
AMBON,NUNUSAKU.ID,– Komitmen PT Pertamina Patra Niaga Aviation Fuel Terminal (AFT) Pattimura dalam mendorong pemberdayaan masyarakat di Maluku terus diwujudkan melalui berbagai program tanggungjawab sosial dan lingkungan (TJSL/CSR).
Tidak sekadar memberikan bantuan, Pertamina berupaya membangun kemandirian ekonomi masyarakat dengan mengembangkan potensi lokal, memperkuat keterampilan, membuka akses pasar hingga mendorong inovasi berbasis lingkungan.
Dua program yang kini memperlihatkan perkembangan positif adalah pemberdayaan Kelompok Tenun Ikat Mawar melalui inovasi pewarnaan alami serta pengembangan Desa Wisata Negeri Laha melalui pemanfaatan sampah plastik menjadi material ecobrick.
Keduanya menjadi gambaran bagaimana potensi budaya dan kepedulian lingkungan dapat dikembangkan menjadi kekuatan ekonomi masyarakat.
Tenun Ikat Mawar, Merawat Tradisi dengan Sentuhan Inovasi
Kelompok Tenun Ikat Mawar yang berdiri sejak 2019 awalnya hanya beranggotakan empat orang yang masih memiliki hubungan keluarga. Namun, berkat konsistensi dan pengembangan usaha, kelompok tersebut kini telah berkembang menjadi sekitar 20 anggota.
Lusi Kormasela, salah satu pelaku Tenun Ikat Mawar, menjelaskan bahwa perjalanan kelompoknya tidak terlepas dari upaya mempertahankan tradisi menenun khas Tanimbar sekaligus melakukan inovasi agar produk tetap diminati pasar.
Salah satu inovasi yang dikembangkan adalah penggunaan pewarna alami untuk benang tenun.
Menurut Lusi, pada awalnya proses pewarnaan alami dilakukan secara otodidak oleh para pendahulu, termasuk mama dan Mama Neti, dengan memanfaatkan bahan-bahan alam yang mereka cari sendiri.
Seiring waktu, kelompok tersebut memperoleh kesempatan mengikuti pelatihan pewarnaan alami sehingga kualitas warna yang dihasilkan semakin berkembang.
Jika sebelumnya warna yang diperoleh cenderung lembut, kini kelompok mampu menghasilkan warna yang lebih cerah dan beragam.
Perubahan juga terjadi pada bahan benang. Jika sebelumnya menggunakan benang sintetis, kini kelompok mulai menggunakan benang katun yang lebih lentur, lembut dan nyaman saat dikenakan.
Menariknya, inovasi tersebut tidak menghilangkan karakter motif tradisional tenun Tanimbar. Kelompok tetap mempertahankan motif-motif khas, sembari mengembangkan motif dari sejumlah daerah di Maluku.
Dalam mengikuti perkembangan industri fashion, Tenun Ikat Mawar juga memadukan warna tradisional dengan warna modern yang sedang menjadi tren.
“Kita tetap menggunakan motif-motif tradisional, tetapi warna kita inovasikan mengikuti tren fashion. Jadi, tidak harus satu kain menggunakan satu warna penuh, tetapi bisa dikombinasikan dengan warna lain seperti krem,” jelas Lusi, Senin (26/10).
Menurutnya, saat ini konsumen justru lebih tertarik pada kain dengan pewarna alami karena teksturnya lebih lembut, lentur dan nyaman digunakan untuk berbagai kebutuhan, baik pakaian maupun sarung.
Tidak berhenti pada produksi kain, sejak 2025 kelompok tersebut mulai mengembangkan produk turunan seperti gelang, kalung, anting, gantungan kunci hingga pakaian siap pakai.
Pengembangan ini tidak terlepas dari dukungan Pertamina sejak 2024 melalui pelatihan menjahit, bantuan mesin jahit dan mesin obras, fasilitasi pameran, akses pasar serta dukungan bahan baku.
Lusi mengakui, bantuan tersebut memberikan dampak nyata terhadap peningkatan produksi dan penjualan kelompok.
Sebab, jika sebelumnya mereka hanya mengandalkan penjualan kain tenun, kini produk turunannya memiliki nilai jual lebih terjangkau dan perputaran penjualan yang relatif lebih cepat.
Untuk pemasaran, kelompok memanfaatkan jalur online melalui Instagram dan TikTok dengan nama Tenun Ikat Mawar, serta pemasaran offline melalui rumah produksi dan berbagai pameran lokal maupun nasional.
Harapan Lusi, tradisi menenun khas Tanimbar tidak berhenti pada generasi saat ini.
Ia ingin generasi muda tidak hanya mengikuti perkembangan teknologi, tetapi juga memiliki kepedulian untuk menjaga dan mewariskan budaya menenun sebagai identitas daerah.
Taman Warna, Memperkuat Inovasi Pewarna Alami
Dukungan Pertamina terhadap Tenun Ikat Mawar juga diarahkan pada pengembangan inovasi yang berkelanjutan.
