
AMBON,Nunusaku.id,- Di hari ke-49 menjadi pemimpin di Provinsi Maluku, Gubernur Hendrik Lewerissa dan Wakil Gubernur Abdullah Vanath berkesempatan menghadiri Pukana 7 Syawal Negeri Larike Kecamatan Leihitu Barat Kabupaten Maluku Tengah, Selasa (8/4/25).
Di Larike, Gubernur, Wagub beserta Bupati Malteng, Zulkarnain Awat Amir disambut Raja Larike, Mansur Lausepa bersama tokoh agama, tokoh adat, tokoh pemuda dan masyarakat setempat dengan kain gandong putih yang dibentangkan melingkari ketiganya, serta tabuhan Hadrat.
Walau sempat diguyur hujan gerimis, namun masyarakat Larike tetap antusias menyambut orang nomor satu dan dua di Maluku itu hadir di momen istimewa yang rutin digelar setiap 7 Syawal.
Menurut Gubernur, event Pukana 7 Syawal Negeri Larike ini satu kekayaan budaya yang luar biasa, merupakan warisan leluhur yang sangat bernilai tinggi.
“Pukana memperkuat tali silaturahmi diantara anak negeri. Memperkuat solidaritas, merawat persaudaraan diantara sesama anak negeri Larike,” tandas Lewerissa.

Sebagai orang Maluku, kata Lewerissa, biarlah semangat Pukana yang dilaksanakan ini, cahaya dan energinya terpancar ke seluruh negeri di Bumi Raja-raja.
“Sebab katong boleh membangun gedung-gedung, jalan, jembatan, infrastruktur dan lainnya, tapi kalau katong gagal bangun persatuan dan kesatuan. Kalau katong lalai merawat perekatan-perekatan sosial, perkuat silaturahmi pela gandong orang basudara dan sebagainya maka percuma gedung-gedung yang katong bangun,” akunya.
“Percuma sarana dan prasarana yang dibangun pemerintah, dengan menghabiskan begitu banyak anggaran yang berasal dari uang rakyat, kalau katong lalai merawat persatuan, kesatuan dan solidaritas yang sungguh, tulus di kalangan masyarakat Maluku,” tegas Gubernur.
Dari Negeri Larike, orang nomor satu di Maluku itu pun menyerukan kepada masyarakat Maluku di Tenggara Raya, Pulau Buru, Pulau Seram, Kepulauan Lease dan Banda, semuanya adalah orang basudara.
“Katong samua basudara. Kalau ada perbedaan diantara kita, baik sifatnya personal, pribadi atau individu, jangan kita bawa atau geser jadi persoalan komunal. Jangan kita bawa jadi masalah kampung dan sebagainya,” pinta Lewerissa.
“Kita hidup di negara hukum Indonesia, dimana perangkat hukum, mekanisme dan sistem itu ada. Aparat penegak hukum itu ada. Maka kalau ada perselisihan, sengketa, kita harus percayakan hukum untuk menjalankan proses dan mekanismenya. Ini negara hukum, bukan negara kekuasaan,” tandasnya.
Masyarakat Maluku tambah Gubernur, adalah orang-orang beradab, beragama, berbudaya. Mempunyai nilai luhur dalam kehidupan yang diwariskan oleh para leluhur.
“Semoga energi dan semangat positif perayaan Pukana ini dapat tersiar ke seluruh pelosok di Bumi Raja-raja,” harap Lewerissa. (NS)





