
AMBON,Nunusaku.id,- Provinsi Maluku dengan topografi perbukitan dan curah hujan tinggi sering menghadapi longsoran tanah dan jatuhan batuan yang mengancam keslamatan pengguna jalan dan infrastruktur vital.
Sebagaimana terlihat misalnya dalam berbagai insiden yang terjadi di Maluku terutama Kota Ambon pada bulan agustus 2025 yang menimpa ruas jalan kawasan Batu Koneng Desa Poka.
Berangkat dari kegelisahan tersebut, Himpunan Pengembangan Jalan Indonesia (HPJI) DPD Maluku menginisiasi kegiatan seminar sebagai wadah berbagi pengetahuan teknis untuk mengatasi tantangan itu.
Seminar yang berlangsung sehari di aula kantor BPJN Maluku, Rabu (10/12) dengan fokus tiga metode yakni observasi lapangan, paparan materi untuk mitigasi penanganan dari narasumber dan pengenalan software design longsoran, dibuka Sekretaris Umum (Sekum) HPJI, Ir. Heddy Rohandi Agah, M.Eng.
Observasi lapangan menyasar lokasi longsoran di Batu Koneng. Sedangkan narasumber yang dihadirkan untuk memberi pendalaman yakni Ir. Abraham Kalalimbong, ST (Akademisi Fakultas Teknik Unpatti) dengan materi “penyebab longsoran pada ruas jalan di provinsi Maluku”.
Muhammad Ihsan, ST (pemanfaatan teknologi LIDAR untuk mitigasi bencana longsoran), Thea Pradita, ST.MM dan Arya Imam Harjanto, ST (mitigasi longsoran dan jatuhan batu pada ruas jalan di Maluku).

Tantangan global seperti perubahan iklim, digitalisasi, serta tekanan terhadap efisiensi anggaran membuat peran organisasi ini semakin penting sebagai mitra strategis yang mampu memberi rekomendasi berbasis keilmuan dan praktik terbaik.
“Seminar ini diharapkan memperkokoh peran HPJI sebagai organisasi profesi yang tidak hanya menjadi forum teknis, tetapi juga pendorong lahirnya solusi konkret bagi kemajuan infrastruktur nasional dan daerah dengan menghadirkan upaya dan langkah mitigasi terhadap longsoran-jatuhan batu di ruas jalan provinsi di Maluku,” pintanya.
Sementara Ketua HPJI DPD Maluku, Julia Olivia Joris, ST. M.RegDev menyatakan, seminar ini relevan mengingat keterbatasan anggaran dengan adanya efisiensi keuangan dan keterbatasan sumber daya manusia (SDM) yang menghambat upaya mitigasi, sehingga diperlukan solusi inovatif seperti penataan lereng, sistem drainase dan edukasi masyarakat.
“HPJI berkomitmen mendukung koordinasi dengan berbagai stakeholder baik pemerintah pusat, daerah, swasta, akademisi dan masyarakat untuk menerapkan solusi teknis yang efektif, demi menjaga konektivitas, rasa aman dan kenyamanan bagi pengguna jalan,” tandasnya.
Selain observasi kondisi lapangan dan mitigasi penanganan, seminar yang hadirkan mahasiswa, HPJI DPD diluar Maluku, pemerintah daerah kabupaten/kota secara on-site dan online dengan total 100 peserta itu akan berakhir dengan pengenalan software design longsoran dari Maccaferri yaitu Macro Design.

Sebab berkaca dari bencana banjir hingga tanah longsor yang menelan banyak korban jiwa dan materi di Aceh, Sumatra Utara dan Sumatera Barat, menurutnya, banyak pelajaran dapat dipetik sebagai alarm bahwa alam perlu dijaga dan dipelihara untuk kelangsungan hidup saat ini dan kedepannya.
“Sadar penuh ketergantungan kita kepada alam, maka mari kita belajar dan diskusikan tantangan serta upaya mitigasi hari ini agar Maluku lebih mawas diri dan tangguh menghadapi tantangan kedepan,” ajak Julia.
Di tempat yang sama, Ir. Abraham Kalalimbong, ST mengaku, dengan kondisi topografi perbukitan dan curah hujan tinggi, Maluku sering menghadapi longsoran tanah dan jatuhan batuan yang mengancam keslamatan pengguna jalan dan infrastruktur vital, sehingga memang tidak ada cara lain selain mitigasi atau pencegahan.
“Tidak ada jalan lain, kita harus berpikir bagaimana upaya mitigasi kita lakukan, dengan standar-standar yang ada. Salah satunya dengan aktif mengedukasi masyarakat untuk tidak melakukan kegiatan-kegiatan yang mengakibatkan kerusakan lingkungan bahkan hingga terjadi longsor,” tandasnya.
Selain edukasi, hal kedua harus memperhatikan tentang pemeliharaan lingkungan; tidak boleh menebang pohon sembarangan, penataan lereng hingga menata sistem drainase. Semua ini penting dalam perencanaan diawal untuk kenyamanan bagi pengguna jalan.
“Bicara mitigasi bukan hanya tugas kalangan ahli, teknis tapi seluruh masyarakat untuk bahu-membahu mencegah hal-hal buruk terjadi baik itu longsor maupun jatuhan batu yang mengganggu pengembangan infrastruktur maupun kenyamanan pengguna jalan,” demikian Abraham. (NS)