Iman Satrio Novianto dari Community Development Pertamina AFT Pattimura menjelaskan, pihaknya melihat potensi besar dari kain tenun yang dihasilkan kelompok tersebut.
Namun, potensi itu dinilai perlu dikembangkan agar produk tidak hanya dijual dalam bentuk kain mentah, tetapi memiliki nilai tambah melalui berbagai produk turunan.
Karena itu, Pertamina memberikan pelatihan menjahit dan desain, sekaligus mendukung pengembangan produk seperti baju, rompi, gelang, gantungan kunci dan kalung.
Dukungan pemasaran juga dilakukan melalui penyediaan etalase, fasilitasi keikutsertaan dalam pameran di Ambon maupun luar daerah serta bantuan operasional dan transportasi.
Salah satu inovasi yang sedang dikembangkan adalah pembangunan Taman Warna, yakni lokasi budidaya berbagai tanaman yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan pewarna alami.
Tanaman yang direncanakan antara lain indigo, secang dan kunyit. Lokasi tersebut berada tidak jauh dari rumah produksi kelompok Tenun Ikat Mawar.
Selain menyediakan bahan baku pewarna alami, program ini juga diarahkan untuk meningkatkan keterampilan kelompok dalam menghasilkan warna yang lebih kuat dan berkualitas.
Iman mengatakan, penggunaan pewarna alami memiliki nilai penting karena mendukung prinsip keberlanjutan lingkungan.
Limbah dari proses pengolahan bahan pewarna alami juga berpotensi dimanfaatkan kembali sebagai pupuk sehingga tidak terbuang percuma.
Dengan demikian, inovasi tersebut diharapkan memberikan manfaat sekaligus bagi lingkungan, keberlangsungan budaya dan peningkatan ekonomi kelompok.
Negeri Laha, Sampah Plastik Disulap Menjadi Destinasi Wisata
Selain pengembangan ekonomi kreatif berbasis budaya, Pertamina AFT Pattimura juga mendorong pengembangan Desa Wisata Negeri Laha melalui program pemberdayaan masyarakat berbasis lingkungan.
Annisa, Community Development Officer (CDO) Pertamina Patra Niaga AFT Pattimura, menjelaskan bahwa pendampingan program di Negeri Laha mulai dilakukan pada 2025 dengan mengorganisir masyarakat, khususnya kelompok pemuda, untuk membangun desa wisata.
Salah satu persoalan utama yang dihadapi Negeri Laha saat itu adalah sampah kiriman dari laut yang menumpuk dan belum dikelola secara optimal.
Melihat kondisi tersebut, Pertamina bersama masyarakat kemudian menggagas pengolahan sampah plastik menjadi ecobrick.
Sampah plastik yang dikumpulkan masyarakat dicacah dan dimasukkan ke dalam botol plastik hingga padat. Ecobrick tersebut kemudian dimanfaatkan sebagai material pembangunan fasilitas di kawasan wisata.
Program ini tidak hanya bertujuan mengurangi timbulan sampah, tetapi juga mengubah limbah menjadi sesuatu yang memiliki nilai manfaat bagi masyarakat.
Dari program tersebut, Pertamina memberikan dukungan pembangunan fasilitas olahraga futsal dengan material ecobrick serta pembangunan gapura kawasan wisata.
Dampaknya mulai terlihat. Kawasan yang sebelumnya hanya menjadi lokasi aktivitas pelelangan ikan oleh masyarakat, kini berkembang menjadi salah satu tempat yang menarik perhatian pengunjung.
Bahkan, masyarakat dari Kota Ambon mulai berdatangan untuk menikmati suasana wisata, termasuk kuliner khas Negeri Laha seperti ikan bakar dan nasi kelapa.
Annisa mengungkapkan, pengumpulan sampah plastik saat ini mencapai sekitar 200 kilogram per hari, yang berasal dari sampah laut maupun lingkungan masyarakat.
Kesadaran warga terhadap pengelolaan sampah juga semakin meningkat karena masyarakat mulai memahami bahwa sampah bukan sekadar limbah, tetapi dapat diolah menjadi material yang bermanfaat.
Program ini melibatkan sekitar 20 anggota kelompok pemuda sebagai penggerak utama. Namun, manfaat ekonominya dirasakan lebih luas oleh masyarakat Negeri Laha.
Salah satu dampak paling nyata terlihat pada meningkatnya aktivitas ekonomi mama-mama yang berjualan di kawasan tersebut.
Jika sebelumnya hanya sekitar empat hingga lima orang yang berjualan ikan, kini jumlah pedagang yang menjual ikan bakar, nasi kelapa dan aneka makanan lainnya terus bertambah hingga sekitar 15 orang.
Annisa menyebutkan, pendapatan pedagang yang sebelumnya rata-rata sekitar Rp400 ribu per hari kini dapat mencapai Rp 1 juta per hari.
Peningkatan kunjungan wisata juga membuat masyarakat semakin bersemangat mengembangkan usaha kuliner dan fasilitas pendukung.

