Dari Balik Jeruji, Menanam Harapan: Rutan Ambon Bekali Wabin dengan Keterampilan
IMG-20261029-WA0032

AMBON,NUNUSAKU.ID,— Dibalik tembok Rumah Tahanan Negara (Rutan) Kelas IIA Ambon, sebuah proses perubahan terus diupayakan. Bukan hanya melalui pembinaan mental dan spiritual, tetapi juga lewat aktivitas produktif yang mengajarkan arti kerja keras, kedisiplinan, dan tanggungjawab.

Di tempat yang membatasi kebebasan seseorang, kesempatan untuk memperbaiki diri tetap terbuka. Benih tanaman yang dirawat, ikan lele yang dibudidayakan, hingga ayam kampung yang dipelihara menjadi bagian dari upaya menumbuhkan harapan baru bagi warga binaan.

Bagi Rutan Ambon, pembinaan bukan sekadar mengisi waktu selama menjalani masa pidana. Lebih dari itu, pembinaan merupakan proses mempersiapkan seseorang agar memiliki bekal ketika kembali ke tengah masyarakat, membangun kehidupan yang lebih baik, dan menemukan kembali kesempatan untuk berkontribusi.

Kepala Rutan (Karutan) Kelas IIA Ambon, Meta Putera menegaskan, setiap program yang dijalankan memiliki tujuan untuk membentuk warga binaan (Wabin) menjadi pribadi yang lebih mandiri dan bermanfaat bagi lingkungan sekitarnya.

“Tujuan kami membina warga binaan agar ketika keluar dari Rutan Ambon, mereka bisa berguna bagi masyarakat, bangsa, dan negara,” ujarnya, Kamis (29/10/26).

Pernyataan itu menjadi gambaran arah pembinaan yang ingin dibangun Rutan Ambon: memberikan kesempatan bagi warga binaan untuk belajar, mengembangkan kemampuan, dan mempersiapkan masa depan dengan bekal yang lebih baik.

Perubahan tidak selalu dimulai dari sesuatu yang besar. Terkadang, perubahan tumbuh melalui kebiasaan sederhana, seperti belajar disiplin, menyelesaikan pekerjaan, merawat sesuatu dengan tekun, dan memahami tanggungjawab atas setiap tugas yang diberikan.

Pembinaan kepribadian tetap menjadi fondasi utama. Melalui kerjasama dengan Kementerian Agama, warga binaan mendapatkan pelayanan kerohanian sesuai agama dan keyakinan masing-masing.

Bagi Wabin beragama Islam, kegiatan pengajian dan tausiah dilaksanakan tiga kali dalam sepekan dengan menghadirkan ustaz. Sementara itu, warga binaan beragama Kristen mengikuti pelayanan kerohanian melalui ibadah yang dipandu pendeta.

“Kegiatan tersebut diharapkan menjadi ruang untuk memperkuat iman, melakukan refleksi diri, serta menumbuhkan kesadaran untuk menjalani kehidupan yang lebih baik,” jelasnya.

Sebab, mempersiapkan seseorang kembali ke masyarakat tidak cukup hanya dengan memberi keterampilan kerja. Dibutuhkan pula penguatan karakter, kesadaran diri, dan kemauan untuk menjalani kehidupan secara bertanggung jawab, Dari sinilah pembinaan kepribadian berjalan beriringan dengan pembinaan kemandirian.

Setelah mengembangkan budidaya tanaman hidroponik, Rutan Ambon kini memperluas kegiatan produktif melalui budidaya ikan lele dan peternakan ayam kampung petelur.

Langkah tersebut membuka kesempatan bagi warga binaan untuk mengenal lebih banyak bidang usaha yang berpotensi dikembangkan setelah mereka kembali ke masyarakat.

Gagasan peternakan ayam kampung petelur berawal dari pengamatan Meta Putera terhadap kebutuhan masyarakat di Ambon. Dalam kunjungannya ke sejumlah tempat, ia melihat telur ayam kampung relatif sulit ditemukan.

Pengamatan itu kemudian mendorong munculnya gagasan untuk mengembangkan peternakan sebagai kegiatan produktif di lingkungan rutan.

Lebih dari sekadar menghasilkan telur, kegiatan ini diharapkan menjadi sarana pembelajaran tentang pemeliharaan ternak, pengelolaan usaha, serta pentingnya ketekunan dalam menjalankan pekerjaan.

