
AMBON,NUNUSAKU.ID,– Harga cabai rawit dan cabai keriting di sejumlah pasar di Kota Ambon melonjak tajam hingga menembus Rp 200 ribu/Kg. Menyikapi kondisi tersebut, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Maluku bersama Bank Indonesia (BI) menyiapkan langkah intervensi pasar untuk menekan lonjakan harga dan menjaga daya beli masyarakat.
Berdasarkan pemantauan terbaru di Pasar Batu Merah dan Pasar Mardika, serta sejumlah Kabupaten/Kota, harga cabai alami kenaikan signifikan dalam beberapa pekan terakhir. Bahkan, cabai keriting dilaporkan dijual secara eceran per biji dengan harga mencapai Rp 1.000.
Lonjakan harga tersebut diduga dipengaruhi kemarau berkepanjangan yang mengganggu produksi serta kendala transportasi yang berdampak pada pasokan cabai ke Maluku.
Untuk merespons situasi itu, Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Maluku telah menggelar rapat pada Senin (19/10) kemarin. Rapat melibatkan sejumlah pihak, antara lain Pertamina, ASDP, perbankan, Bulog, serta organisasi perangkat daerah (OPD) terkait.
Dalam rapat tersebut, salah satu langkah jangka pendek yang disiapkan adalah mendatangkan pasokan cabai dari daerah lain. Pemprov Maluku mengaku telah memperoleh informasi ketersediaan hampir dua ton cabai dari Nusa Tenggara Timur (NTT).
Bank Indonesia juga telah menyiapkan dukungan transportasi melalui program fasilitasi transportasi pangan. Namun, realisasi pengiriman masih menunggu kepastian jadwal penerbangan menuju Ambon yang mengalami perubahan.
“Kalau pasokan ini sudah masuk, kita akan segera melakukan intervensi pasar dengan bantuan BI. OJK juga dikabarkan akan membantu, dan arahan Pak Gubernur jelas, Bank Maluku juga dapat berperan dalam kondisi seperti ini,” ungkap juru bicara Pemprov Maluku, Kasrul Selang kepada media ini, Selasa (20/10).
Ia menjelaskan, harga acuan konsumen cabai di Ambon seharusnya berada pada kisaran Rp 57 ribu per kilogram. Namun, terbatasnya pasokan menyebabkan harga di pasar bergerak jauh di atas acuan tersebut.
Menurutnya, kenaikan harga tidak terlepas dari ketidakseimbangan antara pasokan dan permintaan. Ketika kebutuhan masyarakat tetap tinggi sementara pasokan berkurang, harga komoditas cenderung meningkat.
Karena itu, masuknya pasokan cabai dari NTT diharapkan dapat menambah ketersediaan barang di pasar sekaligus menekan harga yang saat ini membebani masyarakat.
Stok Beras Bulog Diklaim Aman
Selain cabai, TPID Maluku turut membahas ketersediaan beras menghadapi sejumlah momentum peningkatan kebutuhan, termasuk Natal dan Tahun Baru (Nataru) serta Ramadan pada 2027.
Kekeringan berkepanjangan dikhawatirkan berdampak terhadap produksi beras lokal dan meningkatkan risiko gagal panen. Meski demikian, berdasarkan pemaparan dalam rapat TPID, stok beras yang dikelola Bulog diperkirakan masih mampu memenuhi kebutuhan selama dua hingga tiga bulan ke depan.
Kondisi tersebut menjadi salah satu dasar bagi pemerintah untuk memastikan kebutuhan pangan masyarakat tetap terpenuhi di tengah tekanan terhadap produksi dan distribusi sejumlah komoditas.
“Pemprov Maluku akan terus memantau perkembangan harga dan pasokan pangan serta mengoordinasikan langkah penanganan bersama instansi terkait,” ungkap Kasrul.
Masyarakat juga diimbau tetap tenang karena pemerintah tengah menyiapkan langkah konkret untuk menambah pasokan cabai dan menstabilkan harga melalui intervensi pasar.
“Intinya, masyarakat tidak perlu panik. Kita akan melakukan intervensi pasar pada waktunya,” tegasnya. (NS)






