
Taniwel,Nunusaku.id,- Suasana hangat penuh kebersamaan menyelimuti Desa Lisabata, Kecamatan Taniwel, Kabupaten Seram Bagian Barat, Rabu (25/3).
Ditengah hamparan alam tanah Seram yang asri, warga dari berbagai penjuru tanah air “pulang kampung” dan berkumpul dalam tradisi “Makan Patita Lisabata Panggel Pulang”, sebuah perayaan yang bukan sekadar makan bersama, melainkan perjumpaan hati orang basudara.
Kehadiran Gubernur Maluku Hendrik Lewerissa bersama Ketua TP PKK Maluku, Maya Baby Lewerissa, menambah makna tersendiri bagi masyarakat.
Tidak ada sekat antara pemimpin dan warga; semua duduk bersama, menikmati hidangan dalam semangat persaudaraan yang kental.
Turut hadir Bupati Seram Bagian Barat, Asri Arman jajaran Forkopimda dan Forkopimcam setempat.
Di kesempatan itu, Gubernur penuh hangat mengajak masyarakat mensyukuri kesempatan berkumpul dalam keadaan sehat.
Ia menegaskan tradisi seperti makan patita bukan hanya warisan budaya, tetapi juga perekat kuat yang menjaga Maluku tetap utuh di tengah keberagaman.
“Momentum ini juga bertepatan dengan suasana Idulfitri. Tidaklah terlambat untuk saya sampaikan selamat Idul Fitri kepada basudara di Lisabata, SBB dan Maluku pada umumnya. Mari saling memaafkan dan memperkuat tali silaturahmi,” ajaknya.

Lebih dari sekadar seremoni, “Makan Patita Lisabata Panggel Pulang” menjadi ruang refleksi bersama. Gubernur mengingatkan agar tradisi ini tidak dipandang sebagai rutinitas tahunan semata, tetapi dimaknai sebagai kesempatan memperbaiki hubungan sosial, mempererat kebersamaan, serta menumbuhkan kepedulian terhadap sesama dan lingkungan.
Di Maluku, makan patita memiliki makna mendalam. Duduk bersama dalam satu meja panjang adalah simbol kesetaraan. Semua berbagi, semua merasa, semua saling menjaga. Nilai-nilai pela gandong pun terasa hidup, mengalir dalam setiap percakapan dan tawa yang tercipta.
Ungkapan-ungkapan luhur seperti “Potong di kuku rasa di daging”, “Ale rasa beta rasa”, “Sagu salempeng di patah dua” kembali digaungkan. Filosofi ini bukan sekadar kata-kata, tetapi napas kehidupan masyarakat Maluku yang menjunjung tinggi empati, kepercayaan, dan solidaritas.
Menutup kebersamaan itu, Gubernur mengajak seluruh masyarakat, khususnya di Pulau Seram, untuk terus menjaga Maluku dengan penuh tanggungjawab.
Pesannya sederhana namun kuat: masa depan daerah ini ada di tangan orang basudara sendiri.
“Inilah spirit kebersamaan dan persaudaraan sejati katong samua orang basudara untuk saling memahami, saling mempercayai, saling mencintai, saling menopang, saling membanggakan dan saling menghidupi,” tegasnya.
Gubernur pun mengajak orang basudara di seluruh Pulau Seram untuk menjaga situasi dan kondisi keamanan demi kemajuan Maluku tercinta.
“Mari katong jaga Maluku bae-bae, sapa lae yang mau bangun Maluku, kalau bukan ale dengan beta,” tandasnya.
Di Lisabata, hari itu, makan patita kembali membuktikan bahwa kekuatan terbesar Maluku bukan hanya pada alamnya, tetapi pada hati warganya yang selalu menemukan jalan untuk tetap bersama. (NS)









