Psikolog: Tindakan Bullying Anak Akibat Sering Dilihat & Dialami di Keluarga
IMG-20240604-WA0088-750x563

AMBON,Nunusaku.id,- Psikolog Maluku dari Universitas Pattimura (Unpatti), Prisca Diantra Sampe mengaku, tindakan bullying yang dilakukan anak merupakan akibat dari apa yang sering dia lihat dan dialami di lingkungan keluarga atau orang tua sendiri.

“Anak-anak akan selalu mencontohi apa yang dia lihat dan dia alami jadi kalau ada anak yang melakukan bullying terhadap anak lain mungkin saja si pelaku itu di lingkup keluarga sering melihat atau mengalami hal kekerasan,” tandasnya dalam dialog tentang maraknya kasus bullying di RRI Ambon, Selasa (4/6/2024).

Media sosial (Medsos), lanjut Prisca juga memiliki pengaruh dan dampak yang kuat untuk terjadinya kasus bullying.

“Kita tahu saat ini apa saja yang terjadi pada diri seseorang akan langsung diupload ke Medsos sehingga hal ini bisa menjadi awal pemicu terjadinya tindakan bullying baik itu lewat media sosial maupun pada dunia nyata,” ungkapnya.

Karena itu dirinya mengajak semua pihak agar bersama-sama melakukan tindakan pencegahan bullying seperti para guru yang menceritakan lingkungan sekolah yang sehat.

“Dan kepada orang tua dan keluarga dapat memberikan pola pengasuhan yang baik terhadap anak-anaknya,” pinta Sampe.

Sementara itu, Kabid Pembinaan Ketenagakerjaan Dinas Pendidikan Maluku YuspiTuarita menjelaskan, tindakan bullying di lingkungan masyarakat dan sekolah diakibatkan kurangnya pembinaan orang tua dan keluarga terhadap para pelaku.

Berbagai kasus yang terjadi di sekolah harus jadi perhatian bersama. Perlunya peran guru yang tegas dalam memberikan bimbingan dan sosialisasi tentang dampak buruk dari tindakan tersebut.

“Masalah bullying yang marak terjadi di lingkungan sekolah saat ini kami telah mengeluarkan aturan untuk pencegahannya. Aturan ini juga para guru di sekolah dituntut bukan saja sebagai tenaga pengajar tapi juga sebagai sahabat siswa dalam membimbing dan mencegah terjadinya perundungan antar sesama siswa di sekolah,” ungkapnya.

Kasus bullying ini juga tidak saja terjadi antar siswa dengan siswa tapi juga dapat terjadi antara siswa dengan guru.

“Jadi harus kita pahami dengan baik bahwa tidak selamanya siswa atau anak yang menjadi korban bullying tapi juga orang dewasa maupun guru yang ada di sekolah sehingga dari itu kami berharap perhatian dari semua pihak,” katanya.

Dinas Pendidikan sendiri dalam menyikapi masalah bullying telah memberikan himbauan kepada semua sekolah (SD, SMP, SMA atau sederajat).

“Apabila telah selesai jam sekolah maka semua siswa tidak ada lagi yang berkeliaran di jalan atau di lingkungan sekolah namun sudah harus kembali ke rumah masing-masing, dengan harapan masalah ini dapat kita tekan,” katanya.

Disisi lain, apabila di sekolah tertentu yang sudah dua kali terjadi kasus bullying, maka sekolah tersebut akan mendapatkan sangsi administrasi yang tegas.

“Sebab pihak sekolah dianggap tidak mampu dan terkesan adanya pembiaran terhadap hal tersebut,” tegasnya.

Senada, Elizabeth Marantika mengaku perkara bullying adalah masalah bersama. Kasus ini menurutnya berawal dari rumah.

“Kita harus lihat apa akar permasalahannya sehingga perlu tanggung jawab bersama baik itu dari keluarga hingga pada pihak sekolah,” ujarnya.

Ia mengaku, kasus bullying dapat terjadi bila seseorang atau kelompok menganggap dirinya kuat dan hebat di suatu komunitas atau lingkungan. “Biasanya ini menjadi potensial terjadinya bullying di lingkungan tersebut,” jelasnya.

Menurut Marantika, kasus bullying terjadi karena banyak anak-anak tidak tahu kalau perkara tersebut adalah merupakan suatu tindakan kekerasan.

Sebab itu, bila ada terjadi kasus maka pertama-tama langkah awal ialah pembinaan dan penanganan khusus oleh guru atau orang tua.

“Jangan langsung ke ranah hukum, sebab anak-anak ini kan dibawah umur dan kadang mereka lakukan tindakan bullying itu juga karena ada faktor-faktor tertentu juga. Jadi dalam penangananya dibutuhkan langkah khusus,” pintanya. (NS)

Views: 2
Facebook
WhatsApp
Email