
AMBON,NUNUSAKU.ID,— Kemarau yang melanda Kota Ambon dalam beberapa pekan terakhir mulai menghadirkan persoalan baru. Di sejumlah kawasan, asap kebakaran lahan muncul ketika kondisi tanah dan vegetasi semakin kering, sementara debit air bersih juga terus mengalami penurunan.
Situasi tersebut membuat Pemerintah Kota (Pemkot) Ambon meminta masyarakat meningkatkan kewaspadaan. Walikota Bodewin Wattimena secara khusus mengingatkan warga untuk menghentikan sementara aktivitas pembukaan lahan dengan cara membakar.
Menurutnya, sejumlah kebakaran lahan yang terjadi belakangan ini mayoritas berkaitan aktivitas masyarakat yang membuka lahan perkebunan baru. Dalam kondisi cuaca panas dan kering, api yang awalnya digunakan untuk membersihkan lahan berpotensi dengan cepat menjalar ke kawasan lain.
“Dalam situasi kemarau seperti sekarang ini, kami mengimbau masyarakat untuk tidak melakukan pembukaan lahan dengan cara membakar. Api sangat mudah meluas dan dapat menimbulkan kebakaran yang lebih besar,” ujar Bodewin di Ambon, Rabu (7/10/26).
Bagi pemerintah, persoalan kebakaran lahan tidak berhenti pada kerusakan lingkungan. Asap yang ditimbulkan juga dapat mengganggu kualitas udara dan berdampak terhadap kesehatan masyarakat.
Karena itu, Pemkot Ambon telah mengambil langkah antisipasi dengan membagikan masker kepada masyarakat. Warga diminta menggunakan masker ketika beraktivitas di luar rumah, terutama saat kondisi udara dipengaruhi asap kebakaran.
Masyarakat juga diimbau mengurangi aktivitas di luar rumah apabila tidak memiliki kepentingan mendesak.
“Gunakan masker, jaga kesehatan, dan kalau tidak ada kepentingan yang mendesak sebaiknya jangan keluar rumah. Yang paling penting, jangan membakar sampah ataupun lahan karena dalam kondisi seperti ini api bisa dengan cepat menyebar,” tegasnya.
Menurut Bodewin, kebiasaan membakar sampah maupun lahan perlu dihentikan sementara hingga kondisi cuaca lebih aman. Sebab, percikan api yang terlihat kecil dapat berubah menjadi kebakaran besar ketika bertemu dengan lahan kering dan hembusan angin.
Ancaman kebakaran semakin serius karena terjadi bersamaan dengan menurunnya debit air bersih. Kondisi tersebut membuat seluruh elemen masyarakat harus lebih berhati-hati dalam menggunakan air sekaligus mencegah aktivitas yang dapat memicu kebakaran.
Bodewin meminta masyarakat tidak hanya menjaga kawasan permukiman, tetapi juga hutan dan lahan terbuka yang rentan terbakar.
“Debit air bersih kita juga semakin menurun. Jadi kita harus sama-sama berhati-hati. Yang paling utama adalah jangan membakar hutan,” katanya.
Ia menilai pencegahan harus menjadi langkah utama. Masyarakat perlu memahami bahwa satu tindakan kecil, seperti membakar sampah atau membersihkan kebun menggunakan api, dapat menimbulkan dampak yang jauh lebih besar ketika kondisi lingkungan sedang kering.
Selain itu, Bodewin memberikan apresiasi kepada jajaran Pemadam Kebakaran (Damkar) dan seluruh petugas yang setiap hari berada di lapangan menangani titik-titik kebakaran, walau ditengah kondisi panas.
“Terima kasih kepada petugas Damkar yang setiap hari bekerja tak kenal lelah. Kerja para petugas Damkar menjadi bagian penting dalam mencegah api meluas dan melindungi masyarakat,” ungkapnya.
Kemarau kali ini menjadi pengingat bahwa menjaga lingkungan bukan hanya tanggung jawab pemerintah. Setiap warga memiliki peran yang sama dalam mencegah bencana.
Ketika air semakin terbatas dan lahan semakin mudah terbakar, kehati-hatian menjadi kebutuhan bersama. Tidak membakar sampah, tidak membuka lahan dengan api dan segera melaporkan titik kebakaran menjadi langkah sederhana yang dapat dilakukan masyarakat.
Sebab, ketika api masih kecil, peluang untuk mengendalikannya jauh lebih besar. Namun ketika api telah menjalar ke kawasan luas, upaya pemadaman menjadi jauh lebih sulit dan membutuhkan sumber daya yang lebih besar. (NS-02)



