
MALRA,NUNUSAKU.ID,– Ditengah kemeriahan Festival Pesona Meti Kei (FPMK) 2026, Gubernur Maluku Hendrik Lewerissa (HL) menyempatkan diri menghadiri Upacara Adat Buka Sasi Teripang di Ohoi Warbal, Kecamatan Kei Besar Selatan, Kabupaten Maluku Tenggara (Malra), pada 23–24 Oktober 2026.
Kehadiran Gubernur di Ohoi Warbal menjadi bagian dari kunjungan yang tidak hanya berfokus pada promosi pariwisata, tetapi juga menyentuh langsung tradisi dan kearifan lokal masyarakat pesisir Kepulauan Kei.
Di sela-sela agenda FPMK, Gubernur HL mengikuti rangkaian upacara adat teripang di Warbal dan Jemaatahar, sebelum menghadiri pembukaan Sidang MPL Sinode Gereja Protestan Maluku (GPM) di Kota Tual.
Kedatangan Gubernur disambut meriah masyarakat setempat. Anak-anak mengenakan pakaian adat hitam-putih tampil membawakan Tarian Burung Talang tanpa alas kaki di atas pasir. Penampilan mereka diiringi kelompok musik warga berbaju merah yang memainkan instrumen perkusi tradisional.
Bendera umbul-umbul berwarna-warni menghiasi dermaga, menambah semarak suasana penyambutan yang berlangsung dalam nuansa kebersamaan dan rasa syukur.
Puncak ritual berlangsung di tepi laut. Sejumlah tetua adat bersama warga berbaju merah berdiri di perairan dangkal, sementara tokoh agama memimpin pemberkatan menggunakan pelepah palma sebagai bagian dari prosesi adat dan doa memohon kelimpahan rezeki dari laut.
Bupati Malra Muhamad Thaher Hanubun turut memberi sambutan dibawah payung besar, didampingi unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) dan pendeta setempat. Ratusan warga menyaksikan prosesi tersebut dari dermaga.
Sasi Teripang, Tradisi Menjaga Laut
Bagi masyarakat Warbal, Sasi Teripang bukan sekadar ritual adat, melainkan aturan tradisional yang mengatur pemanfaatan sumber daya laut secara berkelanjutan.
Melalui mekanisme sasi, masyarakat dilarang mengambil hasil laut tertentu dalam jangka waktu yang telah ditetapkan. Sebelum sasi dibuka, pengambilan teripang, lobster, dan lola tidak diperbolehkan. Larangan tersebut bertujuan memberikan kesempatan bagi sumber daya laut untuk tumbuh dan berkembang sekaligus menjaga keseimbangan ekosistem.
Ketika masa sasi berakhir dan wilayah perairan dibuka kembali, pemanfaatan hasil laut tetap memperhatikan kepentingan bersama. Hasilnya tidak semata-mata untuk kepentingan individu, tetapi sebagian juga dapat digunakan bagi kebutuhan komunal, termasuk pembangunan rumah ibadah.
Upaya pelestarian itu diperkuat melalui program konservasi yang dijalankan Pemerintah Ohoi Warbal. Pemerintah desa adat tersebut telah membangun keramba pendederan dan menebarkan sekitar 1.000–1.500 anakan teripang pasir sebagai bagian dari upaya menjaga keberlanjutan populasi teripang.
Pariwisata Berakar pada Kearifan Lokal
Kehadiran Gubernur Maluku dalam upacara adat tersebut menjadi bagian dari perhatian pemerintah terhadap pelestarian tradisi masyarakat sekaligus pengembangan potensi pariwisata berbasis budaya dan lingkungan.
FPMK sendiri tidak hanya menampilkan keindahan alam dan tradisi penangkapan ikan khas masyarakat Kei, tetapi juga merefleksikan hubungan erat antara kehidupan masyarakat pesisir, adat istiadat, dan siklus alam.
Tradisi Buka Sasi Teripang di Warbal memperlihatkan bagaimana aturan adat dapat menjadi instrumen masyarakat dalam mengelola sumber daya laut. Nilai-nilai tersebut relevan dengan upaya menjaga kelestarian lingkungan sekaligus memastikan manfaat sumber daya alam dapat dirasakan secara berkelanjutan.
Melalui kunjungan langsung ke Warbal, perhatian terhadap tradisi lokal kembali menjadi bagian dari agenda pengembangan pariwisata Maluku, dengan adat, budaya, dan keberlanjutan laut sebagai unsur yang saling berkaitan. (NS)






