
AMBON,Nunusaku.id,- Hasil survey Indobarometer untuk pemilihan kepala daerah (Pilkada) Kota Ambon yang menangkan pasangan Bodewin Wattimena-Ely Toisuta dengan elektabilitas di angka 55 persen masih munculkan fakta baru.
Terkini ialah, terungkap fakta di masyarakat bahwa survey tersebut telah disetting atau diatur untuk memang menangkan Bodewin-Ely.
Dimana pertanyaan dominan diarahkan jawabannya ke 02, nomor urut milik Bodewin-Ely. Padahal responden yang di survey para relawan menjawab lain, bukan seperti yang diinginkan.
Misalnya di kelurahan Mangga Dua Kecamatan Nusaniwe, dominan responden menjawab pilihannya ke 01 (Agus Ririmasse-Novan Liem) dan 04 (Jantje Wenno-Syarief Bakri Assyatri).
“Ini yang menarik. Dong survey di katong yg jd sampel dong relawan. Sementara dibawah dong survei org blg pilih 01 dan 04 wkwkwk,” ujar sumber kepada media ini via pesan WhatsApp, Selasa (19/11) malam.
Sumber itu mengaku, para relawan lembaga survey itu melakukan survey tepat saat dirinya lewat untuk pergi kerja. Dimana awalnya, relawan mencari dua orang yang memang orang “02” untuk jadi responden.
Namun karena satu orang responden berhalangan, sehingga diganti dengan satu responden lain yang memang merupakan warga fanatik 01.
“Dong awal cari 2 org yang mmg orang-orang 02. Tapi salah satu z ada lalu ganti org. Pas tnya dy blg bt pilih 01 wkwkwk,” tuturnya penuh tawa.
Ketika mendapati jawaban responden yang berbeda alias tidak sesuai keinginan survey. Pertanyaan lain kemudian mendarat.
“Dong tnya knp pilih 01. org itu blg, 02 bru jabat 2 tahun jd penjabat jd belum teruji wkwkwk,” ungkapnya lagi.
Lalu menurut sumber, dia sempat bertanya ke responden dimaksud yang tak lain tetangganya, seputar pertanyaan yang disurvey para relawan lembaga survey.
“Bt tny org yg dp survey, dong pertanyaan apa saja. Dy blg pertanyaan mengarah ke 02,” beber sumber yang minta namanya tidak dipublish.
Menurut sumber, berdasarkan pengakuan itu, menunjukkan jika dugaan kejanggalan hasil survey tersebut yang menangkan Bodewin-Ely dengan angka fantastis bisa dibenarkan adanya.
Hal ini lanjutnya, memperlihatkan betapa ambisinya seorang Bodewin dan Ely untuk merebut kursi orang nomor satu dan dua, walau dengan cara harus melakukan pembodohan kepada masyarakat sesuai fakta temuan hasil survey.
“Ancor paskali. Kelihatan ambisi parah. Bayar lembaga survey mahal2 tp bkn bodoh masyarakat,” ucapnya.
Apalagi tambahnya, dengan logika empat (4) pasangan calon Walikota-Wakil Walikota Ambon, mustahil seorang Paslon akan mencapai elektoral hingga di angka 55 persen.
“55 persen par 4 paslon tuh mustahil e,” kuncinya.
Sebelumnya diberitakan, survey Indobarometer yang menempatkan pasangan calon Walikota dan Wakil Walikota Ambon, Bodewin Wattimena-Elly Toisutta dengan elektabilitas 55,0 persen, dinilai janggal berbagai kalangan.
Bahkan disebut sebagai survey penggiringan opini jelang pemilihan, 27 November 2024.
Penilaian itu disampaikan salah seorang surveyor Andi Risman Respati, Senin 18 November 2024.
Menurutnya, angka tersebut dinilai fantastis dan tidak faktual dengan kondisi lapangan saat ini. Apalagi, kondisi saat ini ada empat pasangan calon yang bertarung dan semuanya sedang bekerja maksimal.
“Aneh ngga, dulu Pak Richard Louhenapessy yang memimpin Kota Ambon dari 2012-2017 yang maju kembali dan diinginkan 85 persen warga Kota Ambon untuk kembali memimpin Kota Ambon, survey elektabilitasnya hanya mentok di angka 52 persen. Dan saat itu hanya dua pasangan calon,” tegasnya.
Yang janggal, lanjut dia, pilwalkot kali ini ada empat pasangan calon, namun elektabilitas Bodewin Wattimena yang hanya memimpin Kota Ambon dua tahun sebagai penjabat, ditempatkan superior dengan elektabilitas 55 persen, Agus Ririmasse 27 persen, Janjte Wenno 12 persen dan Tady Salampessy 1,5 persen dan tidak memilih 4,3 persen.
“Kita kembalikan ke publik untuk menilai bahwa survey itu faktual atau hanya penggiringan opini,” tambahnya.
Dikatakan Andi, dari pengalamannya, ada beberapa cara surveyor melakukan survey untuk menyenangkan kandidatnya.
Misalnya, dalam pengambilan sample dan pertanyaan survey yang hanya berbasis di wilayah strong vote kandidat tersebut. Mereka tidak mengambil sample di basis lawan.
“Misalnya mereka hanya mengambil sample hanya di wilayah Urimesing yang menjadi basis kandidat tertentu, tanpa mengambil sample di wilayah lain. Tentu hasilnya akan menyenangkan kandidat tersebut,” terangnya.
Sekali lagi, kata akademisi ini, hasil survey tersebut jika diragukan kandidat lain itu wajar-wajar saja, karena menempatkan kandidat tertentu dengan elektabilitas berada di 55 persen saat empat pasangan calon sedang bekerja.
“Ini juga diduga untuk membantah bocoran hasil survey salah satu lembaga survey terkenal di Indonesia yang menempatkan pasangan Bodewin-Ely Toisutta di posisi ketiga dibawah Jantje Wenno-S Bakri Asyatri posisi kedua dan Agus Ririmasse-Muhammad Novan Liem di posisi teratas atau top of mine,” ungkapnya.
Selain ditanggapi akademisi, pantauan media ini, hasil survey Indobarometer itu menjadi bola liar di media sosial. Banyak netizen yang meragukannya dan memosting hasil survey Richard Louhenapessy-Syarif Hadler pada Pilwalkot beberapa tahun lalu.
Tak sedikit juga yang menanyakan prestasi Bodewin Wattimena sehingga menempatkannya pada posisi superior dalam Pilwalkot ini. (NS)






