
AMBON,NUNUSAKU.ID,— Pergantian seorang camat bukan sekadar perpindahan nama di ruang jabatan. Dibaliknya ada cerita tentang pengabdian, pekerjaan yang telah dimulai, hubungan yang telah dibangun, dan harapan masyarakat yang harus terus dilanjutkan.
Pesan itulah yang terasa dalam suasana pisah sambut Camat Nusaniwe di Kantor Camat Nusaniwe, Amahusu, Kota Ambon, Kamis (2/10/26).
Dalam kesempatan tersebut, kepemimpinan Kecamatan Nusaniwe beralih dari Quraizin Tuhuteru kepada Niel A. Wattimena.
Suasana berlangsung penuh kekeluargaan. Namun dibalik seremoni tersebut, ada satu pesan yang cukup kuat: pergantian kepemimpinan tidak berarti memulai semuanya dari awal.
Bagi Niel Wattimena, apa yang telah dibangun pendahulunya merupakan fondasi yang harus dihargai, dirawat, dan bila perlu diperkuat.
Niel menyampaikan apresiasi kepada Quraizin beserta jajaran atas pengabdian selama menjalankan tugas di Kecamatan Nusaniwe.
Quraizin diketahui telah mengabdi di wilayah tersebut selama kurang lebih lima tahun, sejak 2021 hingga 2026, dengan menjalankan sejumlah tugas pemerintahan.
Perjalanan pengabdiannya dimulai ketika dipercaya sebagai Penjabat Kepala Pemerintah Negeri Seilale pada 2021 berdasarkan Keputusan Wali Kota Ambon Nomor 92 Tahun 2021.
Ditengah tugas tersebut, Quraizin juga dipercaya menjalankan tanggungjawab sebagai Sekretaris Kecamatan Nusaniwe sekitar 2021–2023.
Selanjutnya, ia dipercaya menjadi Pelaksana Tugas (PLT) Camat Nusaniwe sekitar 2023–2025, sebelum kemudian menjabat sebagai Camat Nusaniwe definitif hingga 2026.
Rentang perjalanan tersebut membuat Quraizin tidak hanya mengenal birokrasi kecamatan dari balik meja, tetapi juga bersentuhan langsung dengan berbagai dinamika pemerintahan dan masyarakat di wilayah Nusaniwe.
Karena itu, Niel menilai berbagai capaian yang terlihat saat ini merupakan bagian dari proses panjang yang tidak terlepas dari kerja kepemimpinan sebelumnya.
Ia pun berharap pengabdian Quraizin dapat terus memberikan manfaat di tempat tugas berikutnya.
“Selamat dan sukses di tempat tugas yang baru. Semoga silaturahmi yang telah dibangun diantara kita tetap terjaga,” tutur Niel.
Setelah memberikan penghormatan kepada pendahulunya, Niel mulai berbicara tentang babak baru yang akan dijalankannya.
Satu kata yang menjadi penekanan adalah kolaborasi. Bagi Niel, membangun Kecamatan Nusaniwe tidak mungkin dilakukan hanya oleh pemerintah kecamatan.
Nusaniwe memiliki negeri, kelurahan, lingkungan, rumah ibadah, RT/RW, tokoh masyarakat, pemuda, dunia pendidikan, anggota DPRD serta berbagai kelompok masyarakat yang masing-masing memiliki peran.
Karena itu, komunikasi dengan seluruh unsur tersebut akan menjadi bagian penting dari pola kepemimpinannya.
“Setelah proses pisah sambut ini, kita akan bersama-sama anggota dewan daerah pemilihan Nusaniwe, tokoh agama, tokoh masyarakat, raja, lurah dan seluruh stakeholder untuk bersinergi membangun Kecamatan Nusaniwe ke depan ke arah yang lebih baik,” ujar Niel.
