal dan Aini ‘Ain di Maluku Tenggara, Kalwedo di MBD, Duan Lolat di KKT, Kidabela di Aru, Kai Wai di Buru, dan Wari Wa di SBB—demikian juga budaya tolong menolong dan kerjasama seperti, masohi, badati, ma’ano, ke dalam sistem pendidikan. Dengan begitu, generasi muda Maluku tidak hanya menjadi individu yang kompeten secara akademis tetapi juga miliki identitas budaya yang kuat,” tegasnya.

Lebih lanjut menurut HL, dalam konteks Indonesia Emas 2045, keberlanjutan adalah salah satu pilar utama. Maluku memiliki peluang besar untuk menjadi contoh pembangunan yang berkelanjutan dengan memadukan eksploitasi sumber daya alam yang bijaksana dan pro-pelestarian lingkungan.

Dalam wacana teologi agama-agama dewasa ini sedang dikembangkan semangat ekoteologi. Dalam konteks ini agama-agama harus ikut bertanggungjawab merawat lingkungan.

Bahwa alam bukan hanya menjadi obyek yang bebas dieksploitasi manusia selaku subyek, tetapi manusia dan alam sama-sama sebagai subyek sekaligus obyek. Karena jika alam hancur manusiapun akan hancur dan musnah, keduanya juga sama-sama makhluk Tuhan.

“Kita juga perlu mengembangkan energi terbarukan, seperti energi dari gelombang laut dan angin, sebagai sumber daya energi baru bagi Maluku dan kawasan Timur Indonesia. Langkah ini sejalan dengan komitmen nasional untuk mengurangi emisi karbon dan menciptakan masa depan yang lebih hijau,” jelasnya.

Kelima, peran Maluku dalam mengokohkan Kebinekaan Indonesia. Indonesia Emas 2045 adalah visi untuk menciptakan bangsa yang maju tanpa kehilangan identitasnya sebagai negara yang kaya akan kebudayaan.

Maluku, dengan keragaman suku, agama, dan adat istiadatnya tersebar di 1.340 buah pulau, terdiri dari kurang lebih 100 suku dan sub suku, 117 buah bahasa dan dialek, ratusan marga atau fam, ratusan raja baik yang bergelar Latu, Patty maupun Orang Kaya, serta pengalaman merajut perdamaian selama lebih dari dua decade terakhir, dapat menjadi symbol harmoni kebinekaan tersebut.

“Karena itu, kita perlu hidupkan kembali tradisi dan adat istiadat sebagai aset budaya sekaligus memperkuat kohesi sosial. Dalam konteks nasional, Maluku dapat berkontribusi sebagai model pengelolaan masyarakat yang harmonis dan inklusif, memperkuat solidaritas dalam keberagaman Indonesia,” pungkasnya. (NS)

Views: 128
Facebook
WhatsApp
Email