Jual Es, Jalan dengan Obor ke Sekolah Hingga Walikota Ambon
wali kisah

AMBON,NUNUSAKU.ID,— Tidak semua orang yang hari ini berdiri di hadapan banyak orang sebagai seorang pemimpin, tumbuh dari kehidupan yang serba mudah.

Ada yang harus melewati jalan panjang, hidup dalam keterbatasan, bahkan berjalan kaki dalam gelap sebelum akhirnya menemukan cahaya bagi masa depannya.

Kisah itulah yang dibagikan Walikota Ambon, Bodewin Wattimena ketika hadir dalam kegiatan kokurikuler Kelas VII bertema “Aku dan Prestasiku”, melalui program 7 KAIH (Gema Belajar) di SMP Negeri 4 Kota Ambon, Kamis (8/9/26).

Di hadapan para siswa dan guru, Bodewin tidak sekadar berbicara tentang prestasi. Ia membawa para siswa menyusuri kembali perjalanan hidupnya sejak masa kanak-kanak sebuah perjalanan yang penuh keterbatasan, tetapi kemudian membentuk dirinya menjadi pribadi yang tangguh.

Ia mengawali ceritanya dari Kampung Siwang, Negeri Nusaniwe, Kota Ambon, tempat dirinya dilahirkan dan dibesarkan dalam keluarga sederhana.

Ayahnya bekerja sebagai tukang, sementara sang ibu melakukan berbagai pekerjaan untuk membantu memenuhi kebutuhan keluarga. Mereka hidup dalam keterbatasan, bahkan rumah yang ditempatinya ketika itu berdinding kulit bambu.

Namun, keterbatasan ekonomi tidak pernah menjadi alasan baginya untuk berhenti sekolah. Salah satu bagian paling menyentuh dari kisah yang dibagikannya adalah pengalaman ketika masih duduk di bangku sekolah dasar.

Saat bersekolah di SD Kristen Seri, Bodewin harus berjalan kaki menempuh jarak berkilo-kilometer menuju sekolah. Perjalanan itu bahkan dimulai sejak sekitar pukul 04.30 WIT ketika suasana masih gelap.

Obor menjadi penerang di sepanjang perjalanan. Bukan hanya berjalan kaki, ia juga harus melakukan berbagai pekerjaan untuk membantu dirinya tetap bersekolah. Ia pernah berjalan menjual es hingga berjualan kue.

Baginya, sekolah bukan sesuatu yang boleh ditinggalkan hanya karena keadaan ekonomi keluarga. Justru dari kesulitan itulah mental dan karakter mulai terbentuk.

Ia mengaku ketika masih kecil, tubuhnya bahkan relatif lebih kecil dibandingkan teman-teman sekelasnya. Tetapi kondisi tersebut tidak membuatnya merasa rendah diri.

Sebaliknya, kehidupan yang keras membentuk apa yang kemudian ia sebut sebagai “mental petarung” dan jiwa pejuang.

Ada satu peristiwa kecil yang hingga kini masih melekat dalam ingatan Bodewin, ketika berada di penghujung kelas V menuju kelas VI SD, kepala sekolahnya, memberi apresiasi berupa sebuah buku dan pena.

Namun, bukan karena ia juara kelas. Apresiasi itu diberikan karena sang kepala sekolah melihat semangatnya yang luar biasa untuk terus bersekolah.

Bagi Bodewin, pemberian sederhana tersebut menjadi sesuatu yang sangat berarti.

Seorang guru melihat perjuangannya, yang dimana seorang guru percaya bahwa seorang anak dari keluarga sederhana pun memiliki masa depan.

Sosok Kepala Sekolah di masanya bersekolah itu kemudian menjadi salah satu figur yang ia jadikan panutan dan pegangan moral dalam perjalanan hidupnya.

Dari pengalaman itulah ia belajar bahwa terkadang, sebuah perhatian kecil dari seorang guru dapat meninggalkan pengaruh besar dalam kehidupan seorang anak.

Setelah menyelesaikan pendidikan SMA, Bodewin sempat berencana untuk langsung bekerja. Namun, jalan hidup membawanya ke arah berbeda.

Ia mengikuti seleksi Sekolah Tinggi Pemerintahan Dalam Negeri (STPDN). Dari puluhan peserta yang mengikuti proses seleksi dari wilayahnya, hanya sekitar 35 orang yang berhasil diterima.

