
AMBON,Nunusaku.id,- Untuk ketiga kalinya, Himpunan Desain Interior Indonesia (HDII) Cabang Maluku melakukan pameran yang menggabungkan harmoni alam, budaya, serta material.
Pameran yang melibatkan puluhan vendor, pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM), perguruan tinggi (Unpatti, IAKN Ambon dan Politeknik Negeri Ambon), sekolah hingga instansi pemerintah terkait digelar selama tiga hari, 15-17 April 2025 di gedung Auditorium Universitas Pattimura (Unpatti).
Salah satu stand yang menarik banyak pengunjung pameran ialah stand milik Museum Siwalima yang berisi miniatur Baileo atau rumah adat Maluku hingga Gereja dan Masjid Tua di Negeri Hila Kecamatan Leihitu Kabupaten Maluku Tengah (Malteng).
Hartono Hakim, Ketua HDII cabang Maluku menyebut, dua event awal sebetulnya hanya dalam bentuk seminar yang mengangkat budaya Maluku. Namun di kali ketiga pameran, dibuat skala lebih besar dengan tetap mengangkat budaya Maluku sebagai isu utama.
Serta melibatkan semua pihak baik itu akademisi, pemerintah kota, pemerintah provinsi juga dari pihak UMKM, dari profesional, praktisi terutama vendor-vendor yang datang dari pulau Jawa untuk memperlihatkan karya dan mensuport event.

“Target kita adalah bersama-sama untuk mengenalkan budaya Maluku. Dimana ada museum Siwalima juga terlibat. Mari sama-sama kita membangun negeri, menata kota berbasis budaya dan teknologi,” tandasnya.
Target lain sebutnya, bersama-sama menggerakkan dan mengajak semua aspek bersatu. Walaupun saat ini efisiensi anggaran, tapi prinsipnya tidak bisa menunggu tapi harus berkreativitas dan memungkinkan dana-dana investasi itu akan datang.
“Jadi itu target kami. Terima kasih kepada semua vendor, semua panitia dan semua booth yang sudah terlibat dari akademis maupun SMK dan semuanya, terutama juga media yang sudah publikasi,” jelasnya.
“Mari kita mempunyai gaya hidup berbudaya Maluku, mencintai alam dan bersama-sama membangun negeri,” tambah Hartono.
Dikatakan, selama tiga hari pameran, pihaknya menargetkan sebanyak mungkin pengunjung hadir di pameran selama tiga hari, yakni ada di angka 1000-2000 orang per hari.
“Karena itu kita kolaborasi dengan melakukan pentas musik, seni dan budaya. Juga ada lomba mewarnai untuk anak-anak, lomba Sketsa dan desain,” pungkasnya.
Salah satu pengunjung, Evi alumnus Arsitektur, mengaku, meski baru pertama kali ikut, namun dia mengapresiasi luar biasa digelarnya pameran ini.
Sebab pameran interior dinilai sangat bermanfaat bagi mahasiswa yang baru belajar, alumni atau pekerja di birokrasi, konsultan di jasa konstruksi agar bisa lebih mengenal material-material yang sudah didisplay.
“Apalagi kolaborasi dengan adat istiadat budaya Maluku. Ini bisa jadi dasar jika kedepan setiap kali ada perencanaan pembangunan dan lainnya sudah ada dasar bahwa arsitektur Maluku seperti ini,” pungkas ASN di Dinas PUPR Maluku itu. (NS)





