Ditengah Duka, Gubernur Maluku Datang "Memeluk" Korban, Merasakan Asa-Merajut Damai dari Tanah Evav
InShot_20260330_192418003

Malra,Nunusaku.id,- Gubernur Maluku Hendrik Lewerissa langsung gerak cepat menyikapi konflik antar pemua di Ohoi Danar Kecamatan Kei Kecil Timur Kabupaten Maluku Tenggara (Malra).

Setelah menuntaskan agenda “Pukul Sapu Lidi” 7 Syawal 1447/H di Negeri Mamala dan Morela Kecamatan Leihitu Kabupaten Maluku Tengah (Malteng), Sabtu (28/3), Gubernur enggan tunggu lama. Besok paginya, Minggu (29/3) langsung terbang ke Bumi Larvul Ngabal.

Tujuannya jelas, meredakan ketegangan yang pecah menjadi bentrokan antar kelompok pemuda.

Peristiwa memilukan pada Kamis-Jumat (26-27/3) dini hari itu menelan korban jiwa dan luka-luka, serta kerugian material puluhan rumah. Buntut dari dugaan kesalahpahaman yang mengguncang harmoni persaudaraan di wilayah yang selama ini dikenal rukun.

Gubernur tidak datang sendiri. Ia hadir bersama jajaran forum komunikasi pimpinan daerah (Forkopimda) yaitu Kasdam XV/Pattimura, Wakapolda Maluku dan Kabinda Maluku serta Anggota DPRD Maluku fraksi Gerindra dapil Malra-Tual-Aru, Saodah Tethool.

Bupati Malra Thaher Hanubun dan Wakil Bupati Carlos Viali Rahantoknam serta Camat Kei Kecil Timur Selatan turut mendampingi Gubernur.

Barisan Forkopimda itu turun langsung ke lapangan, menunjukkan keseriusan negara hadir ditengah rakyat, bukan sekadar dari balik meja rapat.

Suasana di Ohoi Danar menyambut kedatangan rombongan dengan penuh harap. Walau masih menyimpan rasa cemas, warga berharap ada jalan damai yang bisa ditempuh.

Di hadapan warga yang berada di lokasi pengungsi Danar Ternate di Desa Maar, Gubernur Hendrik membuka suara dengan nada penuh ketegasan sekaligus kehangatan seorang pemimpin.

Ia juga menekankan perannya sebagai orang tua bagi seluruh Kabupaten/Kota di Maluku yang tak pernah menghendaki anak-anaknya bertikai.

“Seng ada pemimpin dan orang tua yang mau anak-anaknya bertikai. Sebagai orang tua, katong mau anak-anak hidup rukun. Tapi apa yang sudah terjadi, kita tidak bisa putar lagi. Biarkan itu jadi pelajaran. Mari katong tahan diri, hidup bae-bae,” ungkapnya.

Gubernur Hendrik kemudian menyampaikan pesan yang mengandung peringatan sekaligus harapan. “Kehadiran beta bersama Forkopimda bentuk nyata kehadiran negara dan pemerintah hadir ditengah masyarakat untuk mendamaikan basudara di Ohoi Danar. Kami datang untuk merangkul semua pihak” jelasnya penuh sendu.

Kehadiran WaKapolda dan Kapolres Malra disisi Gubernur, ketika mendatangi langsung orang tua korban jiwa, menjumpai para korban luka-luka dan puluhan rumah yang rusak berat menjadi simbol kuat bahwa proses hukum akan berjalan secara transparan dan profesional.

Gubernur menegaskan, segala penyelesaian harus diserahkan kepada aparat berwenang, agar tidak ada tindakan balas dendam yang justru menambah luka.

“Penegakan hukum harus berjalan sebab ini adalah negara hukum. Masyarakat saya minta tidak terhasut dan terprovokasi dan menyerahkan sepenuhnya langkah-langkah pemulihan pasca konflik kepada aparat keamanan dan pemerintah,” tegasnya.

Selain itu, Gubernur juga meminta Bupati Malra Thaher Hanubun agar melakukan upaya-upaya penanganan pasca konflik, sehingga warga yang berada di pengungsian bisa tenang, sekaligus mencegah kejadian serupa tidak terulang.

“Sebagai pemimpin, saya dan pa Bupati tentu tidak menghendaki situasi ini dimanapun terjadi. Tapi semua sudah terjadi dan tugas kita kini, memulihkan kondisi keamanan kembali pulih. Mari sudahi konflik, kedepankan dialog dan duduk bersama. Adat dan adab kita junjung,” pesannya.

Tak berhenti disitu, Gubernur bersama Forkopimda juga menyempatkan diri melihat rumah-rumah terbakar akibat konflik, serta mengunjungi korban kena panah dan keluarga korban yang meninggal dunia. Dalam suasana duka, ia berdiri ditengah keluarga yang berurai air mata.

“Atas nama Pemerintah Provinsi Maluku dan Kabupaten Maluku Tenggara, kami menyampaikan turut berbelangkasukawa yang sedalam-dalamnya,” ucap Gubernur dengan suara bergetar.

“Kami datang bukan sekadar melihat, tetapi untuk memberi dukungan moral. Keluarga yang berduka diberi kekuatan. Ini bukti bahwa pemerintah tidak tinggal diam. Apa yang keluarga rasakan, itu juga yang kami rasakan. Kami tidak kehendaki ada korban, tapi sekali lagi semua sudah terjadi dan kami tidak tutup mata,” sambung Lewerissa.

Dalam kesempatan itu, Gubernur menyerahkan santunan dari kantong pribadinya sebagai wujud kepeduliannya selaku seorang pemimpin. Demikian pula bantuan perlengkapan sekolah, pakaian, sembako dan tenda dari pemerintah ikut diserahkan.

Gestur sederhana namun penuh makna itu menjadi penguat bahwa negara hadir bukan hanya untuk menenangkan, tetapi juga mendampingi rakyat ditengah luka. (NS)

 

Views: 0
Facebook
WhatsApp
Email