Perkuat Mitigasi Bencana, Pemkot Ambon Gandeng BMKG Bangun Kesiapsiagaan Warga
IMG-20261025-WA0001

AMBON,NUNUSAKU.ID,— Bencana tidak pernah memberikan kepastian kapan akan datang. Dalam hitungan detik, gempa bumi dapat mengguncang permukiman, mengganggu aktivitas masyarakat, bahkan memicu ancaman tsunami yang membahayakan keselamatan warga di wilayah pesisir.

Ditengah kondisi tersebut, kesiapsiagaan menjadi salah satu kunci penting untuk menyelamatkan kehidupan.

Bagi masyarakat Kota Ambon, kesadaran terhadap ancaman bencana bukan sekadar pengetahuan yang dipelajari dalam kegiatan sosialisasi.

Lebih dari itu, kesiapsiagaan perlu menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, mulai dari mengenali potensi bahaya, memahami jalur evakuasi, hingga mengetahui tindakan yang harus dilakukan ketika gempa bumi terjadi.

Kesadaran inilah yang terus didorong Pemerintah Kota (Pemkot) Ambon melalui penguatan mitigasi dan edukasi kebencanaan. Walikota Ambon, Bodewin Wattimena menegaskan, masyarakat harus dipersiapkan sejak dini agar mampu menghadapi berbagai kemungkinan bencana dan meminimalkan risiko yang ditimbulkannya.

Penegasan menyusul pelaksanaan Sekolah Lapang Gempa Bumi dan Tsunami yang memilih Kota Ambon sebagai lokasi kegiatan, Sabtu (24/10).

Wattimena mengapresiasi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) beserta seluruh jajaran atas pelaksanaan kegiatan tersebut.

Ia juga menyampaikan terima kasih kepada para pejabat utama BMKG, Kepala Balai Besar, serta Kepala Stasiun Geofisika Ambon Kelas I atas dukungan dan kepercayaan dalam memperkuat kesiapsiagaan masyarakat menghadapi ancaman bencana.

Menurutnya, kegiatan Sekolah Lapang Gempa Bumi dan Tsunami menjadi langkah penting untuk meningkatkan pemahaman masyarakat terhadap potensi bencana, sekaligus membangun kemampuan menghadapi situasi darurat secara tepat.

“Kota Ambon memiliki potensi risiko bencana, termasuk gempabumi. Karena itu, edukasi dan penguatan kesiapsiagaan masyarakat harus terus dilakukan agar warga memiliki pemahaman serta kemampuan untuk menghadapi bencana dan meminimalkan dampak yang ditimbulkan,” tegas Wattimena.

Bagi Walikota, kesiapsiagaan tidak boleh hanya menjadi perhatian ketika bencana telah terjadi. Sebaliknya, langkah antisipasi harus dimulai jauh sebelum keadaan darurat muncul, melalui edukasi, perencanaan evakuasi, penguatan koordinasi, serta keterlibatan aktif masyarakat.

Sebab, ketika gempa mengguncang, waktu untuk mengambil keputusan bisa sangat terbatas. Dalam situasi seperti itu, kepanikan dapat memperbesar risiko, sementara pengetahuan dan pemahaman mengenai prosedur keselamatan dapat membantu masyarakat menentukan tindakan yang lebih tepat.

Ia menegaskan, bencana alam memang tidak dapat sepenuhnya dicegah. Namun, risiko dan dampaknya dapat ditekan apabila pemerintah dan masyarakat memiliki persiapan yang memadai.

“Bencana tidak bisa kita hindari dan tidak bisa kita tolak, karena pada waktunya akan terjadi. Namun, jika itu terjadi, kita sudah siap, paling tidak untuk mengurangi risiko bencana, terutama korban jiwa. Itu yang paling penting,” ujarnya.

Pernyataan tersebut menegaskan tujuan utama mitigasi bukan sekadar hadirkan berbagai fasilitas kebencanaan, melainkan memastikan masyarakat memahami manfaatnya dan mampu menggunakannya ketika dibutuhkan.

Warga perlu mengetahui lokasi aman, mengenali jalur evakuasi, serta memahami informasi resmi mengenai ancaman gempa bumi dan tsunami.

Khusus di kawasan pesisir, masyarakat juga perlu memahami bahwa apabila gempa terasa kuat atau berlangsung lama, mereka harus segera menuju tempat yang lebih tinggi atau menjauhi pantai sesuai jalur evakuasi yang tersedia, tanpa menunggu peringatan tsunami jika kondisi tersebut mengindikasikan bahaya.