Namanya termasuk didalamnya. Perjalanan tersebut menjadi salah satu titik balik penting dalam hidupnya.

Dari seorang anak yang dahulu harus berjalan kaki dengan obor untuk pergi ke sekolah, ia mulai menapaki dunia pendidikan kedinasan dan kemudian masuk dalam perjalanan panjang sebagai aparatur pemerintahan.

Kariernya sebagai ASN dijalani selama sekitar 31 tahun. Ia memulai dari bawah, melewati berbagai tahapan karier, hingga akhirnya dipercaya menduduki posisi Sekretaris DPRD Maluku.

Kemudian, pada 24 Mei 2022, ia dipercaya mengemban tugas sebagai Penjabat Walikota Ambon. Perjalanan berikutnya membawanya pada keputusan besar dalam hidup.

Setelah melalui proses panjang bersama keluarga, ia memutuskan pensiun dini dari ASN pada Maret 2024 dengan pangkat/golongan IV/d dan kemudian memilih melanjutkan pengabdian melalui jalur politik dan pemerintahan.

Hari ini 8 Oktober 2026, ia berdiri sebagai Walikota Ambon yang telah memimpin 1,8 tahun. Akan tetapi di hadapan para siswa SMP Negeri 4 Ambon, ia tidak berbicara tentang jabatan.

Ia justru mengajak anak-anak melihat masa depan dari titik tempat mereka berdiri sekarang. “Masa Depan Tidak Ditentukan oleh Keadaan Hari Ini”.

Pesan utama yang disampaikan Bodewin kepada para siswa sederhana, tetapi kuat. Jangan melihat keterbatasan hari ini sebagai ukuran masa depan.

Anak yang hari ini kesulitan membeli buku belum tentu akan memiliki masa depan yang buruk. Sebaliknya, anak yang hari ini memiliki banyak fasilitas juga belum tentu otomatis berhasil.

Menurutnya, orang tua, guru dan lingkungan memang memiliki peran penting, tetapi keputusan terbesar mengenai masa depan tetap berada pada diri masing-masing.

Karena itu, anak-anak diminta mulai belajar dengan sungguh-sungguh sejak sekarang.

“Jangan pernah berharap mendapat kemudahan tanpa usaha,” pesan Bodewin dalam kisahnya.

Ia juga mengingatkan bahwa keberhasilan tidak selalu berarti memperoleh jabatan tertinggi.

Ada anak yang bercita-cita menjadi dokter, tetapi kemudian menjadi perawat, ada yang bercita-cita menjadi Jenderal, tetapi akhirnya menjadi seorang prajurit. Ada yang bermimpi menjadi profesor, tetapi kemudian menjadi guru. Menurutnya, tidak ada yang salah dengan semua pilihan tersebut.

Sebab, ukuran keberhasilan bukan semata-mata jabatan yang diperoleh, melainkan seberapa besar seseorang dapat memberikan manfaat bagi orang lain.

“Bukan soal jabatan apa yang kita dapat, tetapi bagaimana kita menjadi orang yang bermanfaat dengan apa yang kita dapatkan,” ingatnya kepada para siswa.

Bodewin juga mengajak para siswa memahami bahwa tidak semua orang harus menjadi Walikota untuk dapat membangun Kota Ambon.

Akan ada yang menjadi guru, ada yang menjadi kepala sekolah, ada yang menjadi dokter, perawat, pengusaha, ASN, kepala dinas, anggota legislatif maupun profesi lainnya. Semua memiliki ruang untuk memberikan kontribusi.

Karena itu, sekolah menurutnya bukan hanya tempat mengejar nilai akademik, tetapi juga tempat membentuk karakter.

Kecerdasan yang dibutuhkan generasi muda, kata dia, bukan hanya kecerdasan intelektual, tetapi juga kecerdasan emosional, sosial dan spiritual.

“Semua satuan pendidikan dan para guru berusaha mengajarkan anak-anak agar menjadi cerdas. Tetapi kecerdasan itu harus berjalan bersama karakter,” pesannya.

Ditengah perkembangan teknologi dan media sosial, Bodewin juga mengingatkan para siswa agar tidak salah menggunakan kebebasan yang mereka miliki.

