
MALRA,NUNUSAKU.ID,– Musyawarah Pimpinan Paripurna (MPP) ke-XXXVII Angkatan Muda Gereja Protestan Maluku (AMGPM) resmi dibuka Ketua Majelis Pekerja Harian (MPH) Sinode GPM, Pdt. Sacharias Izak Sapulete, di Gedung Gereja Sumber Kasih, Jemaat GPM Ohoira, Kabupaten Maluku Tenggara (Malra), Minggu (18/10/26).
Pembukaan MPP diawali ibadah Minggu dan dihadiri sejumlah pejabat penting, diantaranya Bupati Malra Muhamad Thaher Hanubun, Walikota Tual Ahmad Yani Renuat, Wakil Bupati Malra Charlis Viali Rahantoknam, Ketua DPRD Maluku yang juga Ketua Panitia MPP, Benhur Watubun, Ketua DPRD dan Forkopimda Malra dan Kota Tual, anggota DPRD Maluku, pimpinan DPRD kabupaten/kota se-Maluku.
Gubernur Maluku Hendrik Lewerissa tidak dapat menghadiri secara langsung pembukaan setelah penerbangannya menuju Langgur dibatalkan akibat kabut asap yang masih menyelimuti wilayah Maluku.
Kehadirannya diwakili Bupati Malra Muhamad Thaher Hanubun yang membacakan sambutan tertulis Gubernur.
Lewerissa menegaskan, Angkatan Muda GPM memiliki peran strategis dalam membentuk kader bangsa yang berkualitas, beriman, serta mampu memberikan kontribusi nyata bagi pembangunan daerah dan bangsa.
Menurutnya, pemuda Gereja harus dipersiapkan menjadi sumber daya manusia yang unggul, berdaya saing, dan mampu mengambil bagian dalam berbagai peluang pembangunan di Maluku, bukan sekadar menjadi penonton di daerah sendiri.
Karena itu, Gubernur meminta dukungan Gereja untuk terus memperkuat pembinaan dan pengembangan kapasitas generasi muda agar mampu menjawab tantangan zaman sekaligus berkontribusi bagi kemajuan daerah.
“Apresiasi kepada Pengurus Besar Angkatan Muda GPM, panitia pelaksana, Pemerintah Kabupaten Maluku Tenggara, serta Pemerintah Kota Tual atas dukungan dan kerjasama dalam mensukseskan pelaksanaan MPP XXXVII AMGPM,” tandas Lewerissa.
Sementara, Ketua MPH Sinode GPM, Pdt. Sacharias Izak Sapulete, mengingatkan Pengurus Besar Angkatan Muda GPM bersama seluruh potensi organisasi agar menjadikan MPP sebagai momentum evaluasi yang kritis dan konstruktif terhadap perjalanan pelayanan, capaian program, serta dampaknya bagi organisasi dan masyarakat.
Ia mengapresiasi konsistensi pelayanan PB Angkatan Muda GPM yang tetap eksis dan setia menjalankan tugas organisasi di tengah tantangan geografis wilayah kepulauan yang kompleks serta keterbatasan keuangan.
“Evaluasi organisasi tidak boleh berhenti pada laporan kegiatan semata, tetapi harus mampu mengukur sejauh mana program yang dijalankan memberi dampak nyata bagi pengembangan pemuda dan pelayanan Gereja,” pinta Sapulette.
Setiap capaian, tambahnya, perlu dikonsolidasikan untuk memperkuat organisasi. Sementara kelemahan harus diperbaiki dan program yang belum terlaksana perlu dikaji kembali berdasarkan relevansi, kebutuhan, serta dampaknya terhadap pencapaian visi dan misi Angkatan Muda GPM.
Dengan demikian, MPP XXXVII diharapkan menjadi ruang konsolidasi dan evaluasi untuk memperkuat arah pelayanan serta memastikan Angkatan Muda GPM terus bertumbuh sebagai wadah pembinaan generasi muda gereja yang beriman, tangguh, dan berkontribusi bagi masyarakat serta pembangunan Maluku. (NS)