Baginya, pemerintah tidak cukup hanya hadir melalui pelayanan administrasi. Pemerintah juga harus hadir dengan mendengar persoalan masyarakat dan membangun solusi bersama.
Arah kepemimpinan Niel juga tidak terlepas dari visi Pemerintah Kota Ambon, yakni Ambon Manise yang inklusif, toleran dan berkelanjutan.
Menurutnya, visi tersebut harus diterjemahkan menjadi kerja nyata hingga ke tingkat kecamatan, negeri dan kelurahan.
Termasuk di dalamnya menjalankan 17 program prioritas Pemerintah Kota Ambon.
“Semua ini berpatokan kepada visi dan misi bapak Walikota, yaitu Ambon Manise, inklusif, toleran dan berkelanjutan. Program-program yang dituangkan dalam 17 program prioritas itulah yang harus kita lakukan di negeri, kelurahan dan kecamatan, sehingga dapat teraktualisasi dengan baik untuk kepentingan masyarakat,” jelasnya.
Konsep inklusif, kata Niel, berarti memberikan ruang kepada seluruh masyarakat untuk ikut mengambil bagian dalam pembangunan.
Sementara toleransi menjadi sesuatu yang harus terus dirawat, mengingat Nusaniwe merupakan wilayah dengan masyarakat yang memiliki latar belakang agama, suku dan budaya yang beragam.
Sedangkan pembangunan berkelanjutan harus memastikan setiap kebijakan tidak hanya menyelesaikan persoalan hari ini, tetapi juga mempertimbangkan kebutuhan masyarakat pada masa mendatang.
Niel juga ingin memperkuat komunikasi antara pemerintah dan masyarakat melalui pendekatan yang lebih dekat.
Salah satunya dengan membangun komunikasi melalui negeri, kelurahan, komunitas masyarakat dan rumah-rumah ibadah.
Kunjungan ke Gereja maupun Masjid, menurutnya, bukan sekadar kegiatan seremonial. Langkah tersebut diharapkan menjadi ruang untuk mendengar secara langsung berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat.
Dengan pendekatan tersebut, masyarakat diharapkan tidak ditempatkan hanya sebagai objek pembangunan, tetapi ikut menjadi bagian dari proses pembangunan itu sendiri.
Diantara berbagai unsur masyarakat, Niel memberikan perhatian khusus kepada RT dan RW.
Alasannya sederhana: mereka merupakan unsur pemerintahan yang paling dekat dengan masyarakat.
RT dan RW dinilai memiliki pengetahuan langsung mengenai kondisi warga di lingkungannya, mulai dari persoalan sosial, kebutuhan administrasi, hingga warga yang membutuhkan perhatian pemerintah.
Penguatan koordinasi dengan RT/RW juga akan diarahkan pada ketertiban administrasi dan pendataan masyarakat.
Dalam urusan administrasi tertentu, Niel mendorong masyarakat melengkapi surat pengantar dari ketua RT sebagai salah satu bagian dari upaya memastikan data warga lebih tertib dan kondisi masyarakat dapat diketahui pemerintah secara lebih akurat.
Namun, Niel menyadari bahwa pelayanan publik yang baik tidak akan terwujud tanpa kedisiplinan aparatur pemerintahan.
Karena itu, disiplin pegawai di tingkat kecamatan, kelurahan maupun negeri menjadi salah satu perhatian dalam kepemimpinannya.
Aparatur dituntut hadir tepat waktu dan memberikan pelayanan secara responsif kepada masyarakat.
“Untuk peningkatan kualitas pelayanan publik di kecamatan, kita harus mendisiplinkan aparatur yang ada di kelurahan, negeri dan kecamatan. Mereka harus hadir di kantor tepat waktu sehingga pelayanan kepada masyarakat dapat terlaksana dengan baik,” tegasnya.
Evaluasi kinerja juga akan dilakukan.Namun, evaluasi tersebut tidak semata-mata dimaksudkan untuk mencari kesalahan. Lebih jauh, evaluasi menjadi cara untuk melihat sejauh mana pelayanan berjalan dan apa saja yang masih perlu diperbaiki.
