
SAPARUA,NUNUSAKU.ID,– Pelaksanaan Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Pattimura (Unpatti) angkatan LIII gelombang I di Pulau Saparua, Kabupaten Maluku Tengah, menunjukkan progres positif.
Hingga akhir Oktober 2026, berbagai program kerja mahasiswa di Negeri Haria dan Negeri Porto telah mencapai sekitar 75 persen, dengan sejumlah inovasi yang mulai menghasilkan luaran nyata bagi masyarakat.
Capaian tersebut diketahui setelah Ketua Pengelola KKN Unpatti sekaligus Dosen Pembimbing Lapangan (DPL), Prof. Ir. Jusuf Leiwakabessy, M.S., melakukan supervisi dan evaluasi langsung di dua negeri tersebut, Jumat (30/10/26) lalu.
Dalam kegiatan itu, Prof. Jusuf mendampingi 45 mahasiswa KKN yang terdiri atas 30 mahasiswa di Negeri Haria dan 15 mahasiswa di Negeri Porto.
Supervisi dilakukan untuk memastikan seluruh program berjalan sesuai kebutuhan masyarakat sekaligus mengevaluasi capaian dan manfaat kegiatan pengabdian yang telah dilaksanakan.
Berdasarkan hasil evaluasi, sejumlah program mahasiswa tidak hanya sebatas kegiatan lapangan, tetapi telah menghasilkan luaran konkret. Diantaranya dokumentasi video kegiatan, artikel publikasi yang telah memperoleh sertifikat Hak Kekayaan Intelektual (HKI), rancangan konsep Peraturan Negeri Haria, serta inovasi pengembangan produk ikan asap dengan memanfaatkan teknologi asap cair.
Prof. Jusuf menekankan pentingnya mengarahkan program KKN pada peningkatan kualitas dan nilai tambah produk unggulan masyarakat. Menurutnya, potensi lokal, khususnya sektor perikanan dan pangan, harus dikembangkan melalui inovasi pengolahan agar mampu meningkatkan daya saing ekonomi.
“Pengolahan ikan asap yang selama ini masih dilakukan secara tradisional perlu ditingkatkan, terutama dari aspek kualitas produk dan daya tahan, sehingga dapat menjangkau pasar yang lebih luas,” ungkapnya.

Melalui pendampingan mahasiswa, pengembangan teknologi pengolahan ikan menggunakan asap cair mulai diperkenalkan sebagai alternatif inovasi pengolahan hasil perikanan.
Selain itu, mahasiswa juga melakukan diversifikasi produk pangan lokal, seperti pengembangan sirup gula aren di Negeri Haria dan olahan keladi batu di Negeri Porto.
Inovasi tersebut diharapkan mampu meningkatkan kualitas, daya simpan, sekaligus nilai ekonomi produk unggulan masyarakat di kedua negeri.
Tidak hanya berfokus pada pengembangan produk dan UMKM, mahasiswa KKN juga mendorong penguatan pemasaran berbasis digital melalui pemanfaatan platform e-commerce dan pembuatan website negeri.
Langkah ini menjadi bagian dari upaya memperluas akses pasar sekaligus memperkenalkan potensi, produk unggulan, dan identitas Negeri Haria maupun Negeri Porto kepada masyarakat yang lebih luas.
Di bidang kesehatan, mahasiswa melaksanakan sejumlah program, antara lain skrining penyakit tidak menular, pemeriksaan buta warna, edukasi anemia, serta pengelolaan sampah berbasis prinsip 3R (Reduce, Reuse, Recycle).
Sementara pada sektor pendidikan, mahasiswa menghadirkan program bimbingan belajar bahasa Inggris bagi siswa sekolah dasar. Kegiatan ini diharapkan dapat membantu meningkatkan kemampuan dasar bahasa Inggris siswa, terutama di tengah keterbatasan tenaga pengajar.
Prof. Jusuf menegaskan, seluruh program KKN harus tetap berorientasi pada tema “Membangun Desa Melalui KKN Berdampak”.
Menurutnya, keberhasilan KKN tidak semata-mata diukur dari banyaknya kegiatan yang dilaksanakan mahasiswa selama berada di lokasi pengabdian. Lebih dari itu, keberhasilan harus dilihat dari manfaat, hasil nyata, serta keberlanjutan program yang dapat dirasakan masyarakat setelah masa KKN berakhir.
Karena itu, ia berharap berbagai inovasi dan luaran yang telah dihasilkan mahasiswa dapat dimanfaatkan dan dikembangkan lebih lanjut oleh masyarakat, pihak sekolah, serta pemerintah negeri setempat.
Dengan progres yang telah mencapai 75 persen dan beragam inovasi yang mulai diwujudkan, KKN Unpatti di Negeri Haria dan Negeri Porto diharapkan mampu hadirkan kontribusi nyata bagi penguatan ekonomi lokal, peningkatan kualitas pendidikan dan kesehatan, serta pemberdayaan masyarakat di Pulau Saparua. (NS)




