
AMBON,Nunusaku.id,- Persoalan minuman keras (Miras), narkoba, hingga tingginya pengangguran di kalangan pemuda kembali mencuat dalam audiensi antara Kapolda Maluku Irjen Pol. Dadang Hartanto dan perwakilan ibu-ibu dari lima desa di Kecamatan Leihitu, Senin (20/4/26).
Dibalik pertemuan yang tampak formal itu, terungkap kegelisahan warga terkait potensi konflik sosial yang masih mengintai wilayah tersebut.
Audiensi yang berlangsung di ruang courtesy call Mapolda Maluku itu dihadiri sejumlah pejabat utama, antara lain Dir Intelkam, Dir Binmas, Kabid Humas, Pakor Polwan, serta perwakilan Polwan.
Dari unsur masyarakat, hadir pengurus Wanita Islam Maluku dan perwakilan ibu-ibu dari Desa Mamala, Morela, Hitu Lama, Hitumesing, dan Wakal.
Perwakilan ibu-ibu kelima desa itu secara terbuka mengaku, peredaran miras dan narkoba dinilai semakin meresahkan dan kerap menjadi pemicu bentrokan di masyarakat.
“Kalau tidak ditangani serius, ini bisa terus memicu konflik,” pintanya.
Selain itu, mereka juga menyoroti minimnya lapangan kerja bagi pemuda. Kondisi ini dinilai memperbesar risiko keterlibatan generasi muda dalam aktivitas negatif, termasuk konsumsi Miras dan tindakan kekerasan.
Menanggapi hal tersebut, Kapolda tidak menampik adanya persoalan mendasar dibalik konflik sosial yang terjadi. Ia bahkan mengakui, akar masalah tidak semata pada miras atau narkoba.
“Miras dan narkoba itu pemicu. Tapi akar utamanya adalah ego kelompok dan lemahnya kepatuhan terhadap norma dan hukum,” kata Dadang.
Pernyataan ini mengindikasikan, penanganan konflik di Maluku tidak cukup hanya melalui penindakan hukum terhadap peredaran miras dan narkoba, tetapi juga menyentuh persoalan sosial yang lebih dalam.
Kapolda menilai, lemahnya kontrol sosial di masyarakat turut memperparah situasi. Dalam banyak kasus, konflik dipicu hal-hal kecil yang kemudian membesar karena tidak adanya mekanisme penyelesaian yang efektif di tingkat komunitas.
Disisi lain, ia menekankan pentingnya peran keluarga, khususnya ibu, dalam mencegah potensi konflik sejak dini. “Pola komunikasi dalam keluarga berpengaruh besar terhadap perilaku anak dan remaja,” sebut Kapolda.
Namun demikian, pendekatan berbasis keluarga dinilai belum cukup tanpa dukungan kebijakan lebih luas, termasuk penciptaan lapangan kerja dan penguatan program sosial bagi pemuda.
Dalam kesempatan itu, warga juga mendorong adanya kolaborasi lebih konkret antara kepolisian dan masyarakat, salah satunya melalui pembentukan “Mama-Mama Sahabat Polisi”.
Inisiatif ini diharapkan tidak berhenti sebagai simbolik, tetapi benar-benar menjadi saluran komunikasi dan deteksi dini konflik di tingkat akar rumput.
“Kami akan tetap kedepankan pendekatan persuasif, namun penindakan hukum terhadap pelanggaran, khususnya narkoba dan miras, akan dilakukan secara tegas,” ungkap Dadang.
Perjumpaan ini sekaligus memperlihatkan persoalan keamanan di wilayah Leihitu berkaitan erat dengan kondisi sosial dan ekonomi masyarakat. Tanpa penanganan yang komprehensif, kekhawatiran warga soal konflik berpotensi terus berulang. (NS)








