
AMBON,Nunusaku.id,- Ziarah iman penuh tantangan yang ditapaki Gubernur Maluku Hendrik Lewerissa ke puncak pegunungan Inamosol, Minggu (22/3) tampak meninggalkan kesan cukup mendalam dan membekas bagi warga setempat.
Airmata haru penuh syukur telah diluapkan ketika menyaksikan peristiwa penting yang dinanti puluhan tahun. Kini kesan itu mereka ungkapkan lewat sebuah tulisan pendek.
Begini isinya. Bapak Gubernur Maluku, Hendrik Lewerissa yang kami sayangi.
Kami di sini, di ujung jalan berlumpur, berbatu, terjal dan sangat berbahaya, dibalik kabut pegunungan Inamosol yang kadang membuat kami rindu dengan hiruk-pikuk dunia luar ingin menyampaikan sesuatu dengan gaya yang santai, karena kami tahu Bapak adalah pemimpin yang merakyat tidak suka dengan formalitas kaku yang membuat leher kaku.
Kami ingin menyampaikan terimakasih dengan tulus… Terima Kasih karena bapak datang menjenguk kami.
Ini adalah poin pertama yang harus kami tulis dengan huruf kapital “TERIMA KASIH TELAH DATANG MENJENGUK KAMI“.
Bukan karena bapak adalah Gubernur, bukan karena bapak membawa rombongan besar, dan bukan karena bapak meresmikan Gereja kami yang 29 tahun berdiri dengan susah payah.
Kami berterima kasih karena bapak datang dengan cara yang benar-benar manusiawi dan merakyat dengan menempuh jalan yang sama dengan kami, merasakan guncangan yang sama di setiap lubang dan batu besar, merasakan deg-degan yang sama ketika mobil merayap di tepi jurang yang dalamnya hanya Tuhan yang tahu.
Ibu Gubernur duduk tenang di dalam mobil, kata warga yang menyaksikan sendiri. Kami tahu itu bukan ketenangan biasa. Itu adalah keberanian yang diam-diam. Dan kami, yang sudah puluhan tahun menjalani jalan itu setiap hari, tahu betul bahwa keberanian seperti itu tidak dimiliki semua orang.
Bapak dan Ibu memilih untuk datang, bukan sekadar mendengar cerita dari laporan di atas meja. Itu, bagi kami, adalah bentuk penghormatan yang tak ternilai.
Terima Kasih karena Bapak Mendengar.
Kami tahu, Pak Gubernur. Di zaman sekarang, mendengar adalah skill yang langka. Banyak pejabat yang datang, berbicara, berfoto, lalu pergi. Telinga mereka sering kali tertutup rapat oleh jadwal yang padat dan urusan yang menumpuk.
Tapi bapak berbeda. Di ruangan sederhana Pastori Gereja Rumberu menjadi saksi bisu, setelah acara peresmian usai, bapak memilih untuk duduk bersama kami. Raja Rumberu, Musa Tibalya, berbicara dari hati. Pj Desa Rambatu, Daud Tenine, dan PJ Manusa Abe Neyte menyampaikan fakta di lapangan.
Para kepala desa lainnya bergantian bersuara. Dan Gerard Wakanno, ketua team penyusun proposal, menyerahkan setumpuk kertas yang berisi harapan kami selama bertahun-tahun.
Bapak tidak menyela. Tidak buru-buru melihat jam tangan. Tidak memberi jawaban diplomatis yang membuat kami harus menerjemahkan mana janji dan mana basa-basi. Bapak mendengar.
Sampai di titik itu, kami sebenarnya sudah merasa menang. Karena kadang, yang paling berat dari sebuah perjuangan bukanlah ketidakmampuan, melainkan ketidakpedulian. Dan bapak membuktikan bahwa bapak peduli.
Terima kasih karena Bapak telah memutuskan, tapi bapak tidak berhenti di mendengar.
Ketika Bapak menoleh ke Kepala Dinas PUPR, berdiskusi sejenak, kemudian berdiskusi dengan bapak Wakil Bupati SBB mengenai status jalan, lalu mengatakan bahwa jalan Inamosol akan dibangun melalui skema dana Inpres jujur saja, Pak Gubernur, kami agak sulit percaya di menit-menit pertama.
