
AMBON,NUNUSAKU.ID,— Gubernur Maluku Hendrik Lewerissa menegaskan, ilmu pengetahuan, sains, dan teknologi harus ditempatkan sebagai mesin utama transformasi pembangunan Maluku, bukan sekadar pelengkap.
Penegasan itu disampaikan saat menjadi keynote speaker dalam Kuliah Umum yang digelar Fakultas Sains dan Teknologi (FST) Universitas Pattimura (Unpatti) di Auditorium Unpatti, Rabu (9/9/26).
Kuliah umum tersebut diikuti pimpinan dan civitas akademika FST termasuk mahasiswa baru. Dalam pemaparannya, Gubernur Hendrik Lewerissa (HL) membahas peran dan kebijakan pemerintah daerah dalam merespons perkembangan sains dan teknologi sebagai penggerak pembangunan di Maluku.
Menurut Gubernur, perkembangan ilmu pengetahuan dan inovasi harus menjadi fondasi penting dalam menjawab berbagai tantangan pembangunan, terutama bagi Maluku yang memiliki karakteristik geografis sebagai provinsi kepulauan.
“Sains dan teknologi tidak lagi sekadar pelengkap pembangunan, tetapi harus menjadi mesin utama untuk mentransformasi Maluku menuju masa depan yang modern, berdaya saing, dan berkelanjutan,” tegasnya.
Maluku Sebagai Laboratorium Kehidupan Kepulauan
Gubernur menyebut, Maluku memiliki keunggulan strategis yang dapat dikembangkan melalui pendekatan sains dan teknologi. Potensi kelautan, energi baru terbarukan, serta komoditas rempah-rempah merupakan kekuatan daerah yang harus diolah menjadi sumber pertumbuhan ekonomi dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Maluku, kata dia, dapat diposisikan sebagai “Laboratorium Kehidupan Kepulauan”, tempat berbagai inovasi dikembangkan untuk menjawab persoalan nyata masyarakat di wilayah kepulauan.
Karena itu, paradigma pembangunan harus bergeser dari sekadar membicarakan besarnya potensi sumber daya alam menuju bagaimana potensi tersebut dapat menghasilkan solusi konkret dan bernilai tambah.
Enam Arah Strategis Pembangunan Berbasis Sains dan Teknologi
Dalam kuliah umum tersebut, Gubernur memaparkan enam arah strategis pembangunan Maluku berbasis sains dan teknologi.
Pertama, transformasi digital; melalui integrasi data pembangunan dan perluasan konektivitas digital antarpulau.
Kedua, ekonomi biru; dengan mendorong pemanfaatan teknologi dalam budidaya, sistem rantai dingin, serta pemantauan sumber daya laut secara lebih efektif.
Ketiga, pangan dan bioekonomi; melalui pengembangan inovasi dan hilirisasi komoditas unggulan daerah seperti sagu, pala, dan cengkih.
Keempat, energi dan lingkungan; khususnya pengembangan energi terbarukan yang sesuai dengan karakteristik pulau-pulau kecil serta penguatan pengelolaan lingkungan.
Kelima, ketangguhan terhadap bencana; melalui pemanfaatan teknologi seperti sistem peringatan dini, sensor, dan pemetaan risiko.
Keenam, pengembangan talenta; dengan membangun ekosistem inovasi melalui program magang, inkubasi bisnis, dan pengembangan kapasitas mahasiswa.
Pemda dan Kampus Harus Bersinergi
Lebih lanjut Gubernur menilai, sinergi antara pemerintah daerah dan perguruan tinggi merupakan salah satu kunci membangun ekosistem riset dan inovasi yang kuat di Maluku.
Pemerintah daerah tidak hanya berperan sebagai regulator, tetapi juga harus menjadi pengarah prioritas pembangunan, penyedia infrastruktur digital, pengguna hasil riset dalam penyusunan kebijakan publik, sekaligus fasilitator pembiayaan inovasi.
“Pendekatan data-driven policy atau kebijakan berbasis data menjadi penting agar berbagai program pembangunan benar-benar disusun berdasarkan kebutuhan dan kondisi riil masyarakat,” jelasnya.
Dalam konteks tersebut, Universitas Pattimura (Unpatti) diharapkan Gubernur, semakin memperkuat posisinya sebagai simpul pengetahuan dan inovasi di Maluku.
Riset yang dihasilkan kampus, kata dia, tidak boleh berhenti di perpustakaan maupun laboratorium, tetapi harus mampu diterapkan di desa, kawasan pesisir, serta pusat-pusat produktivitas masyarakat.
Pesan Gubernur untuk Generasi Muda Maluku
Kepada mahasiswa FST khususnya dan generasi muda Maluku umumnya, Gubernur Hendrik berpesan agar penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi tetap dibarengi dengan empati serta kepekaan sosial.
Ia juga mendorong mahasiswa memanfaatkan perkembangan Artificial Intelligence (AI) secara bijak, tanpa kehilangan kemampuan berpikir kritis sebagai manusia.
Generasi muda dan mahasiswa, lanjutnya, harus berani mengambil langkah nyata dengan memulai dari persoalan-persoalan kecil yang ada di lingkungan sekitar untuk kemudian menghasilkan dampak yang lebih besar bagi daerah.
“Ide hari ini untuk Maluku yang lebih baik esok. Sains dan teknologi harus menjawab tantangan riil masyarakat, mulai dari penanganan stunting, kemiskinan, hingga konektivitas antarpulau,” tandasnya.
Bagi Maluku, pesan tersebut menjadi penting. Sebab, ditengah tantangan geografis sebagai provinsi kepulauan, penguasaan sains dan teknologi bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan untuk memastikan pembangunan tidak berjalan lambat dan kesenjangan antarpulau dapat terus ditekan. (NS)