Warga binaan diperkenalkan pada proses yang membutuhkan perhatian dan tanggung jawab secara berkelanjutan. Pengalaman tersebut diharapkan dapat menjadi bekal apabila mereka ingin menekuni bidang peternakan atau usaha produktif lainnya setelah bebas.

Sementara itu, budidaya ikan lele juga dikembangkan dengan pola yang melibatkan masyarakat di luar lingkungan rutan.

Sebanyak 2.000 bibit ikan lele ditebar di lingkungan Rutan Ambon. Adapun 5.000 bibit lainnya dikembangkan melalui kerja sama dengan masyarakat sekitar dengan memanfaatkan lahan yang disewa.

Keterlibatan masyarakat ini memperluas jangkauan program, sehingga kegiatan pembinaan tidak hanya berlangsung di dalam rutan, tetapi juga membuka peluang kerja sama dalam kegiatan ekonomi produktif.

“Kami tidak hanya mengembangkan kemandirian di dalam rutan, tetapi juga ingin masyarakat sekitar merasakan dampak dari program pembinaan ini,” kata Putera.

Melalui pendekatan tersebut, Rutan Ambon berupaya membangun hubungan yang lebih erat antara pembinaan warga binaan dan kehidupan masyarakat. Harapannya, proses pembinaan dapat menghasilkan manfaat yang lebih luas, termasuk pengalaman kerja dan peluang usaha.

Salah satu tantangan yang dihadapi warga binaan setelah menyelesaikan masa pidana adalah memulai kembali kehidupan sosial dan ekonomi. Mereka perlu membangun hubungan dengan lingkungan, menemukan peluang kerja, serta memenuhi kebutuhan hidup secara mandiri.

Karena itu, Rutan Ambon berupaya mengembangkan pembinaan berdasarkan potensi dan keterampilan yang dimiliki warga binaan.

Mereka yang memiliki pengalaman sebagai petani maupun tenaga pertukangan didorong untuk mengembangkan kemampuan sesuai bidang masing-masing. Pengalaman sebelumnya menjadi modal awal untuk meningkatkan keterampilan dan mempelajari hal-hal baru.

Rutan Ambon juga menjalin kerja sama dengan Balai Latihan Kerja (BLK) Provinsi Maluku untuk memberikan pelatihan keterampilan bersertifikat.

Pelatihan ini diharapkan membantu warga binaan memperoleh kompetensi yang dapat digunakan untuk mencari pekerjaan atau merintis usaha setelah kembali ke masyarakat.

Dengan demikian, pembinaan tidak hanya diarahkan pada perubahan perilaku selama berada di rutan, tetapi juga pada kesiapan menghadapi kehidupan setelah masa pidana berakhir.

Keterampilan yang diperoleh memang tidak serta-merta menjamin seseorang langsung mendapatkan pekerjaan. Namun, pengetahuan, pengalaman, dan sertifikat kompetensi dapat menjadi modal penting untuk membuka peluang baru.

Di titik inilah pembinaan kemandirian memiliki arti yang lebih luas: memberikan kesempatan kepada warga binaan untuk membangun masa depan melalui kemampuan yang dapat mereka kembangkan sendiri.

Pengembangan hidroponik, budidaya lele, dan peternakan ayam kampung petelur juga menjadi bagian dari dukungan Rutan Ambon terhadap Asta Cita Presiden dan 15 Program Aksi Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan, khususnya dalam penguatan ketahanan pangan.

Melalui kegiatan tersebut, warga binaan diperkenalkan pada proses produksi pangan, mulai dari perawatan hingga pengelolaan kegiatan budidaya.

Aktivitas produktif ini menuntut kedisiplinan, ketekunan, dan tanggung jawab. Pada saat yang sama, kegiatan tersebut menjadi sarana pembelajaran mengenai potensi sektor pertanian dan peternakan sebagai bidang usaha yang dapat dikembangkan.

Program ini diharapkan memberikan manfaat berlapis. Warga binaan memperoleh pengalaman dan keterampilan, masyarakat sekitar berpeluang terlibat dalam kegiatan produktif, sementara pengembangan budidaya turut mendukung upaya memperkuat ketahanan pangan.

Meski begitu, keberhasilan pembinaan tidak semata-mata ditentukan oleh jumlah bibit ikan yang ditebar atau banyaknya jenis kegiatan yang dijalankan. Hal yang lebih penting ialah sejauh mana warga binaan mampu menyerap pengetahuan, mengembangkan keterampilan, dan menerapkannya dalam kehidupan nyata.

