Semesta Raya Sastra 1.0 Dihadirkan; Perluas Akses Literasi-Bangun Ruang Dialog Sastra Kritis
IMG-20260919-WA0020

AMBON,NUNUSAKU.ID,— Komunitas Timur Menulis menggelar kegiatan Semesta Raya Sastra 1.0 bertema “Sastra dan Budaya Timur Indonesia” di Auditorium George de Fretes RRI Ambon, Sabtu (19/9/26).

Kegiatan yang didukung Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia melalui Program Penguatan Komunitas Sastra 2026 ini menjadi bagian dari upaya memperluas akses literasi, membangun ruang dialog kritis, memperkenalkan nilai sejarah kepada generasi muda, serta mendorong tumbuhnya ekosistem sastra dan kreativitas masyarakat di Maluku.

Melalui kegiatan tersebut, masyarakat, khususnya generasi muda, diajak untuk lebih dekat dengan karya-karya sastra berkualitas sekaligus melihat sastra sebagai ruang untuk merekam pengalaman sosial, sejarah, kebudayaan, dan ingatan kolektif masyarakat.

Sesi pertama “Semesta Raya Sastra 1.0” diisi dengan diskusi dan bedah karya sastra, sebagai ruang pertemuan bagi penulis, akademisi, jurnalis, pegiat literasi, mahasiswa, serta masyarakat untuk membicarakan hubungan antara sastra, sejarah, dan pengalaman sosial.

Ketua Komunitas Timur Menulis, Soleman Pelu menjelaskan, pemilihan tema kegiatan tersebut memiliki filosofi tersendiri.

Menurutnya, kata “Semesta” menggambarkan sastra sebagai ruang imajinasi dan kearifan tanpa batas, sekaligus menjadi ruang bagi narasi dan karya dari Timur untuk terus tumbuh dan berkembang.

Sementara kata “Raya”, kata Soleman, menyimbolkan sebuah perayaan yang meriah dan inklusif bagi seluruh insan literasi serta masyarakat luas.

Adapun “Sastra” dimaknai sebagai jembatan kebudayaan untuk merawat memori sejarah, merekam rutinitas sosial, serta menjaga dan meregenerasi kearifan lokal.

Sedangkan “1.0” menjadi simbol tonggak dan pijakan awal bagi gerakan literasi yang terstruktur dan berkelanjutan. Semesta Raya Sastra 1.0: Sastra dan Budaya Timur Indonesia,” ujar Soleman saat membuka kegiatan.

Ia menjelaskan, Semesta Raya Sastra 1.0 tidak hanya dilaksanakan dalam satu agenda. Rangkaian kegiatan dijadwalkan berlangsung pada 19, 25, dan 29 September 2026.

Agenda tersebut meliputi diskusi dan bedah karya sastra, wisata sejarah untuk menelusuri jejak perjuangan pahlawan nasional Dr. Johannes Leimena yang akan dirangkaikan dengan kegiatan puncak di Desa Ema, serta diskusi yang secara khusus menyasar kalangan mahasiswa di Universitas Pattimura.

Pada sesi pertama yang dilaksanakan oleh Komunitas Timur Menulis, peserta diajak membedah novel Laut Bercerita karya Leila S. Chudori dengan menghadirkan dua narasumber, yakni Dr. Falantino Eryk Latupapua, akademisi yang menekuni bidang bahasa, sastra dan kebudayaan, serta Embong Salampessy, jurnalis senior dan pekerja perdamaian di Maluku.

Kegiatan tersebut dipandu Vini Noya, penyiar Radio Republik Indonesia (RRI) Ambon.

Bedah buku tersebut mengangkat sastra tidak hanya sebagai karya imajinatif, tetapi juga sebagai medium untuk merekam ingatan, pengalaman manusia, sejarah, identitas, dan realitas sosial.

Dalam pemaparannya, Falantino Eryk Latupapua menceritakan pengalaman awalnya mengenal karya Leila S. Chudori ketika masih duduk di bangku SMP melalui kumpulan cerpen “Malam Terakhir” yang tersedia di perpustakaan SMP Negeri 1 Ambon.

Ia kemudian menilai Laut Bercerita sebagai karya penting dalam perkembangan sastra Indonesia, terutama karena kemampuan Leila memadukan bahasa yang ringan, intim, dan puitis dengan latar sejarah yang kompleks.

“Kekuatan novel itu salah satunya terletak pada pilihan bahasa yang sederhana tetapi tetap mendalam. Cara bertutur tersebut membuat pembaca dapat masuk ke dalam pengalaman tokoh sekaligus memahami konteks sejarah yang menjadi latar cerita,” jelasnya.

Ia juga menyoroti penggunaan tokoh Biru Laut sebagai pusat cerita. Menurutnya, Biru Laut tidak hanya berfungsi sebagai tokoh dalam cerita, tetapi juga menjadi representasi manusia biasa yang kemudian berhadapan dengan realitas sosial dan politik pada masa menjelang Reformasi 1998.

“Pilihan bahasa itu untuk mengatakan satu karya berkualitas tidak perlu gaya yang abstrak atau filosofis yang membuat orang harus berkerut kening untuk membaca. Dengan kalimat-kalimat yang sederhana, karya itu tetap bisa mendalam,” ungkap Latupapua.

Dirinya juga menekankan pentingnya membaca karya sastra berlatar sejarah secara kritis. Menurut Valentino, generasi muda yang tidak mengalami langsung suatu peristiwa sejarah perlu didorong untuk tidak hanya menerima cerita, tetapi juga menelusuri berbagai sumber dan perspektif agar dapat memahami konteks sejarah secara lebih utuh.

