Dari Luka Jadi Kekuatan, Ustadz Fatih Karim Ajak Anak Muda Ambon Berani Bangkit
IMG-20260816-WA0032

AMBON,Nunusaku.id,– Tidak semua luka harus berakhir dengan kesedihan. Sebagian justru dapat menjadi jalan untuk menemukan kekuatan, memperbaiki diri dan memberikan manfaat bagi orang lain.

Pesan itu terasa kuat dalam kegiatan DUDU BACARITA Deng Habib’s Episode 6 bertajuk “Catatan Hati Anak yang Runtuh” menghadirkan Ustadz Fatih Karim bersama sang istri, Ummu Sajja, di Ballroom Hotel Santika Premiere Ambon, Sabtu (15/8/26).

Kehadiran Ustadz Fatih Karim tidak hanya hadirkan tausiyah, tetapi juga membuka ruang bagi peserta untuk mendengarkan kisah perjalanan hidupnya yang penuh tantangan hingga menemukan titik balik melalui Al-Qur’an.

Dalam suasana yang hangat, Fatih mengawali ceritanya dengan mengungkapkan rasa bahagia karena untuk pertama kalinya dapat menginjakkan kaki di Ambon bersama istrinya.

Ia menyebut sebelumnya telah mengunjungi sejumlah wilayah Indonesia, termasuk Sabang dan Merauke. Karena itu, kedatangannya ke Ambon menjadi pengalaman yang menurutnya membuat perjalanan mengenal Indonesia terasa semakin lengkap.

Namun, dibalik senyum dan keberhasilannya hari ini, Fatih menyimpan perjalanan hidup yang tidak mudah.

Ia tumbuh dalam keluarga yang mengalami persoalan rumah tangga sejak dirinya masih kecil. Perpisahan kedua orang tua membuatnya harus menjalani masa pertumbuhan tanpa kehadiran kedua orang tua secara utuh.

Luka tersebut kemudian menjadi bagian dari perjalanan panjang yang membentuk dirinya.

Meski demikian, Fatih tidak menjadikan masa lalu sebagai alasan untuk terpuruk. Ia justru berusaha bangkit, menempuh pendidikan hingga menyelesaikan D3 Agribisnis di Universitas Padjadjaran dan kemudian melanjutkan pendidikan S1 Agribisnis di Institut Pertanian Bogor (IPB).

Titik balik dalam kehidupannya datang ketika ia mulai mengenal kajian Islam dan mendalami Al-Qur’an saat masih menjadi mahasiswa.

Dari sana, ia mulai mempelajari bahasa Arab, tafsir dan berbagai ilmu keislaman. Perlahan, cara pandangnya terhadap kehidupan berubah.

Pengalaman itulah yang kemudian mendorongnya untuk terlibat lebih jauh dalam kegiatan dakwah dan pendidikan, termasuk mengajak masyarakat untuk mengenal serta mencintai Al-Qur’an.

“Dari luka itulah kemudian saya bahagia. Saya tumbuh dari luka, saya tumbuh dari air mata, dan itu tidak menjadi alasan buat saya,” ungkap Fatih.

Dalam kesempatan tersebut, Fatih juga berbagi tentang perjalanan rumah tangganya bersama Ummu Sajja.

Ia mengakui, pengalaman masa lalu yang membekas dalam dirinya turut menjadi tantangan ketika membangun kehidupan bersama sang istri. Berbagai persoalan dan perbedaan sempat menguji perjalanan rumah tangga mereka.

Namun, keduanya memilih untuk terus belajar memahami, menerima dan saling memaafkan.

Bagi Fatih, pengalaman tersebut menjadi pelajaran bahwa setiap orang memiliki luka yang berbeda. Ada yang terluka karena keluarga, orang tua, pasangan, maupun berbagai persoalan kehidupan lainnya.

Karena itu, ia mengingatkan agar luka tidak dijadikan alasan untuk berhenti melangkah.

Menurutnya, seseorang justru dapat menjadikan pengalaman pahit sebagai energi untuk melakukan kebaikan dan memberikan manfaat kepada orang lain.

Fatih juga menceritakan sejumlah kegiatan sosial yang dilakukannya, termasuk pembangunan masjid di berbagai tempat. Baginya, berbagai aktivitas tersebut merupakan bentuk ikhtiar untuk memberikan manfaat sekaligus menjadi bagian dari baktinya kepada kedua orang tua.