Dari 20 Pemuda, Kini Menggerakkan Ekonomi Negeri
Ketua Pemuda Negeri Laha, Sulaiman Mewar, menceritakan bahwa gagasan pengembangan kawasan tersebut berawal dari keprihatinan terhadap tumpukan sampah kiriman yang memenuhi kawasan pesisir.
Saat Pertamina hadir dan melihat kondisi tersebut, muncul gagasan untuk menata lokasi berjualan sekaligus memanfaatkan sampah plastik sebagai bahan pembangunan.
Pemuda kemudian bergerak bersama masyarakat mengumpulkan botol plastik dan mengolahnya menjadi ecobrick.
Menariknya, masyarakat yang ikut mengumpulkan sampah juga mendapatkan nilai ekonomi.
Setiap botol ecobrick yang memenuhi standar kepadatan dibeli Pertamina seharga Rp4.000 per botol.
Harga tersebut dinilai lebih menguntungkan dibandingkan jika botol plastik hanya dijual sebagai sampah biasa.
Sulaiman menjelaskan, masyarakat bebas mengumpulkan dan membuat ecobrick sesuai kemampuan masing-masing. Setiap hasil pengumpulan dicatat sebelum dimanfaatkan sesuai kebutuhan pembangunan.
Menurutnya, antusiasme masyarakat terhadap program tersebut sangat luar biasa.
Bahkan, kawasan wisata Negeri Laha kini ramai dikunjungi, khususnya pada akhir pekan dan hari libur. Pengunjung tidak hanya berasal dari sekitar Negeri Laha, tetapi juga dari Kota Ambon.
Ia mengaku tidak menyangka kawasan yang awalnya hanya ingin ditata agar lebih bersih justru berkembang menjadi destinasi yang ramai dikunjungi.
“Awalnya kita hanya ingin membenahi tempat ini supaya sampah bisa ditata dan menghasilkan sesuatu yang bermanfaat. Tetapi setelah dibangun fasilitas futsal dan tempat makan, semakin banyak orang datang untuk melihat ecobrick dan menikmati wisata di sini,” ungkap Sulaiman.
Saat ini, terdapat sekitar 50 pelaku usaha yang berjualan makanan, ikan bakar, nasi kelapa dan berbagai kuliner lainnya di kawasan tersebut.
Bahkan, tingginya jumlah pengunjung membuat kapasitas tempat duduk dan tempat makan yang tersedia mulai terbatas.
Sulaiman mengatakan, pemuda dan masyarakat kini berinisiatif menambah fasilitas tempat makan agar mampu menampung pengunjung yang terus meningkat.
Ia menyampaikan apresiasi kepada Pertamina karena telah membantu melihat dan menjawab kebutuhan masyarakat.
Kedepan, pihaknya berharap dukungan serupa terus berlanjut, termasuk dari BUMN lainnya, agar pengembangan Negeri Laha sebagai destinasi wisata berbasis masyarakat dapat semakin berkembang.
Pengembangan Berkelanjutan, Siapkan Rumah Produksi Olahan Ikan
Program pemberdayaan Negeri Laha tidak berhenti pada pembangunan fasilitas
yang telah tersedia.
Annisa menjelaskan, pendampingan program direncanakan berlangsung sekitar lima tahun, sementara implementasi kegiatan di lapangan telah berjalan selama kurang lebih dua tahun.
Kedepan, Pertamina bersama masyarakat akan kembali mengembangkan fasilitas berbasis ecobrick sekaligus membangun rumah produksi ikan.
Melalui rumah produksi tersebut, mama-mama Negeri Laha akan diberdayakan untuk mengolah hasil perikanan menjadi produk makanan yang memiliki nilai tambah.
Jika selama ini ikan lebih banyak dijual dalam bentuk utuh atau dibakar, nantinya hasil perikanan dapat diolah menjadi berbagai produk yang bisa dipasarkan kepada pengunjung maupun dijadikan oleh-oleh khas Negeri Laha.
Langkah ini diharapkan membuka peluang usaha baru, memperluas keterlibatan perempuan dalam kegiatan ekonomi produktif serta meningkatkan nilai tambah hasil perikanan lokal.
Pada akhirnya, dua program pemberdayaan yang dikembangkan Pertamina AFT Pattimura tersebut memperlihatkan bahwa pembangunan masyarakat tidak harus dimulai dari sesuatu yang besar.
Melalui pelestarian tenun ikat, inovasi pewarna alami, pengolahan sampah menjadi ecobrick hingga pengembangan wisata kuliner, potensi lokal dapat diubah menjadi kekuatan ekonomi yang memberikan manfaat langsung bagi masyarakat.
Dari benang tenun yang diwariskan leluhur hingga botol plastik yang disulap menjadi material pembangunan, keduanya menghadirkan pesan yang sama: budaya harus tetap hidup, lingkungan harus dijaga, dan ekonomi masyarakat harus terus bertumbuh. (NS)





