Bantah Tudingan "Perintah" Otak-Atik Pasar Mardika, Salman: Itu Fitnah, Jangan Bawa Nama Gubernur
oppo_2

AMBON,Nunusaku.id,- Pemberitaan salah satu media online yang menuding Salman Alfarisi memberi “perintah” otak atik praktik pengaturan lapak di Gedung Pasar Mardika, ternyata tidak benar.

Selain itu, tudingan tersebut juga sangat tidak berdasar dan hanya fitnah yang sengaja disebar guna “memuluskan” rencana pihak tertentu untuk “berkuasa” penuh di gedung Pasar Mardika, dengan menyeret namanya sebagai orang dekat Gubernur Maluku.

Bantahan keras terkait tudingan itu disampaikan langsung Salman Alfarisi. Dia pun berencana menempuh jalur hukum terkait isu yang sudah mencemarkan nama baiknya itu.

“Isu yang menyeret nama saya, bahkan telah diberitakan salah satu media online, hanya fitnah dan sangat tidak berdasar karena tidak ada konfirmasi langsung ke saya. Saya sudah putuskan tempuh jalur hukum,” tegas Salman kepada wartawan di Ambon, Selasa (28/10/25).

Salman menjelaskan, tuduhan adanya “orang suruhan di pasar” yang menarik uang dari pedagang sebesar Rp 1 juta sama sekali tidak benar.

Menurut dia, peristiwa sebenarnya justru berawal dari adanya rencana pemindahan satu pedagang bernama Sartini secara sepihak oleh seseorang yang mengklaim bahwa tempat yang ditempati Sartini, depan gedung pasar Mardika baru adalah miliknya.

Yang bersangkutan malah seenaknya meminta Sartini untuk keluar karena dia akan memasukkan pedagang lain untuk berjualan.

“Fakta yang terjadi, ada salah satu pedagang yang berjualan di depan, mau dipindahkan, dan hanya 1 pedagang, lalu mau dikasih masuk orang lain. Karena itu ada yang namanya Ahmad Marasabessy membela dan mau tetap pertahankan pedagang itu,” ujar Salman.

Ia menambahkan, keterangan Ahmad bahwa “ambil uang satu juta” hanya bentuk bahasa untuk mengamankan pedagang tersebut (Sartini) agar tidak dikeluarkan, bukan transaksi penyerahan uang seperti yang diisukan/diberitakan salah satu media online.

“Sebenarnya tidak ada penyerahan uang satu juta seperti yang diberitakan. Itu hanya cara untuk melindungi pedagang dari pihak-pihak yang tidak bertanggungjawab,” ujarnya lagi.

Lebih lanjut, Salman menegaskan, pemberitaan tersebut juga secara tidak langsung telah menyeret nama “Gubernur” yang sebetulnya tidak ada sangkut paut sama sekali.

“Bahkan saya pun tidak pernah memberi perintah atau apapun bentuknya kepada siapapun terkait pasar Mardika sebagaimana yang dituding,” kata Salman.

Ia memastikan akan melaporkan pihak-pihak yang menyebarkan isu tersebut ke kepolisian untuk menjaga nama baik Gubernur serta mencegah fitnah lebih lanjut yang dapat merusak citra pemerintah.

“Pa Gubernur sangat konsern untuk pembenahan dan penataan Gedung pasar Mardika agar lebih baik. Karena itu salah satu jantung ekonomi daerah. Dan semua masyarakat yang berdagang itu warga Maluku. Jadi jangan digiring isu yang tidak benar,” tegasnya.

Tidak Ada Penyerahan Uang

Sementara itu, pedagang gedung pasar Mardika baru, Sartini yang disebut dalam pemberitaan membenarkan bahwa memang sempat terjadi pertengkaran di area pasar. Namun, ia menegaskan tidak pernah memberikan uang kepada siapapun.

“Kakak Mat (Ahmad Marasabessy) pasang badan untuk beta dan bilang begitu hanya untuk menenangkan situasi, bukan karena ada uang. Beta tidak pernah kasih uang satu juta atau berapa pun,” ujar Sartini.

Sartini menambahkan, persoalan di lapak pasar berawal dari perdebatan perebutan tempat jualan, bukan urusan uang.

“Beta cuma disuruh keluar dari tempat itu, katanya bukan tempat beta, padahal dari awal beta sudah berjualan di situ,” ujarnya.

Murni Soal Pedagang & Lokasi; Jangan Digiring ke Ajudan

Dalam pernyataannya, pedagang lain Ahmad Marasabessy, yang turut hadir saat keributan di lokasi, membenarkan sempat terjadi perdebatan antara pedagang dan beberapa pihak terkait pemindahan salah satu pedagang (Sartini).

Ia pun menegaskan, tidak ada keterlibatan Gubernur Maluku maupun ajudannya dalam persoalan itu.

“Memang ada perdebatan antara pedagang dengan bapak Udin dan bapak Dullah soal lahan jualan. Saya pun tidak pernah membawa nama Gubernur atau Ajudan manapun. Ini murni masalah pedagang dan lokasi,” jelas Ahmad.

Ahmad juga menegaskan tidak ada transaksi uang Rp 1 juta sebagaimana diberitakan.

“Kalau bicara penagihan, itu urusan antara pedagang dan pengelola pasar. Tidak ada kaitan dengan ajudan-ajudan. Dan soal 1 juta itu, itu sebenarnya, beta bilang saja, bahwa beta sudah ambil uang dari Sartini, itu supaya mereka tidak meminta Sartini keluar dari situ. Tapi sebenarnya, tidak ada uang yang beta ambil, atau dikasih pedagang (Sartini),” katanya.

Polemik ini bermula dari isu yang beredar di media sosial dan situs media TrendingMaluku.com, yang menuding adanya praktik percaloan dan makelar lapak di kawasan Pasar Mardika, Kota Ambon, dengan menggiring nama “Ajudan Gubernur”.

Dalam berita itu, disebutkan bahwa sejumlah pedagang membayar “uang keamanan” untuk bisa berjualan di area tertentu.

Namun, keterangan dari pihak-pihak yang disebut dalam berita tersebut justru membantah keras tudingan itu. Mereka menilai pemberitaan itu tidak berimbang, tidak melalui konfirmasi, dan cenderung menyesatkan publik. (NS)

Views: 244
Facebook
WhatsApp
Email