Setelah Ustadz Fatih Karim membagikan kisah hidupnya, kegiatan tidak berhenti pada penyampaian cerita. Para peserta kemudian diberikan kesempatan untuk ikut berbagi.

Sesi tanya jawab berlangsung cukup hangat. Sejumlah peserta menyampaikan pertanyaan sekaligus membuka cerita mengenai pengalaman, keresahan dan persoalan kehidupan yang mereka hadapi.

Ustadz Fatih Karim bersama Ummu Sajja kemudian memberikan jawaban dan nasihat berdasarkan pengalaman serta sudut pandang yang mereka miliki.

Suasana Ballroom Hotel Santika pun terasa semakin dekat. Beberapa cerita peserta menghadirkan suasana haru, sementara momen lainnya diwarnai canda dan senyum.

Sesi tersebut menjadi salah satu bagian yang membuat kegiatan DUDU BACARITA Deng Habib’s Episode 6 terasa berbeda, karena bukan hanya pembicara yang berbagi cerita, tetapi peserta juga mendapat ruang untuk didengarkan.

Fatih dan Ummu Sajja mengingatkan bahwa setiap manusia memiliki perjalanan hidup masing-masing. Luka boleh ada, tetapi seseorang tetap memiliki pilihan untuk menentukan langkah berikutnya.

Antusiasme masyarakat Ambon juga menjadi perhatian Ustadz Fatih Karim.

Ia mengaku semula memperkirakan kegiatan tersebut hanya akan dihadiri sekitar 100 hingga 200 orang. Namun, perkiraan tersebut jauh berbeda dengan kondisi di lapangan.

Lebih dari 500 peserta hadir memenuhi Ballroom Hotel Santika Premiere.

Fatih menilai, tingginya kehadiran anak muda dalam kegiatan tersebut menjadi sinyal positif bagi masa depan Ambon dan Maluku.

“Standar sebuah daerah itu akan bangkit dimulai dari anak muda. Kalau anak mudanya sudah ikut kajian, berarti daerah itu punya ciri-ciri untuk menjadi daerah yang berkah dan berubah,” ujarnya.

Menurutnya, sebuah daerah akan memiliki masa depan yang kuat apabila generasi mudanya memiliki semangat untuk belajar, memperbaiki diri dan terlibat dalam kegiatan-kegiatan positif.

“Masa Depan Maluku Bergantung pada Anak Mudanya”

Di hadapan peserta, Fatih secara khusus menitipkan pesan kepada generasi muda Maluku.

Ia meminta anak muda untuk tidak berhenti belajar, tidak cepat merasa paling pintar dan terus berani mengembangkan potensi yang dimiliki.

Anak muda juga diminta memiliki kreativitas serta kemampuan berpikir kritis agar mampu menghadapi perubahan zaman.

“Bagaimana Maluku ke depan, bagaimana Indonesia ke depan, bagaimana umat Islam ke depan, itu bergantung anak mudanya. Kalau anak mudanya hebat, kalau anak mudanya kuat, kalau anak mudanya sehat, insya Allah generasi-generasi hebat akan muncul dari Ambon,” tegasnya.

Ia berharap generasi muda Ambon tidak hanya menjadi penonton perubahan, tetapi ikut mengambil peran dalam menciptakan masa depan daerah.

“Terus belajar, jangan pernah merasa pintar, terus improvisasi, banyak kreativitas yang digali, dan terus berpikir kritis. Insya Allah Ambon, Maluku akan tumbuh menjadi masa depan yang cerah karena anak mudanya hebat,” pungkasnya.

Kegiatan yang turut dihadiri Habib Rifqi Alhamid serta dimeriahkan Syauqi Alaydrus dan Gahwa Band itu pun berlangsung dalam suasana penuh kehangatan hingga akhir acara.

Bagi para peserta, DUDU BACARITA Deng Habib’s Episode 6 bukan sekadar pertemuan atau kajian. Kisah yang dibagikan malam itu menjadi pengingat bahwa setiap orang mungkin memiliki luka, tetapi selalu ada kesempatan untuk bangkit, belajar dan menjadikan luka sebagai kekuatan untuk memberikan manfaat bagi sesama. (NS-02)

Views: 11
Facebook
WhatsApp
Email