
AMBON,Nunusaku.id,- Dua negeri tetangga, Mamala dan Morela Kecamatan Leihitu Kabupaten Maluku Tengah (Malteng) kembali menggelar pesta adat dan budaya atraksi pukul sapu lidi, Senin (7/4/25).
Atraksi yang rutin tiap tahun bertepatan momen 7 Syawal 1446 H untuk mengenang perjuangan kapitan Tulukabessy di benteng Kapahaha.
Walau dihelat terpisah di lapangan masing-masing Negeri, namun atraksi budaya itu tetap mengundang daya tarik ribuan pasang mata untuk menyaksikannya, menjadi cerita yang tak lekang oleh waktu untuk diteruskan ke anak cucu.
Khusus di Morela, tradisi “Pukul Sapu” itu ikut melibatkan saudara gandong Negeri Soya dengan Totobuang dan tarian katreji di awal acara. Tak ketinggalan Gandong Waai dengan paduan trompet juga ambil bagian mengantar iring-iringan Gubernur dan Forkopimda Maluku.
Sakralnya tradisi Pukul Sapu di Negeri Latu Hausihu Morela itu makin terasa tatkala Upulatu Maluku, Hendrik Lewerissa menyulut obor Kapitan Tulukabessy, setelah menerimanya dari empat orang pembawa obor yang merupakan turunan langsung sang Kapitan.
Kemudian Upulatu Maluku bersama Inalatu dan Forkopimda Maluku, Bupati Maluku Tengah dan istri, Anggota DPD RI Novita Anakotta dan Bisry Latuconsina, Wakil Ketua dan anggota DPRD Maluku serta tamu lainnya diberi pengormatan memukul perdana para peserta dengan tiga ikat Sapu Lidi.
Upulatu Maluku, Hendrik Lewerissa mengaku, momen kultural “Pukul Sapu” ini bukan rutinitas biasa, tetapi sesungguhnya memiliki makna sangat mendalam yakni mempererat ikatan persaudaraan sesama orang basudara.
“Pukul Sapu ini atraksi budaya yang sangat unik dan menjadi tradisi masyarakat Latu Hausihu Morela. Momen kultural budaya ini sangat ditunggu-tunggu masyarakat Maluku, termasuk wisatawan lokal maupun nasional,” jelas Gubernur.
Selain itu, dikatakannya, tradisi “Pukul Sapu” ini sudah menjadi icon pariwisata di Bumi Raja-raja setiap tahunnya. Atraksi budaya ini juga memiliki nilai historis tersendiri yakni nilai heroik dan perjuangan, yang menunjukkan tekad dan keberanian orang Maluku melawan penjajah.
Realisme historis kata Gubernur, menunjukkan bahwa atraksi “Pukul Sapu” merupakan manifestasi dari perjuangan Kapitan Tulukabessy bersama para pejuang yang dengan gagah berani melawan kaum penjajah untuk mempertahankan tanah tumpah darah Maluku.
“Refleksi perjuangan itu mengajarkan kepada kita, sejatinya seorang pejuang rela korbankan jiwa dan raga untuk bangsa, lebih pentingkan kepentingan bangsa dari diri sendiri dan kelompok. Serta berjiwa besar dan menjadi figur pemersatu rakyatnya. Inilah sesungguhnya semangat dan jati diri kita sebagai anak Maluku yang harus dipertahankan,” jelasnya.

Lebih lanjut menurutnya, atraksi “Pukul Sapu” adalah salah satu kearifan lokal yang merupakan cerminan dari kekayaan tradisi dan budaya yang tumbuh dari interaksi masyarakat dengan lingkungan alam yang berlimpah.
Nilai-nilai seperti kebersamaan, toleransi dan kehormatan terhadap adat menjadi dasar kehidupan sosial harmonis di wilayah Maluku.
“Ini warisan budaya para leluhur dengan nuansa keagamaan yang kental, merupakan nilai historis dan penjelmaan dari nilai keberanian yang harus terus tertanam dalam karakter anak-anak Maluku, khususnya generasi muda Morela dalam menjaga dan melestarikan pusaka hidup ini secara turun-temurun,” tandasnya.
Melalui momentum adat “Pukul Sapu” ini, Gubernur berharap, menjadi perenungan dan perkuat tekad bersama untuk terus mengamalkan nilai-nilai kearifan lokal dalam kehidupan sehari-hari.
“Mari terus bergandeng tangan membangun Maluku lebih baik lagi sesuai semangat gotong royong dan kebersamaan yang telah menjadi ciri khas kita. Sambil mengingat kata-kata bijak para leluhur, ale rasa beta rasa, potong di kuku rasa di daging, sagu salempeng di bagi dua, katong samua satu gandong,” pesannya.
Sementara itu, Bupati Malteng Zulkarnain Awat Amir menegaskan, tradisi “Pukul Sapu” ini mengajarkan pentingnya nilai kekompakan, kebersamaan, keberanian, pantang menyerah dan pengorbanan yang harus tertanam dalam relasi sosial hingga ke anak cucu di Negeri Morela.
“Nilai-nilai ini gambaran dari masyarakat Morela yang harus dipertahankan. Pemerintah Kabupaten akan terus mendukung acara ini karena sejalan dengan upaya untuk mengembangkan tradisi dan budaya sebagai kekuatan, serta guna memajukan ekonomi masyarakat menuju Malteng Bangkit,” jelas Bupati Ozan.
Di tempat yang sama, Upulatu Morela, Fadel Sialana mengapresiasi kehadiran Upulatu Maluku, Forkopimda dan rombongan serta Bupati Malteng untuk menyaksikan atraksi “Pukul Sapu” yang merupakan gambaran semangat keberanian, kebersamaan, pantang menyerah dan persaudaraan yang harus dijaga masyarakat Latu Hausihu setiap hidupnya.
Atraksi makin semarak dan kental budayanya dengan tampilan tarian cakalele dan tari Saliwangi.
Diketahui, usai membuka dan memukul Sapu Lidi perdana di Negeri Morela, giliran Gubernur sebagai Upulatu Maluku hadiri momen yang sama di lapangan Negeri Mamala.
Jarak antar kedua Negeri yang berdekatan atau “tetangga” itu membuat Gubernur memilih tidak naik mobil, namun berjalan kaki dari Latu Hausihu Morela ke Negeri Pausela Amalatu Mamala. (NS)