Dalam konteks tersebut, Laut Bercerita dinilai dapat menjadi pintu masuk bagi pembaca muda untuk mempertanyakan, menelusuri, dan memahami kembali sejarah dari perspektif orang-orang yang mengalami peristiwa tersebut.

“Novel tersebut menghadirkan dua pusat pengalaman melalui Biru Laut dan Asmara. Perspektif tersebut memperlihatkan pengalaman korban secara langsung sekaligus dampak kehilangan terhadap keluarga dan orang-orang yang ditinggalkan,” urainya

Menurut Akademisi FKIP Unpatti itu, trauma dalam novel tidak berhenti pada individu, tetapi dapat menjalar kepada keluarga dan masyarakat. Karena itu, sastra memiliki peran penting dalam menjaga ingatan agar pengalaman manusia yang traumatis tidak hilang begitu saja.

“Sastra bukan hanya untuk menunjukkan ada sejarah seperti ini yang direpresentasikan dalam karya sastra. Tetapi lebih dari itu, untuk memastikan bahwa pengalaman-pengalaman manusia, terutama yang traumatis dan menunjukkan bahwa kemanusiaan kita tercabik-cabik, tidak boleh dilupakan begitu saja,” demikian Falantino.

Sementara itu, narasumber kedua, Embong Salampessy, membedah Laut Bercerita dari perspektif jurnalisme dan aktivitas masyarakat sipil.

Dalam paparannya yang berjudul “Membaca Laut Bercerita di Kota Ambon”, Embong menempatkan jurnalisme sebagai “mata pencatat sejarah pertama” dan sastra sebagai salah satu ruang yang dapat membantu mengungkap pengalaman manusia yang tidak selalu tercatat dalam sejarah resmi.

“Terdapat titik temu antara pekerjaan jurnalis dan sastrawan, yakni sama-sama berupaya merajut kebenaran di tengah berbagai keterbatasan dan persoalan dalam pengungkapan informasi,” akuinya.

Menurut Embong, proses riset yang dilakukan Leila dalam menulis Laut Bercerita juga memiliki kedekatan dengan kerja jurnalistik, termasuk melalui penelusuran informasi dan wawancara dengan sejumlah orang yang memiliki pengalaman terkait peristiwa yang menjadi latar novel.

Ia kemudian menguraikan sejumlah aspek yang terdapat dalam novel, antara lain penculikan dan penghilangan secara paksa, teror psikologis, kekerasan fisik, serta pembungkaman terhadap pers dan organisasi masyarakat sipil.

Embong juga mengaitkan pembahasan novel tersebut dengan pengalaman masyarakat Maluku dalam tragedi kemanusiaan 1999.

Menurutnya, pengalaman konflik di Maluku juga meninggalkan trauma kolektif yang perlu dirawat melalui dokumentasi, karya jurnalistik, sastra, dan berbagai bentuk kesenian agar generasi muda memahami sejarah secara lebih utuh.

Ia menceritakan pengalaman jurnalis lokal di tengah situasi konflik Maluku yang menghadapi dilema antara menjalankan tugas jurnalistik dan menjaga keselamatan diri maupun komunitas.

Dalam kondisi tersebut, pemberitaan yang hanya menonjolkan identitas kelompok dan jumlah korban berpotensi memperkuat ketegangan. Karena itu, menurut Embong, kemudian berkembang pendekatan jurnalisme damai, yakni pemberitaan yang lebih sensitif terhadap konflik, menghindari provokasi, serta memperkuat narasi kemanusiaan dan kohesi sosial.

Ia menilai pengalaman Maluku menunjukkan pentingnya menghadirkan cerita korban, perempuan, anak-anak, pengungsi, serta kelompok masyarakat yang selama ini kurang mendapatkan ruang untuk berbicara.

“Yang penting bagaimana kita memberi ruang dan kesempatan bagi suara-suara itu untuk terdengar. Setidaknya terdengar dulu. Mau diikuti atau tidak, itu soal nanti,” ujarnya.

Embong juga menekankan pentingnya pengarsipan memori dan pewarisan sejarah kepada generasi muda agar masyarakat tidak mengalami amnesia kolektif terhadap tragedi masa lalu.

Menurutnya, sastra dan jurnalisme dapat menjadi ruang katarsis bagi korban sekaligus menjadi sarana untuk menjaga ingatan kolektif.

Dalam diskusi sesi pertama, kedua narasumber sama-sama menekankan pentingnya peran generasi muda dalam menjaga memori sejarah melalui karya.

Kegiatan Semesta Raya Sastra 1.0 diharapkan tidak berhenti pada aktivitas membaca dan membedah karya sastra, tetapi dapat mendorong peserta untuk menghasilkan karya baru dalam berbagai bentuk, seperti puisi, cerpen, foto, ilustrasi, maupun dongeng yang berangkat dari sejarah dan pengalaman masyarakat lokal.

Hal tersebut sejalan dengan tujuan kegiatan untuk mendorong alih wahana dan penguatan ekosistem sastra, sekaligus membuka ruang bagi masyarakat untuk mengolah konten sejarah menjadi karya seni yang relevan dengan perkembangan zaman.

Melalui rangkaian kegiatan yang berlangsung pada 19, 25, dan 29 September 2026, Komunitas Timur Menulis berharap Semesta Raya Sastra 1.0 dapat menjadi pijakan awal bagi gerakan literasi yang berkelanjutan di Maluku.

Kegiatan ini juga menjadi ruang pertemuan antara sastra, sejarah, jurnalisme, pendidikan, dan kebudayaan untuk mendorong generasi muda agar tidak hanya menjadi pembaca sejarah, tetapi turut mengambil bagian dalam merawat, mendokumentasikan, dan mewariskan ingatan masyarakat melalui karya. (NS-02)

Views: 17
Facebook
WhatsApp
Email