
AMBON,Nunusaku.id,- Proses seleksi pasukan pengibar bendera pusaka (Paskibraka) tahun 2024 tingkat provinsi Maluku telah selesai dilakukan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Maluku melalui Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol).
Namun demikian, proses seleksi itu meninggalkan masalah yang sudah terlanjur viral di publik Maluku lewat jagad dunia maya.
Manakala Kristiane Lumatalale, salah satu siswi SMA asal Kabupaten Seram Bagian Barat (SBB) memiliki nilai tertinggi dari tes pribadi, PBB dan Samapta dengan skors akhir 89,46, unggul dibanding peserta lain.
Namun yang bersangkutan dan beberapa rekannya tidak lolos ke tingkat nasional karena alasan tidak penuhi syarat kesehatan.
Terkait hal itu, Kepala Kesbangpol Maluku Daniel Indey benarkan, memang nilai siswi Kristiane Lumatalale bagus dan tinggi. Hanya saja hasil medical check up (MCU) atau kesehatan akhir yang tidak memenuhi syarat.
“Jadi tidak lolos karena hasil MCU tidak memenuhi syarat, itu secara umum. Ada penjelasan rekam medik, cuma tidak mungkin kita publikasi, karena terkait privasi. Kecuali atas seizin yang bersangkutan,” jelas Indey via seluler, Senin (10/6).
Menurutnya, MCU ini masih bagian dari proses seleksi Paskibraka yang berada di paling akhir, setelah tes pribadi (wawasan kebangsaan), PBB, Samapta dan wawancara, sebelum dikirim untuk mengikuti seleksi tingkat nasional.
“Jadi nanti ketika mereka sampai di Jakarta, akan di-MCU ulang lagi. MCU itu wajib, syarat utama karena sudah terkait pemeriksaan lengkap dan pemeriksa itu dokter ahli mata, gigi, jantung dan penyakit dalam,” urainya.
Seluruh proses dan tahapan seleksi menurut Indey, sudah diinformasikan secara detail kepada seluruh peserta seleksi baik kategori laki-laki maupun perempuan, termasuk siswi Kristiane Lumatalale, bahwa telah ditetapkan untuk mewakili provinsi, tapi hasil MCU juga akan berpengaruh, karena nanti akan dilakukan MCU lanjutan lagi di Jakarta untuk seleksi nasional.
“Hasil MCU di provinsi untuk empat orang peserta, tiga tidak lolos. Hanya satu yang lolos. Jadi yang lolos tahap akhir untuk MCU itu 2 siswa dari Kota Ambon, SBB dan Maluku Tengah (Malteng). Yang gugur tiga orang, hanya siswa utusan Malteng lolos ke nasional. Karena tiga orang gugur, ada tiga pengganti MCU susulan, peringkat dibawahnya,” urainya.
Jadi memang tambah Indey, proses itu semua murni memang masalah kesehatan. Tidak ada unsur kesengajaan atau diatur bagi kepentingan anak pejabat yang akan mengganti.
“Tidak ada. Tidak ada. Itu murni berdasarkan mereka punya perengkingan. Jadi memang adik Kristiane untuk kategori putri nilainya paling bagus dan tinggi. Hanya ketika di MCU itu dia tidak memenuhi syarat. Sehingga kita ambil berdasarkan rangking,” beber Indey.
“Karenanya kita juga membuka ruang untuk adik siswi itu dan orang tua kalau mau datang klarifikasi, minta penjelasan, beta siap,” pungkas mantan Pj Bupati Kabupaten Kepulauan Tanimbar (KKT) itu. (NS)



