
Jakarta,Nunusaku.id,- Budaya kepatuhan menjadi sangat penting dan urgen dalam sebuah perbankan, guna memastikan bank tetap sehat. Hal yang sama pun harus diwujudkan di bank daerah seperti Bank Maluku-Maluku Utara (Malut).
Karena itu forum kepatuhan yang menghadirkan jajaran Komisaris, Direksi, kepala divisi, satuan kerja (Satker) serta kepala cabang maupun cabang pembantu menjadi ruang strategis untuk menyamakan persepsi terhadap kinerja.
“Kerja perbankan pasti banyak resiko, itu tidak bisa kita hindari. Namun penting bagaimana segala resiko yang ada bisa kita minimalisir dan selesaikan itu jauh lebih utama sehingga bank Maluku-Malut tetap jadi bank sehat,” tegas Direktur Kepatuhan Bank Maluku-Malut Abidin saat pertemuan forum Kepatuhan tahun 2026 di GiiA Hotel Maluku Jakarta, Selasa (24/2).
Menurutnya, sebagai bagian dari Bank Maluku-Malut, merasa bersyukur terhadap hasil pertanggungjawaban keuangan bank tahun 2025 yang diapresiasi pemegang saham pengendali dan para pemegang saham dalam RUPS tahunan kemarin, yang menunjukkan kinerja baik dan positif insan bank.
Meski dibalik keberhasilan itu, ada banyak temuan dan catatan secara eksternal maupun internal yang harus diperbaiki secara baik dan bertanggungjawab sekembali ke cabang maupun Satker dan divisi masing-masing.
“Segala capaian kita tahun lalu bukti bahwa teman-teman di cabang sudah bekerja maksimal. Selanjutnya bagaimana kita tingkatkan pelayanan dan menekan non-performing load (NPL) atau kredit macet. Ini catatan evaluasi kita. Dimana rasio NPL adalah indikator utama kesehatan bank,” jelasnya.
Selain itu tambah Abidin, forum kepatuhan yang telah dibentuk sejak 2023 menjadi ruang strategis melakukan sosialisasi peraturan baru kepada karyawan baik POJK, peraturan perbankan dan UU lainnya, termasuk ketentuan internal. Serta membahas isu-isu Kepatuhan di masing-masing Satker.
“Kepatuhan menjadi tanggungjawab kita semua, baik kepala cabang dan KCP, kepala divisi/Satker, karyawan, Direksi maupun Komisaris. Sehingga nanti diakhir forum ini akan ditindaklanjuti dengan penandatanganan pakta integritas dan komitmen Kepatuhan yang berisi 8 poin utama,” tegasnya.
Sementara, Direktur Utama (Dirut) Bank Maluku-Malut, Syahrial Imbar mengingatkan seluruh insan bank, forum Kepatuhan ini bukan sekedar agenda rutin tapi forum komunikasi dan konsolidasi, penyamaan persepsi dan memastikan jajaran memahami bahwa Kepatuhan bukan fungsi administrasi tapi fondasi keberlanjutan bank dan reputasi bank.
“Resiko perbankan semakin kompleks saat ini. Baik resiko kredit, operasional, fraud, digital dan siber hingga resiko hukum dan reputasi. Karena itu tatakelola yang kuat bukan sebuah pilihan, tetapi kebutuhan strategis,” jelas Imbar.
Menurutnya, budaya Kepatuhan lahir dari keteladanan, konsistensi, keberanian menolak penyimpangan dan integritas diri, dan itu tanggungjawab seluruh jajaran. Dimana kepala cabang sebagai compliance leader di wilayah masing-masing, dengan pejabat utama adalah role model budaya integritas.
“Jika pimpinan disiplin, organisasi juga akan disiplin pula. Karena itu sudah ditegaskan setiap waktu, zero tolerance bagi fraud. Kita akan dorong ke penegak hukum. Sebab integritas harus jadi kekuatan kita. saya tidak ingin bank tumbuh cepat tapi rapuh. Saya ingin bank sehat dan kuat,” demikian Imbar.
Forum Kepatuhan ini menghadirkan Deputi Direktur Koordinasi Pengawasan Bank Daerah, Oky Prananto Utomo sebagai narasumber utama.
Di akhir sesi, dilakukan penandatanganan Pakta Integritas dan komitmen Kepatuhan oleh Komisaris, Direksi, Kepala Cabang dan Kepala Divisi/Satker, serta pemberian apresiasi kepada Cabang dan Divisi/Satker yang paling tinggi tingkat Kepatuhan tahun 2025.
Kepatuhan perbankan seperti “nyawa” industri keuangan, guna mencegah pencucian uang (money laundering), menghindari pendanaan terorisme, melindungi nasabah dari penipuan, menjaga stabilitas sistem keuangan dan meningkatkan kepercayaan masyarakat.
Forum kepatuhan ini bukan sekadar formalitas. Ini adalah komitmen bersama untuk bank tumbuh secara sehat, memperkuat integritas, menjaga stabilitas. Sebab bank yang besar belum tentu bermartabat, tetapi bank yang berintegritas pasti berkelanjutan. (NS)