Pengetahuan sederhana semacam ini dapat menjadi bekal penting dalam menghadapi keadaan darurat. Karena itu, edukasi kebencanaan harus disampaikan dengan cara yang mudah dipahami dan dilakukan secara berulang agar tidak berhenti sebagai teori semata.

Upaya membangun masyarakat yang tangguh terhadap bencana di Kota Ambon terus dilakukan melalui kolaborasi antara Pemerintah Kota Ambon dan BMKG.

Wattimena membeberkan, kerjasama itu mencakup pengembangan desa siap tsunami melalui kolaborasi dengan UNESCO, pemasangan rambu-rambu evakuasi, serta penerapan sistem peringatan dini gempa bumi dan tsunami.

Selain itu, BMKG telah melaksanakan sekolah lapang bagi nelayan dan sekolah lapang iklim untuk memperluas pengetahuan masyarakat mengenai kondisi alam dan berbagai risiko yang dapat memengaruhi aktivitas sehari-hari.

Berbagai program tersebut memiliki peran penting dalam memperkuat kesiapan warga. Namun, keberadaan sarana mitigasi perlu berjalan beriringan dengan peningkatan kesadaran masyarakat agar setiap informasi kebencanaan dapat dipahami dan direspons secara benar.

Rambu evakuasi, misalnya, akan lebih bermanfaat apabila warga mengetahui arah yang harus ditempuh dan memahami lokasi tujuan penyelamatan. Demikian pula sistem peringatan dini membutuhkan kesiapan masyarakat untuk segera bertindak ketika informasi resmi disampaikan.

Karena itu, sekolah lapang menjadi salah satu ruang pembelajaran yang penting. Melalui kegiatan tersebut, pengetahuan mengenai ancaman bencana dapat diperluas, sementara koordinasi antara pemerintah, lembaga teknis, dan masyarakat dapat terus diperkuat.

Kesiapsiagaan juga perlu dimulai dari lingkungan terdekat, yakni keluarga dan komunitas tempat masyarakat beraktivitas setiap hari.

Setiap keluarga perlu mengetahui langkah yang harus dilakukan ketika gempa terjadi, menentukan titik berkumpul yang aman, serta memastikan anak-anak dan anggota keluarga lainnya memahami prosedur penyelamatan. Masyarakat juga perlu mengenali jalur evakuasi di sekitar rumah, sekolah, tempat kerja, maupun kawasan pesisir yang sering dikunjungi.

Disisi lain, penyebaran informasi kebencanaan harus mengutamakan sumber resmi agar masyarakat tidak mudah terpengaruh kabar yang belum terverifikasi, terutama ketika situasi darurat berpotensi menimbulkan kepanikan.

Kebiasaan sederhana seperti mengikuti simulasi evakuasi, memperhatikan rambu keselamatan, dan memahami informasi dari BMKG dapat membantu membangun kesiapan bersama.

Dalam konteks ini, tanggungjawab menghadapi bencana tidak hanya berada di pundak pemerintah atau lembaga kebencanaan. Partisipasi masyarakat menjadi bagian yang tidak terpisahkan dalam menciptakan lingkungan yang lebih aman.

Walikota Ambon berharap kolaborasi antara BMKG dan Pemkot Ambon dapat terus berlanjut, sehingga program edukasi dan mitigasi kebencanaan menjangkau lebih banyak masyarakat.

“Penguatan kesiapsiagaan perlu dilakukan secara konsisten, tidak hanya melalui kegiatan formal, tetapi juga melalui pendidikan di sekolah, sosialisasi di lingkungan permukiman, latihan evakuasi, dan penyebaran informasi yang mudah dipahami warga,” demikian Bodewin.

Pada akhirnya, keberhasilan mitigasi bencana bukan hanya ditentukan oleh tersedianya teknologi peringatan dini maupun sarana evakuasi.

Hal yang tidak kalah penting adalah sejauh mana masyarakat memahami risiko, mempercayai informasi resmi, dan mampu mengambil tindakan penyelamatan secara cepat serta tepat.

Bagi Kota Ambon, membangun budaya sadar bencana merupakan investasi penting untuk melindungi keselamatan masyarakat di masa mendatang.

Sebab, gempa bumi dan tsunami mungkin tidak dapat dipastikan kapan datangnya, tetapi kesiapan untuk menghadapinya dapat dibangun mulai sekarang. Dengan pengetahuan, kewaspadaan, dan kerja sama yang berkelanjutan, risiko dapat ditekan dan semakin banyak jiwa memiliki kesempatan untuk diselamatkan. (NS-02)

Views: 0
Facebook
WhatsApp
Email