
AMBON,NUNUSAKU.ID,– Persatuan Atletik Seluruh Indonesia (PASI) Provinsi Maluku periode 2026-2030 resmi dilantik. Pelantikan yang dirangkaikan dengan Rapat Kerja Daerah (Rakerda) ini menjadi momentum kebangkitan atletik Maluku untuk kembali bersaing dan menorehkan prestasi di tingkat nasional.
Gubernur Maluku, Hendrik Lewerissa menegaskan, Maluku memiliki potensi besar di bidang olahraga, termasuk cabang olahraga atletik. Namun, ia tidak menampik bahwa prestasi olahraga Maluku dalam beberapa waktu terakhir mengalami kemunduran.
Karena itu, menurutnya, diperlukan pembenahan secara menyeluruh, baik dari aspek organisasi, pembinaan atlet, maupun penyelenggaraan kompetisi.
“Kita harus fokus membenahi olahraga Maluku secara benar-benar. Di bawah kepemimpinan Ketua KONI Maluku dan Ketua PASI, kita berharap olahraga dapat menjadi salah satu sektor yang membantu pemerintah dalam membangun daerah,” kata Lewerissa saat hadiri pelantikan pengurus PASI Maluku di Pasific Hotel Ambon, Sabtu (7/11).
Gubernur juga menyampaikan, Pemerintah Provinsi Maluku melalui KONI akan menggelar Pekan Olahraga Provinsi Maluku (POPMAL) pada 2027 mendatang. Pelaksanaannya akan mengedepankan prinsip efisiensi, namun tetap menjaga konsistensi dan kualitas penyelenggaraan.
Ia optimistis cabang olahraga atletik dapat kembali menjadi penyumbang medali bagi Maluku pada PON mendatang apabila pembinaan dilakukan secara konsisten, sistematis, dan berkelanjutan.
Lebih jauh, Lewerissa meminta PASI Maluku dibawah kepemimpinan Levinus Kariuw memberikan perhatian serius terhadap pembinaan atlet usia dini dengan memfasilitasi berbagai kegiatan dan kompetisi bagi anak-anak.
Menurutnya, pembinaan sejak usia dini menjadi fondasi penting untuk mencetak atlet berprestasi yang mampu bersaing di tingkat nasional.
“Kita dorong kompetisi untuk anak usia dini. Pemerintah Provinsi Maluku siap mendukung penuh PASI Maluku untuk kembalikan kejayaan atletik Maluku,” tandasnya.
Sementara itu, Ketua Umum PASI Maluku, Levinus Kariuw, menegaskan kepengurusan yang dipimpinnya memiliki tanggung jawab besar untuk membenahi organisasi sekaligus meningkatkan prestasi atletik Maluku.
Manakala agenda terdekat ialah Kejuaraan Nasional (Kejurnas) Atletik Senior yang akan berlangsung di Jakarta November 2026 ini. Untuk mengikuti kejuaraan tersebut, PASI Maluku akan mengirimkan empat atlet terbaik.
Siapkan Pembinaan Atlet Usia Dini
Lebih lanjut tambah Levi, pihaknya juga sedang siapkan sejumlah program strategis untuk meningkatkan prestasi atletik Maluku, khususnya menghadapi Pekan Olahraga Nasional (PON) 2028.
Pembenahan organisasi dan pembinaan atlet usia dini menjadi prioritas utama kepengurusan baru. Langkah tersebut dinilai penting untuk membangun fondasi prestasi atletik Maluku secara berkelanjutan.
Ia mengatakan, setelah pelantikan pengurus, pihaknya akan segera mengagendakan kejuaraan atletik tingkat daerah yang ditargetkan berlangsung sebelum pelaksanaan POPMAL.
Selain itu, Maluku juga dipastikan tetap berpartisipasi dalam kejuaraan nasional atletik yang diselenggarakan PB PASI pada 20–22 November 2026 dengan mengirimkan minimal empat atlet.
Keikutsertaan tersebut merupakan bagian dari upaya menjaga konsistensi prestasi atlet Maluku. Apalagi, pada kejuaraan nasional junior sebelumnya, atlet Maluku berhasil membawa pulang medali emas.
“Harapan kami, prestasi atlet junior ini bisa terus berkembang. Kita punya potensi besar, tinggal bagaimana kita menggerakkan motivasi, membenahi organisasi, serta meningkatkan kualitas pembinaan atlet,” ungkapnya.
Menurutnya, target jangka panjang PASI Maluku adalah meningkatkan perolehan medali pada PON 2028. Pasalnya, hingga PON XXI Aceh-Sumut, atletik Maluku baru menyumbangkan satu medali perunggu.
Untuk mencapai target tersebut, terdapat tiga aspek utama yang menjadi perhatian kepengurusan baru, yakni peningkatan kualitas atlet, pelatih, dan wasit.
Ia menilai, pembinaan atlet tidak mungkin berjalan maksimal tanpa didukung organisasi yang kuat dan sistem pengelolaan yang terarah.