Upaya membangun sistem pemasyarakatan yang lebih baik tidak hanya menyangkut pembinaan warga binaan. Kualitas pelayanan publik dan integritas petugas juga menjadi bagian penting dari proses tersebut.

Meta menegaskan, seluruh pegawai Rutan Ambon harus bekerja sesuai standar operasional prosedur (SOP), mengedepankan profesionalisme, serta memberikan pelayanan secara transparan dan humanis.

Ia juga menegaskan layanan, mulai dari kunjungan hingga pemenuhan hak-hak warga binaan, diberikan secara gratis dan tidak boleh disertai pungutan liar.

“Kami tekankan kepada seluruh jajaran bahwa pegawai Rutan Ambon adalah pelayan masyarakat. Karena itu, bekerja harus sesuai SOP, tanpa pungli, dan tetap humanis kepada warga binaan maupun keluarganya,” tegasnya.

Komitmen tersebut menjadi penting karena pelayanan pemasyarakatan tidak hanya berkaitan dengan warga binaan, tetapi juga keluarga yang datang berkunjung serta masyarakat yang membutuhkan layanan sesuai ketentuan.

Rutan Ambon turut mendorong keluarga warga binaan agar menyampaikan kritik, saran, maupun pengaduan apabila menemukan pelayanan yang tidak sesuai aturan melalui saluran pengaduan yang tersedia.

Dengan adanya ruang pengaduan, masyarakat diharapkan dapat ikut mengawasi kualitas pelayanan, sementara petugas dituntut menjaga integritas dan menjalankan tanggung jawab secara profesional.

Selain itu, pembenahan internal dilakukan melalui pemberian penghargaan kepada pegawai teladan setiap bulan. Penilaian dilakukan oleh jajaran pejabat berdasarkan prestasi dan kinerja, dengan penghargaan berupa sertifikat serta apresiasi tambahan.

Langkah ini diharapkan menumbuhkan motivasi, meningkatkan disiplin, dan membangun budaya kerja yang lebih positif di lingkungan Rutan Ambon.

Sebab, pembinaan yang berkualitas membutuhkan dukungan petugas yang tidak hanya menjalankan aturan, tetapi juga memahami pentingnya pelayanan yang menghormati hak dan martabat manusia.

Berbagai program yang dikembangkan Rutan Ambon memperlihatkan bahwa proses pembinaan membutuhkan pendekatan yang menyeluruh. Penguatan spiritual, pelatihan keterampilan, kegiatan produktif, pelayanan yang bersih, hingga peningkatan integritas pegawai merupakan bagian dari upaya membangun lingkungan pemasyarakatan yang lebih baik.

Dari tanaman hidroponik, budidaya ikan lele, hingga peternakan ayam kampung petelur, setiap kegiatan membuka kesempatan bagi warga binaan untuk belajar dan mengembangkan kemampuan.

Tidak semua proses perubahan berlangsung cepat. Dibutuhkan waktu, ketekunan, pendampingan, serta kesempatan untuk menerapkan pengetahuan yang telah diperoleh. Namun, melalui pembinaan yang berkelanjutan, warga binaan diharapkan memiliki bekal yang lebih kuat ketika kembali ke tengah masyarakat.

Pada akhirnya, keberhasilan pemasyarakatan tidak hanya dilihat dari bagaimana seseorang menjalani masa pidana, tetapi juga dari kesempatan yang tersedia baginya untuk memperbaiki diri dan kembali menjalani kehidupan secara positif.

Melalui perluasan program kemandirian dan pembenahan pelayanan, Rutan Kelas IIA Ambon berupaya menjadikan masa pembinaan sebagai bagian dari perjalanan menuju masa depan yang lebih baik.

Di balik tembok rutan, harapan itu terus dirawat. Bukan hanya melalui bibit yang ditanam atau ikan yang dibudidayakan, melainkan juga melalui keterampilan yang diasah, karakter yang diperkuat, dan kesempatan untuk memulai kembali.

Sebab, setiap orang yang kembali ke masyarakat membutuhkan ruang untuk berubah. Dan pembinaan yang bermakna adalah salah satu jalan untuk membantu mereka melangkah menuju kehidupan yang lebih mandiri, bertanggungjawab, dan bermanfaat bagi sesama. (NS-02)

Views: 0
Facebook
WhatsApp
Email