
AMBON,NUNUSAKU.ID,— Sebuah tugu berdiri di kawasan Galala dan Hative Kecil (Gatik), Kota Ambon. Ia bukan sekadar bangunan yang menjadi penanda sebuah tempat, tetapi menyimpan ingatan tentang peristiwa besar yang pernah terjadi pada 8 Oktober 1950, ketika tsunami melanda kawasan tersebut.
Kini, lebih dari tujuh dekade kemudian, sejarah itu kembali dihidupkan melalui peresmian Tugu Peringatan Tsunami Ambon 1950 sekaligus Early Warning System (EWS) banjir.
Peresmian berlangsung Sabtu (6/9) oleh Walikota Ambon Bodewin Wattimena bersama perwakilan Japan International Cooperation Agency (JICA), akademisi Kyoto University, Institute Teknologi Bandung (ITB), Universitas Pattimura (Unpatti) serta sejumlah pihak yang turut mendukung program pengurangan risiko bencana di Kota Ambon.
Bagi Pemerintah Kota Ambon, pembangunan tugu dan pemasangan sistem peringatan dini tersebut bukan sekadar pembangunan fisik. Keduanya merupakan bagian dari upaya membangun ingatan sejarah sekaligus memperkuat kesiapsiagaan masyarakat menghadapi ancaman bencana.
Walikota menegaskan, peristiwa tsunami 1950 harus terus dikenang agar generasi saat ini maupun generasi mendatang memahami bahwa kawasan Galala dan Hative Kecil memiliki sejarah kebencanaan yang tidak boleh dilupakan.
“Tugu ini mesti dipandang bukan sekadar monumen batu beton yang berdiri begitu saja. Tugu ini adalah pengingat,” tegas Bodewin.
Menurutnya, masyarakat perlu mengetahui apa yang pernah terjadi pada masa lalu, bagaimana masyarakat ketika itu menghadapi bencana, serta apa yang harus dilakukan apabila peristiwa serupa kembali terjadi.
Dengan demikian, sejarah tidak berhenti sebagai cerita, tetapi menjadi pengetahuan yang membentuk kesiapsiagaan.
Bodewin mengatakan, Kota Ambon merupakan wilayah yang memiliki berbagai potensi ancaman bencana. Tidak hanya gempa bumi dan tsunami, tetapi juga banjir, tanah longsor serta bencana yang dipicu cuaca ekstrem.
Bahkan, setiap tahun terdapat puluhan hingga ratusan titik bencana yang terjadi di wilayah Kota Ambon.
Kondisi tersebut membuat pemerintah terus memperkuat kolaborasi dengan berbagai pihak untuk melakukan mitigasi dan mengurangi risiko bencana.
“Bencana tidak bisa kita hindari, tetapi risikonya bisa kita kurangi,” kata Bodewin.
Ia menjelaskan, mitigasi bencana tidak hanya dilakukan melalui pembangunan infrastruktur, tetapi juga dengan membangun kesadaran masyarakat.
Masyarakat harus mengetahui bagaimana menyelamatkan diri, ke mana harus mengungsi dan apa yang harus dilakukan ketika tanda-tanda bencana mulai muncul.
Karena itu, Pemkot Ambon juga terus mendorong pembentukan Forum Pengurangan Risiko Bencana di desa dan negeri.
Forum tersebut diharapkan menjadi salah satu instrumen untuk melakukan sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat, sekaligus membangun budaya sadar bencana.
Selain tugu, perhatian dalam kegiatan tersebut juga tertuju pada perangkat Early Warning System banjir yang dipasang di kawasan Galala dan Hative Kecil.
Sistem tersebut berfungsi memantau kondisi air dan memberikan peringatan berdasarkan tingkat ancaman.
Indikator peringatan menggunakan beberapa tingkatan warna. Dalam kondisi normal, sistem menunjukkan kondisi aman. Ketika permukaan air mulai meningkat, status kewaspadaan ikut berubah.
“Pada level oranye, masyarakat harus mulai bersiap hadapi kemungkinan banjir. Sedangkan ketika indikator mencapai merah, masyarakat harus segera melakukan evakuasi, Kalau sudah merah, segera mengungsi,” tandas Walikota.