“Atlet tidak mungkin berjalan sendiri. Mereka membutuhkan organisasi yang baik. Karena itu, langkah awal kami adalah membenahi organisasi, kemudian memperkuat atlet, pelatih, dan wasit,” tegasnya.
Dorong Pembangunan Lintasan Atletik
Selain persoalan organisasi dan pembinaan, keterbatasan sarana dan prasarana menjadi tantangan serius bagi pengembangan atletik di Maluku.
Ia mengungkapkan, Maluku hingga kini belum memiliki lintasan atletik sintetis atau tartan yang memenuhi kebutuhan latihan atlet berstandar modern.
Padahal, fasilitas tersebut sangat penting untuk meningkatkan kualitas latihan sekaligus mempersiapkan atlet menghadapi kompetisi nasional.
Karena itu, dirinya memberikan apresiasi kepada Gubernur Maluku Hendrik Lewerissa yang dinilai memiliki perhatian dan visi yang sejalan dengan kebutuhan pengembangan atletik di daerah.
Dalam komunikasi langsung dengan Gubernur, ia juga telah mengusulkan agar Lapangan Mandala Remaja Ambon dapat dimanfaatkan sebagai pusat pembinaan dan aktivitas atletik Maluku.
Menurutnya, Lapangan Mandala memiliki posisi strategis sebagai home base atletik sehingga perlu dipertahankan dan dimaksimalkan untuk kepentingan olahraga, bukan dialihfungsikan.
“Kami sudah menyampaikan kepada Pak Gubernur bahwa atletik harus punya tempat. Lapangan Mandala itu home base kita. Jangan sampai nantinya seperti Lapangan Merdeka yang sudah tidak bisa lagi dimanfaatkan untuk kegiatan atletik,” ujarnya.
Ia berharap dukungan pemerintah daerah dapat diwujudkan melalui penyediaan fasilitas latihan yang memadai, termasuk pembangunan lintasan sintetis.
Pembinaan Dimulai dari Usia Delapan Tahun
Program pembinaan atlet usia dini juga menjadi salah satu prioritas utama kepengurusan PASI Maluku hingga 2030.
Ia menjelaskan, pihaknya tidak ingin hanya mengandalkan atlet yang sudah berusia senior atau mengambil atlet ketika mereka telah mencapai usia tertentu. Sebaliknya, proses pembinaan harus dimulai sejak usia delapan tahun.
Melalui kejuaraan daerah, PASI akan membuka ruang kompetisi bagi kelompok usia delapan tahun, sepuluh tahun, hingga kategori senior.
Pembinaan tersebut nantinya dilakukan secara berjenjang dengan melibatkan klub-klub atletik yang selama ini menjadi tempat para atlet berlatih.
PASI Maluku juga akan membangun kolaborasi dengan pengurus PASI kabupaten/kota, pemerintah daerah, serta klub-klub yang berada di bawah pembinaan pemerintah provinsi maupun kabupaten/kota.
“Kita tidak bisa hanya datang dan mengambil atlet ketika mereka sudah besar. Pembinaan harus dimulai sejak usia dini. Karena itu, kejuaraan daerah akan menjadi salah satu instrumen untuk menemukan dan membina bibit-bibit atlet potensial,” jelasnya.
Ia menambahkan, pelaksanaan kejuaraan dan pembinaan tidak boleh hanya terpusat di Kota Ambon. PASI Maluku berencana mendorong kegiatan serupa di kabupaten/kota lainnya.
Namun, keterbatasan venue yang memenuhi standar masih menjadi kendala. Beberapa daerah dinilai belum memiliki fasilitas lapangan yang memadai untuk menyelenggarakan kejuaraan atletik.
Karena itu, PASI Maluku berencana menyurati pemerintah kabupaten/kota agar memberikan perhatian terhadap keberadaan fasilitas olahraga, khususnya lapangan atletik.
Keterbatasan Anggaran Bukan Penghalang
Di sisi lain, persoalan pendanaan juga menjadi tantangan dalam pengembangan cabang olahraga atletik.
Menurutnya, atletik belum menjadi cabang olahraga yang banyak menarik sponsor, berbeda dengan sepak bola maupun bola voli yang memiliki daya tarik komersial lebih besar.
Meski demikian, kondisi tersebut tidak boleh membuat pengurus kehilangan semangat dalam membangun prestasi.
Ia mengaku optimistis, dengan dukungan pengurus baru, pemerintah daerah, dan seluruh pemangku kepentingan olahraga, PASI Maluku mampu menjalankan program pembinaan secara konsisten.
Bahkan, keikutsertaan atlet Maluku dalam kejuaraan nasional junior sebelumnya disebut masih menggunakan biaya pribadi. Namun, dirinya mengapresiasi perhatian Gubernur Maluku yang telah menyatakan dukungan terhadap kebutuhan atletik, termasuk keikutsertaan dalam berbagai kejuaraan.
“Beta yakin dengan dukungan teman-teman kepengurusan dan perhatian pemerintah daerah, kita bisa bergerak. Program pembinaan usia dini tetap menjadi prioritas sampai 2030,” tutupnya. (NS)




