
AMBON,NUNUSAKU.ID,— Denting totobuang mengalun ditengah kemeriahan malam penutupan Festival Benteng New Victoria 2026. Dua hari perhelatan budaya yang menghadirkan beragam kesenian, tarian, karnaval budaya hingga ruang bagi pelaku UMKM itu akhirnya mencapai penghujung.
Dibawah suasana malam Kota Ambon, Walikota Ambon, Bodewin Wattimena secara resmi menutup Festival Benteng New Victoria 2026, Selasa (8/9).
Penutupan itu menjadi simbol berakhirnya rangkaian kegiatan sekaligus pesan untuk terus menjaga kebudayaan Maluku.
Bagi Bodewin, festival tersebut bukan sekadar sebuah kegiatan seremonial. Ada ingatan sejarah dan kekayaan budaya yang hendak terus dihidupkan melalui perhelatan tersebut.
Ia menyampaikan apresiasi kepada Balai Pelestarian Kebudayaan Provinsi Maluku yang untuk kedua kalinya menggelar Festival Benteng Nieuw Victoria, setelah pelaksanaan perdana pada 2023.
“Pemerintah Kota Ambon memberi apresiasi dan terus berharap semoga festival ini akan terus berlangsung setiap tahun di Kota Ambon,” ujar Bodewin.
Harapan itu, kata dia, bukan hanya datang dari pemerintah. Warga Kota Ambon juga menginginkan agar festival yang mengangkat sejarah dan kebudayaan tersebut dapat terus digelar secara berkelanjutan.
Sebab, Benteng Victoria tidak hanya berdiri sebagai sebuah bangunan bersejarah. Didalamnya tersimpan cerita tentang perjalanan panjang Kota Ambon dan Maluku, sekaligus menjadi pengingat bahwa masyarakat memiliki warisan budaya yang harus terus dikenali, dijaga dan dilestarikan.
“Festival ini mengingatkan kita semua bahwa ada begitu banyak sejarah dan budaya yang mesti terus kita kenal, kita jaga, dan kita lestarikan,” katanya.
Malam penutupan festival juga menjadi gambaran tentang wajah Ambon sebagai kota yang dihuni oleh beragam budaya.
Berbagai sanggar kesenian tampil membawa warna budaya dari sejumlah wilayah di Maluku. Tarian, musik tradisional dan berbagai ekspresi seni menjadi satu dalam satu panggung.
Kalau diperhatikan dari tampilan-tampilan tarian dan lain-lain, dari seluruh wilayah di Provinsi Maluku, itu ada di Ambon. Sanggar-sanggar semua ada, mereka hidup dan berkembang di kota ini, ujarnya.
Menurutnya, siapapun dapat membawa dan menampilkan kebudayaan dari daerah masing-masing di Kota Ambon. Yang terpenting adalah bagaimana seluruh pihak memiliki komitmen yang sama untuk menjaga keberlangsungan kebudayaan tersebut.
“Kalau mau tampilkan tarian dari mana saja, silakan. Yang penting untuk melestarikan dan menjaga budaya yang kita miliki,” katanya.
Dari panggung festival, Ambon seakan menjadi rumah besar bagi beragam ekspresi kebudayaan Maluku. Perbedaan tidak ditempatkan sebagai jarak, melainkan sebagai kekayaan yang dapat dirayakan bersama.
Karnaval budaya menjadi bagian dari rangkaian kegiatan. Begitu pula kehadiran pelaku Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) yang mendapatkan ruang untuk memperkenalkan dan memasarkan produk mereka kepada masyarakat.
Bagi Pemerintah Kota Ambon, ruang semacam ini penting karena kebudayaan memiliki hubungan erat dengan pertumbuhan ekonomi kreatif.
Bodewin mengatakan, pemerintah kota terus berupaya membangun ekosistem ekonomi kreatif dengan mempertemukan berbagai sektor, mulai dari musik, seni, UMKM dan sektor kreatif lainnya.
“Di situ ada musik, ada UMKM dan lain-lain yang masuk dalam kelompok industri kreatif,” jelasnya.
Menurut dia, pengembangan ekosistem tersebut menjadi salah satu cara agar masyarakat tetap memiliki ruang untuk tumbuh di tengah tekanan ekonomi dan situasi yang tidak selalu mudah.
Melalui UMKM dan sektor ekonomi kreatif, masyarakat diharapkan tidak hanya menjadi penonton, tetapi ikut mengambil bagian dalam menciptakan kemandirian ekonomi.
Supaya masyarakat di kota, di tengah-tengah tekanan ekonomi dan situasi kondisi yang sulit, dapat eksis karena memiliki ruang menuju kemandirian masyarakat lewat UMKM dan lainnya.
Lebih jauh, penutupan Festival Benteng New Victoria juga menjadi momentum bagi Bodewin untuk mengajak masyarakat menjaga persaudaraan dan toleransi.
Baginya, pembangunan Kota Ambon tidak hanya membutuhkan infrastruktur dan pertumbuhan ekonomi. Lebih dari itu, kota ini membutuhkan masyarakat yang mampu menjaga kehidupan bersama dalam keberagaman.
Ia mengajak seluruh warga untuk terus menjaga persaudaraan, termasuk nilai-nilai budaya Maluku seperti pela gandong.
Narasi tentang hidup orang basudara, menurutnya, harus terus dirawat dan diwariskan kepada generasi berikutnya.
“Pela gandong dan narasi-narasi lain tentang hidup orang bersaudara, potong di kuku rasa di daging, itu menjadi pondasi yang kuat.”
Nilai-nilai tersebut, lanjutnya, merupakan kekuatan yang dapat menjadi contoh bagi kehidupan bersama di Ambon maupun Maluku.
Karena pada akhirnya, sebuah kota bukan hanya tentang bangunan dan ruang publik. Kota juga dibentuk oleh ingatan, budaya, seni dan hubungan antarmanusia yang terus dirawat dari generasi ke generasi.
Dari Benteng Victoria, pesan itu kembali digaungkan.
Bahwa sejarah tidak cukup hanya dikenang. Budaya tidak cukup hanya dipertontonkan. Dan persaudaraan tidak cukup hanya diucapkan.
Festival boleh berakhir. Panggung boleh kembali sunyi. Namun semangat untuk menjaga budaya, menghidupkan ekonomi kreatif dan merawat persaudaraan orang basudara di Kota Ambon diharapkan terus menyala.
Bodewin pun menyampaikan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah mendukung pelaksanaan festival, termasuk Pemerintah Provinsi Maluku, Kodam XV/Pattimura, para pelaku seni dan budaya, pelaku UMKM serta seluruh masyarakat Kota Ambon.
“Mari kita bersama-sama terus bersemangat hidup di Kota Ambon yang kita cintai. Mari sama-sama menjaga persaudaraan dan toleransi,” ajaknya.
Malam kemudian berlanjut dengan suguhan lagu-lagu dan pertunjukan seni. Di antara cahaya panggung dan suara musik, Festival Benteng New Victoria 2026 pun resmi ditutup, “Namun cerita tentang budaya dan persaudaraan Ambon belum selesai.” (NS-02)