Bukan karena kami meragukan Bapak. Tapi karena sudah terlalu sering kami mendengar kata “ditindaklanjuti” yang kemudian lenyap seperti asap. Sudah terlalu sering kami melihat proposal kami menjadi tumpukan kertas di lemari, menunggu entah kapan dibuka kembali.
Namun cara Bapak berbicara, nada suara Bapak, dan bagaimana Bapak langsung berdiskusi dengan dinas teknis itu membuat kami percaya bahwa kali ini berbeda.
Bapak tidak mengatakan “akan kami pelajari.” Bapak tidak mengatakan “tunggu prosesnya.”
Bapak langsung memutuskan. Di tempat. Dengan cepat. Dengan keberanian.
Kami yang hadir di ruangan itu hanya bisa saling berpandangan, mencerna apa yang baru saja terjadi. Dan ketika kebenaran itu mulai meresap, yang tersisa hanyalah rasa haru yang sulit kami jelaskan dengan kata-kata.
Harapan Tertaut untuk Sang Pemimpin
Nah, Pak Gubernur, ini bagian yang sedikit canggung. Kami sudah mengucapkan terima kasih untuk kedatangan Bapak. Kami sudah mengucapkan terima kasih untuk pendengaran Bapak. Kami sudah mengucapkan terima kasih untuk keputusan Bapak.
Sekarang, izinkan kami sedikit “memelas” dengan gaya santai Bapak, tolong jangan lupakan kami.
Kami tahu bahwa janji yang diucapkan diatas podium mudah saja berubah menjadi angin lalu. Tapi kami juga tahu bahwa Bapak adalah pemimpin yang berbeda. Buktinya, Bapak berani datang ke tempat yang belum pernah diinjak Gubernur sebelumnya.
Maka izinkan kami mengingatkan dengan nada bersahabat ;
Pak Gubernur, jalan Waimital–Kawatu–Rumberu–Rambatu–Manusa itu sudah 80 tahun menjadi duka kami. Ibu-ibu hamil harus ditandu karena tak ada ambulans yang berani melintas. Anak-anak sekolah berjalan kaki berjam-jam. Hasil bumi yang melimpah hanya bisa kami tonton membusuk di kebun karena biaya angkut yang lebih mahal dari harga jualnya.
Kami tidak minta jalan beraspal dalam semalam. Kami hanya minta perhatian yang berkelanjutan. Karena sudah terlalu lama kami merasa menjadi anak tiri di negeri sendiri.
Tapi setelah Bapak datang, setelah Bapak mendengar, setelah Bapak memutuskan kami mulai percaya bahwa status “anak tiri” itu mungkin akan segera berakhir.
Kami menunggu bapak kembali, seperti yang telah diucapkan bahwa akan kembali hingga ke desa Manusa.
Pak Gubernur, kalau boleh jujur, perjalanan Bapak ke Rumberu Minggu kemarin adalah momen yang akan kami ceritakan kepada anak cucu kami.
“Dulu, pernah ada seorang Gubernur yang berani datang ke sini,” begitu kata kami nanti. “Jalanan masih rusak parah, mobilnya merayap di tepi jurang, tapi beliau dan istrinya tetap datang. Beliau mendengar keluhan kami, dan langsung memutuskan bahwa jalan ini akan dibangun.”
Kami tidak tahu kapan aspal itu benar-benar terhampar. Tapi kami tahu, di hari itu, kami akan mengingat lagi nama Bapak. Dan kami akan tersenyum, karena perjuangan panjang itu akhirnya menemukan ujungnya.
Sekali lagi, terima kasih, Pak Gubernur Bapak Hendrik Lewerissa dan Ibu.
Terima kasih untuk keberanian datang ke tempat yang tidak mudah dijangkau. Terima kasih untuk telinga yang terbuka lebar. Terima kasih untuk keputusan yang cepat dan berani.
Kami menunggu Bapak kembali suatu hari nanti ketika jalan itu sudah mulus, ketika kami tidak perlu lagi berdebar-debar setiap kali hendak keluar desa. Kami akan sambut Bapak dengan senyum yang lebih lebar dari hari ini.
Salam hangat dari pegunungan Inamosol; Masyarakat Kecamatan Inamosol (Rumberu, Rambatu, Manusa, dan sekitarnya). (***)