Dari evaluasi tersebut, pemerintah kecamatan akan mencari berbagai inovasi agar pelayanan dapat diberikan dengan lebih cepat, tepat waktu dan tepat sasaran.
Babak baru Nusaniwe juga akan bersentuhan dengan transformasi digital.
Niel mendorong pemanfaatan Identitas Kependudukan Digital (IKD) sebagai bagian dari upaya mempercepat pelayanan administrasi masyarakat.
Menurutnya, pelayanan yang cepat membutuhkan data yang akurat. Karena itu, pemerintah kecamatan akan melakukan inventarisasi masyarakat sekaligus mendorong pemanfaatan IKD.
“Kita akan mengevaluasi kinerja masing-masing aparatur dan melakukan terobosan inovasi agar pelayanan bisa tepat sasaran dan tepat waktu. Ke depan kita juga akan menginventarisasi masyarakat untuk melakukan IKD, sehingga pelayanan dapat dilakukan lebih cepat dan efektif,” katanya.
Pemanfaatan data juga akan menjadi bagian penting dalam menentukan arah pelayanan.
Data pemerintah, termasuk data yang bersumber dari BPS, diharapkan dapat membantu pemerintah memahami kondisi sosial dan ekonomi masyarakat secara lebih tepat.
Dengan data yang lebih baik, program pemerintah diharapkan tidak hanya berjalan secara administratif, tetapi benar-benar diarahkan kepada warga sesuai kebutuhan dan kondisi di lapangan.
Pisah sambut tersebut juga menjadi ruang untuk memberikan penghargaan kepada sejumlah aparatur yang telah mengabdikan diri di Kecamatan Nusaniwe.
Selain Quraizin, apresiasi juga diberikan kepada Andre Rinsampessy, Kevin Paays dan Yosy Soplanit, termasuk mereka yang memasuki masa purna tugas.
Bagi Niel, setiap pengabdian memiliki tempat tersendiri dalam perjalanan sebuah pemerintahan.
Sebab, pembangunan sebuah wilayah tidak pernah lahir dari satu periode kepemimpinan saja. Ia terbentuk dari kerja banyak orang yang datang, bekerja, meninggalkan fondasi, kemudian dilanjutkan oleh generasi berikutnya.
Karena itu, pergantian camat tidak dimaknainya sebagai garis pemisah antara masa lalu dan masa depan.
Sebaliknya, masa lalu menjadi pijakan untuk melangkah ke depan.
Dan bagi Niel Wattimena, langkah itu dimulai dari hal-hal yang paling dekat dengan masyarakat: komunikasi, kedisiplinan, pelayanan, data dan kolaborasi.
Pisah sambut berakhir. Namun, bagi Camat Nusaniwe yang baru, hari tersebut justru menjadi titik awal.
Awal untuk memperluas komunikasi dengan masyarakat. Awal untuk memperkuat koordinasi dengan RT/RW, raja, lurah, tokoh agama, tokoh masyarakat, pemuda dan DPRD. Awal untuk membenahi pelayanan serta mendorong digitalisasi administrasi.
Pada akhirnya, wajah sebuah pemerintahan tidak hanya terlihat dari banyaknya program yang dirancang.
Wajah pemerintahan justru paling terasa ketika seorang warga datang membutuhkan pelayanan dan menemukan aparatur yang hadir, cepat merespons, serta mau mendengarkan.
Dari Nusaniwe, semangat Ambon Manise yang inklusif, toleran dan berkelanjutan itu kini memasuki babak baru bukan dengan menghapus apa yang telah dibangun, tetapi melanjutkannya melalui kerja bersama.
Sebab jabatan boleh berganti, tetapi pengabdian kepada masyarakat harus terus berjalan. (NS-02)