TikTok, YouTube dan berbagai platform media sosial dapat menjadi sarana belajar dan mengembangkan kreativitas apabila digunakan secara bijak. Namun, teknologi juga dapat menjadi pintu masuk berbagai pengaruh negatif.

Ia secara tegas mengingatkan anak-anak untuk menjauhi narkoba, minuman keras, pergaulan bebas, bullying serta berbagai perilaku yang dapat merusak masa depan.

Menurutnya, larangan tersebut bukan untuk membatasi kebebasan anak-anak, melainkan bentuk kepedulian agar mereka tidak kehilangan masa depan yang sedang dibangun.

“Jangan narkoba anak-anak sekalian. Bukan ketong mau menyusahkan anak-anak, tapi ketong mau jaga dong supaya dong jadi orang-orang hebat,” ungkap Bodewin.

Ia juga mengingatkan para siswa agar tidak merendahkan atau menghina teman. Karena Setiap orang memiliki perjalanan hidup yang berbeda. Dan Karena itu, menghargai sesama merupakan bagian penting dari pembentukan karakter.

Di hadapan para siswa, Bodewin juga mengingatkan pentingnya menghormati orang tua. Menurutnya, tidak ada orang tua yang menginginkan anaknya memiliki masa depan yang lebih buruk.

Apapun pekerjaan orang tua, harapan mereka tetap sama: melihat anaknya memiliki kehidupan yang lebih baik.

Karena itu, anak-anak diminta mendengarkan nasihat orang tua, menghormati guru, belajar dengan sungguh-sungguh dan selalu melibatkan Tuhan dalam setiap langkah kehidupan.

“Keberhasilan tidak hanya lahir dari kecerdasan, tetapi juga dari proses panjang, doa orang tua, kerja keras dan ketekunan,” tandasnya.

Pesan Bodewin kemudian diarahkan pada masa depan yang lebih besar. Anak-anak SMP yang saat ini berusia sekitar 11 hingga 13 tahun, pada tahun 2045 nanti akan berada pada usia produktif.

Mereka adalah generasi yang akan mengisi ruang-ruang penting dalam pembangunan Indonesia. Karena itu, pendidikan yang mereka jalani hari ini menjadi investasi bagi masa depan Kota Ambon dan Indonesia.

Pemerintah Kota Ambon, kata Bodewin, terus berupaya meningkatkan kualitas pendidikan melalui pemenuhan sarana dan prasarana, dukungan kurikulum, peningkatan kapasitas guru, optimalisasi peran komite sekolah serta peningkatan mutu peserta didik.

Namun semua upaya tersebut tidak akan cukup tanpa kemauan anak-anak untuk belajar.

Kisah Bodewin Wattimena pada akhirnya bukan hanya cerita tentang seorang anak miskin yang kemudian menjadi wali kota.

Lebih jauh, kisah itu merupakan gambaran tentang bagaimana pendidikan, ketekunan, karakter, doa dan keberanian untuk terus berjuang dapat mengubah arah kehidupan seseorang.

Dari rumah sederhana di Kampung Siwang, Dari perjalanan kaki sebelum matahari terbit, Dari obor yang menjadi penerang, Dari berjualan es dan kue demi bertahan sekolah, Dari sebuah buku dan pena pemberian seorang kepala sekolah, Dari bangku sekolah kedinasan, Dari perjalanan panjang sebagai ASN, dan pada akhirnya
berhasil berdiri sebagai Wali Kota Ambon.

Semua itu menjadi satu rangkaian perjalanan yang ingin ia wariskan kepada generasi muda. Sebab, sebagaimana pesan yang disampaikannya kepada para siswa SMP Negeri 4 Ambon, masa depan tidak ditentukan sepenuhnya oleh apa yang dimiliki seseorang hari ini.

Masa depan dibentuk pilihan, usaha, karakter dan keberanian untuk terus berjalan. Dan mungkin, diantara siswa yang duduk mendengarkan cerita itu, suatu hari nanti akan ada yang menjadi guru, dokter, pengusaha, pemimpin, kepala daerah, atau bahkan orang yang namanya belum pernah dibayangkan siapa pun hari ini.

Sebab, perjalanan menuju masa depan selalu dimulai dari satu langkah.

Dan bagi Bodewin Wattimena, langkah itu pernah dimulai dari sebuah jalan panjang di Kampung Siwang, dengan obor kecil sebagai penerang. (NS-02)

Views: 3
Facebook
WhatsApp
Email