Energi Hijau Hingga Sampah, Ambon-Selandia Baru Buka Jalan Kolaborasi Berkelanjutan
IMG-20260916-WA0002

AMBON,NUNUSAKU.ID,— Sebuah kota kepulauan tidak hanya berbicara tentang laut yang mengelilinginya.

Dibalik bentang pesisir dan pulau-pulau kecil, ada kebutuhan energi yang harus terus dipenuhi, sampah yang harus dikelola, air bersih yang harus dijamin, serta sumber daya manusia yang harus disiapkan menghadapi perubahan zaman.

Di Kota Ambon, berbagai persoalan tersebut kini menjadi bagian dari pembicaraan yang lebih luas. Bukan hanya menjadi tanggungjawab pemerintah daerah, tetapi juga membuka ruang kolaborasi dengan mitra internasional.

Peluang itu mengemuka dalam audiensi Pemerintah Kota Ambon bersama Kedutaan Besar Selandia Baru di Balaikota Ambon, Senin (14/9/26).

Pertemuan itu menjadi lebih dari sekadar kunjungan kehormatan atau courtesy call. Didalamnya terdapat pembicaraan tentang masa depan energi terbarukan, pengelolaan sampah, peningkatan kapasitas sumber daya manusia, persoalan air bersih hingga bagaimana menjaga kehidupan sosial masyarakat ditengah keberagaman Kota Ambon.

Momentum tersebut juga berkaitan dengan peluncuran program kerjasama energi terbarukan NZMATES Phase 2 yang akan berlangsung selama lima tahun, 2026–2031, bersama Direktorat Jenderal Energi Baru, Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM.

Bagi Pemerintah Kota Ambon, kerjasama tersebut membuka peluang untuk memperkuat kapasitas daerah sekaligus mencari jawaban atas persoalan-persoalan yang khas di wilayah kepulauan.

Walikota Ambon, Bodewin Wattimena menegaskan, keterbukaan Pemkot terhadap berbagai bentuk kerjasama yang dapat memberi manfaat langsung maupun jangka panjang bagi masyarakat.

Energi terbarukan menjadi salah satu bidang yang dinilai memiliki arti penting bagi Ambon dan wilayah kepulauan pada umumnya.

“Kota Ambon pada prinsipnya sangat terbuka untuk bekerja sama. Kebutuhan energi terbarukan ini sangat penting, terutama untuk wilayah kepulauan, dan tentu kita juga perlu memperkuat sarana-prasarana serta kapasitas sumber daya manusia,” ujar Wali Kota.

Pernyataan tersebut menggambarkan dua kebutuhan yang berjalan beriringan. Disatu sisi, Ambon membutuhkan pilihan energi yang lebih berkelanjutan.

Disisi lain, teknologi dan infrastruktur energi tidak akan berjalan maksimal tanpa sumber daya manusia yang memiliki kemampuan untuk mengoperasikan, mengembangkan dan merawatnya.

Karena itu, pembicaraan mengenai energi tidak berhenti pada pembangunan pembangkit atau penggunaan teknologi baru. Penguatan manusia menjadi bagian penting dari kerja sama tersebut.

Ketika 300 Ton Sampah/Hari Belum Cukup untuk Waste-to-Energy

Ditengah pembicaraan mengenai energi masa depan, persoalan sampah juga muncul sebagai tantangan yang tidak bisa dilepaskan dari pembangunan Kota Ambon.

Setiap hari, produksi sampah Kota Ambon diperkirakan mencapai sekitar 300 ton.

Jumlah tersebut memang besar bagi sebuah kota. Namun, ketika berbicara mengenai penerapan teknologi waste-to-energy, skala tersebut ternyata belum mencapai kebutuhan yang diperkirakan sekitar 1.000 ton sampah per hari.

Artinya, menjadikan sampah sebagai sumber energi membutuhkan skala pengelolaan yang jauh lebih besar, sekaligus sistem yang mampu mengumpulkan dan mengolah sampah secara konsisten.

Namun, keterbatasan skala bukan alasan untuk berhenti.

“Untuk sampah, produksi kita saat ini sekitar 300 ton per hari. Angka ini memang belum memenuhi skala yang dibutuhkan untuk waste-to-energy, tetapi kita terus melakukan kolaborasi dalam penanganan sampah, termasuk sampah maritim,” jelas Walikota.

Pernyataan tersebut membawa persoalan sampah ke ruang yang lebih luas.

Bagi Ambon, sampah tidak hanya berakhir di tempat pembuangan. Sebagian persoalan juga berkaitan dengan kawasan pesisir dan laut yang menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat.

Karena itu, kolaborasi dengan NGO maupun berbagai pihak lainnya terus didorong untuk menangani sampah, terutama sampah yang berpotensi mencemari kawasan pesisir dan perairan.

Sebagai kota yang kehidupannya sangat berkaitan dengan laut, menjaga kawasan pesisir bukan sekadar agenda lingkungan.