Menurutnya, keberadaan EWS sangat penting karena dapat memberikan peringatan lebih awal kepada masyarakat sehingga tersedia waktu untuk menyelamatkan diri dan keluarga.
Bodewin mengingat kembali kondisi banjir yang pernah terjadi di kawasan tersebut. Saat debit air meningkat, air bahkan dapat mencapai dan melewati kawasan jembatan.
Karena itu, ia berharap EWS yang telah dipasang benar-benar dimanfaatkan dan dijaga bersama.
Ditengah harapan besar terhadap manfaat teknologi tersebut, Wali Kota juga menyampaikan pesan khusus kepada masyarakat.
Ia meminta Raja Negeri, pemerintah setempat dan seluruh warga untuk menjaga perangkat EWS yang telah dipasang.
Menurutnya, alat tersebut merupakan fasilitas penting yang disiapkan untuk kepentingan keselamatan masyarakat.
“Saya titip pesan buat Bapak Raja dan semua warga. Ingat, alat ini penting. Kita cukup menjaganya saja. Jangan dijahili, jangan dirusak,” pintanya.
Bodewin menyoroti masih adanya sejumlah fasilitas publik yang rusak atau kehilangan bagian setelah dibangun pemerintah.
Ia mencontohkan sejumlah patung yang menjadi bagian dari identitas Ambon sebagai kota musik, yang mengalami kerusakan hingga beberapa bagian instrumen musik dan patung hilang.
Menurutnya, pembangunan kota yang modern harus diikuti dengan kesiapan masyarakat untuk menjaga fasilitas yang telah disediakan.
“Upaya pemerintah untuk terus membangun kota ini bisa gagal kalau masyarakat belum siap untuk melihat kotanya menjadi bagus dan modern,” ujarnya.
Karena itu, ia berharap pengalaman terhadap fasilitas publik sebelumnya tidak terjadi pada perangkat EWS.
Peresmian EWS dan Tugu Tsunami 1950 juga menjadi gambaran pentingnya kolaborasi dalam membangun ketangguhan masyarakat menghadapi bencana.
Pemkot Ambon mengapresiasi seluruh pihak yang telah berkontribusi, mulai dari mitra Jepang, JICA, Kyoto University, ITB, Unpatti hingga berbagai pihak lainnya.
Kolaborasi tersebut tidak hanya menyangkut pembangunan perangkat fisik, tetapi juga penguatan pengetahuan, edukasi, mitigasi dan kesiapsiagaan masyarakat.
Pemkot Ambon sendiri telah menyiapkan berbagai instrumen pendukung, termasuk regulasi, peta risiko bencana serta forum pengurangan risiko bencana di tingkat desa dan negeri.
Semua langkah tersebut diarahkan untuk satu tujuan: mengurangi risiko dan memastikan masyarakat memiliki kemampuan menyelamatkan diri ketika bencana terjadi.
Pada akhirnya, tugu dan EWS yang berdiri di kawasan Galala dan Hative Kecil memiliki pesan yang saling melengkapi.
Tugu mengingatkan masyarakat tentang masa lalu. EWS mempersiapkan masyarakat menghadapi masa depan.
Tugu mengajak generasi hari ini untuk mengingat tsunami yang pernah terjadi pada 1950.
Sementara EWS memberikan pesan bahwa sejarah tersebut harus menjadi pelajaran untuk membangun kesiapsiagaan.
Walikota berharap seluruh masyarakat tidak melihat fasilitas tersebut hanya sebagai proyek pembangunan pemerintah.
Lebih dari itu, keduanya merupakan bagian dari upaya bersama untuk melindungi kehidupan masyarakat.
“Kalau kejadian itu terjadi, kita tidak bisa menghindarinya. Tetapi paling tidak kita bisa menyelamatkan diri,” tutur Bodewin.
Ia pun menyampaikan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah bekerja bersama mendukung program pengurangan risiko bencana di Kota Ambon.
Di Galala dan Hative Kecil, sejarah kini tidak hanya diceritakan.
Dan bersamanya, sebuah sistem peringatan dini bersiap memberi tanda ketika air mulai naik.
Sebuah pesan sederhana pun ditinggalkan untuk generasi berikutnya: ingat sejarahnya, jaga alatnya, pahami peringatannya, dan jangan terlambat menyelamatkan diri. (NS-02)