Laut menjadi ruang kehidupan, sumber penghidupan, jalur transportasi sekaligus bagian dari identitas masyarakat Maluku.

Karena itu, ketika sampah masuk ke kawasan pesisir dan laut, dampaknya tidak berhenti pada persoalan estetika. Ia dapat bersinggungan dengan lingkungan, aktivitas ekonomi masyarakat serta kualitas ruang hidup.

Dititik inilah pengelolaan sampah menjadi bagian dari agenda pembangunan berkelanjutan.

Ambon membutuhkan pendekatan yang tidak hanya berorientasi pada mengangkut sampah dari rumah ke tempat pembuangan, tetapi juga mengurangi sampah dari sumbernya, meningkatkan pengelolaan, memperkuat edukasi masyarakat dan mencegah sampah masuk ke laut.

Salah satu dukungan yang ditawarkan Selandia Baru bukan hanya berkaitan dengan teknologi energi.

Duta Besar Selandia Baru untuk Indonesia, Phillip Taula, turut menyampaikan dukungan terhadap peningkatan kapasitas pemerintah daerah melalui program beasiswa dan short course.

Sebanyak 65 kuota beasiswa tersedia bagi staf pemerintah daerah.

Kesempatan itu menjadi penting karena transformasi energi dan pembangunan berkelanjutan membutuhkan aparatur yang mampu memahami persoalan secara teknis sekaligus mampu menerjemahkannya menjadi kebijakan di daerah.

Dengan peningkatan kapasitas SDM, pengetahuan yang diperoleh tidak berhenti pada individu, tetapi diharapkan dapat kembali digunakan untuk memperkuat institusi pemerintahan dan pelayanan kepada masyarakat.

Program NZMATES Phase 2 sendiri didukung konsorsium institusi Selandia Baru bersama Yayasan Mercy Corps Indonesia.

Menariknya, Kota Ambon menjadi lokasi kantor operasional Program Management Office (PMO) NZMATES.

Posisi tersebut berpotensi menjadikan Ambon bukan hanya sebagai penerima manfaat program, tetapi juga sebagai salah satu titik penting dalam pengembangan kerja sama energi terbarukan di kawasan.

Di luar energi dan sampah, audiensi juga menyentuh persoalan air bersih.

Kondisi geografis Kota Ambon membuat penyediaan air bersih memiliki tantangan tersendiri. Karakter wilayah, kondisi topografi dan persebaran permukiman membutuhkan pendekatan yang tidak selalu sama dengan kota-kota yang berada di wilayah daratan luas.

Persoalan air kemudian menjadi bagian dari kebutuhan dasar yang harus terus diperkuat seiring pertumbuhan kota.

Di sinilah kerjasama dan pertukaran pengetahuan dengan mitra internasional dapat membuka peluang untuk melihat berbagai pendekatan yang telah diterapkan di wilayah lain dengan karakter geografis serupa.

Ada satu hal lain yang tidak kalah penting dalam pertemuan tersebut: kehidupan sosial masyarakat.

Kota Ambon tumbuh dengan keberagaman masyarakat dan latar belakang sosial yang menjadi bagian dari identitasnya.

Karena itu, pembangunan tidak cukup hanya diukur dari berapa banyak infrastruktur yang dibangun, berapa besar investasi yang masuk, atau berapa banyak teknologi yang diterapkan.

Energi terbarukan membutuhkan masyarakat yang siap. Pengelolaan sampah membutuhkan perubahan perilaku. Sistem air bersih membutuhkan tata kelola. Sementara seluruh proses pembangunan membutuhkan kehidupan sosial yang harmonis agar dapat berjalan secara berkelanjutan.

Audiensi antara Pemkot Ambon dan Kedutaan Besar Selandia Baru pada akhirnya memperlihatkan bahwa tantangan kota kepulauan tidak dapat diselesaikan dengan satu kebijakan.

Energi, lingkungan, sampah, air bersih, kapasitas SDM dan kehidupan sosial saling berkaitan.

Bagi Pemkot Ambon, kerja sama dengan Selandia Baru menjadi bagian dari upaya memperluas jejaring pembangunan, membuka akses pengetahuan dan meningkatkan kapasitas daerah.

Sementara bagi Ambon sebagai kota kepulauan, agenda tersebut menyimpan harapan yang lebih besar: bagaimana kekayaan alam dan posisi geografis tidak hanya menjadi potensi, tetapi dapat diterjemahkan menjadi pembangunan yang berkelanjutan dan manfaat yang benar-benar dirasakan masyarakat.

Dari energi yang lebih bersih, sampah yang lebih tertata, laut yang lebih terjaga, air bersih yang lebih baik hingga aparatur yang semakin kompeten semuanya bermuara pada satu tujuan: membangun Ambon yang lebih tangguh, berkelanjutan dan siap menghadapi masa depan. (NS-02)

Views: 2
Facebook
WhatsApp
Email