Ambon 451 Tahun: Sejarah Panjang, Persaudaraan dan Harapan yang Tak Pernah Padam
IMG-20260907-WA0005

AMBON,NUNUSAKU.ID,— Pagi di Kota Ambon, Senin, 7 September 2026, terasa berbeda. Hari ini bukan sekadar pergantian angka dalam perjalanan sebuah kota, melainkan momentum untuk kembali menengok perjalanan panjang Ambon yang telah melewati berbagai zaman, perubahan, tantangan, hingga kebangkitan.

Ditengah perayaan hari ulang tahun tersebut, Upulatu Kota Ambon Bodewin Wattimena mengajak seluruh masyarakat untuk tidak hanya memaknai pertambahan usia sebagai sebuah perayaan seremonial.

Lebih dari itu, 451 tahun harus menjadi momentum untuk melihat kembali perjalanan masa lalu, mensyukuri pencapaian hari ini, sekaligus menentukan arah kota di masa mendatang.

“Semua yang kita alami di hari ini, kita yakin dapat terjadi karena kasih dan penyertaan Tuhan Yang Maha Kuasa bagi kota ini dan bagi semua kita yang hidup di kota ini,” kata Wattimena.

Baginya, usia 451 tahun merupakan perjalanan panjang yang telah membentuk Ambon sebagai kota dengan sejarah, kebudayaan, keberagaman, persaudaraan, serta daya hidup yang kuat.

Dibalik usia tersebut terdapat cerita tentang perjuangan, perjumpaan, perubahan, tantangan, kebangkitan, dan harapan yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Karena itu, menurut Wattimena, peringatan HUT Kota Ambon tidak boleh berhenti pada perayaan. Momentum ini harus menjadi ruang untuk memperkuat rasa persaudaraan, persatuan dan kesatuan, sekaligus menumbuhkan rasa cinta dan kebanggaan sebagai orang Ambon.

Tahun ini, semangat tersebut dirangkum melalui tema “Ambon Bersih, Maluku Sehat, Indonesia Maju.”

Bagi Wattimena, tema itu bukan sekadar rangkaian kata yang terpampang dalam berbagai kegiatan HUT. Tema tersebut merupakan ajakan agar seluruh elemen masyarakat bergerak bersama, karena perubahan besar selalu berawal dari tindakan-tindakan sederhana.

Wattimena menempatkan persoalan kebersihan sebagai salah satu fondasi penting dalam membangun kota.

Namun, Ambon bersih yang dimaksud bukan semata-mata kota yang terbebas dari sampah. Lebih jauh, kebersihan merupakan cerminan kesadaran, kedisiplinan, serta rasa memiliki masyarakat terhadap lingkungan tempat mereka hidup.

Karena itu, menjaga kebersihan tidak boleh hanya dilakukan ketika kota sedang menyambut tamu, menggelar perlombaan, atau melaksanakan sebuah perayaan.

“Budaya bersih harus tumbuh menjadi karakter masyarakat,
Ajakan itu bahkan dimulai dari tempat paling sederhana yaitu, rumah sendiri,” akunya.

Dari rumah, kemudian bergerak ke lorong-lorong dan lingkungan tempat tinggal, sekolah, kantor, pasar, terminal, pantai, sungai, ruang publik hingga kawasan-kawasan bersejarah.

Ambon adalah rumah besar par basudara samua. Kalau katong cinta Ambon, maka katong harus jaga Ambon, pesannya.

Ia mengingatkan masyarakat agar tidak selalu menunggu pemerintah untuk membersihkan lingkungan. Sebab, ada banyak hal yang sebenarnya dapat dilakukan sendiri oleh masyarakat tanpa harus menunggu intervensi pemerintah.

Semangat gotong royong dan kepedulian terhadap lingkungan menjadi kunci agar kebersihan tidak hanya menjadi program pemerintah, tetapi berubah menjadi gerakan bersama warga kota.

Bagi Walikota, kebersihan memiliki hubungan erat dengan kesehatan. Lingkungan yang bersih akan membantu mengurangi berbagai risiko penyakit sekaligus menciptakan ruang hidup yang lebih sehat bagi masyarakat.

“Sebagai ibukota Provinsi Maluku, Ambon juga memiliki tanggungjawab untuk memberikan contoh dan menjadi teladan bagi daerah lain,” terangnya.

Dari Ambon yang bersih, masyarakat ikut membangun Maluku yang sehat. Dari masyarakat yang sehat, lahir masyarakat yang produktif. Dan dari daerah yang produktif serta berdaya saing, Ambon dapat memberikan kontribusi bagi cita-cita Indonesia Maju.

Dengan demikian, Wattimena melihat Ambon Bersih bukan sebagai tujuan yang berdiri sendiri.

Ambon Bersih merupakan fondasi bagi Maluku Sehat, sementara Maluku Sehat menjadi bagian dari kekuatan bersama menuju Indonesia Maju.

Namun, perjalanan 451 tahun Ambon tidak hanya berbicara tentang pembangunan dan masa depan. Ada sejarah panjang yang harus terus dirawat.

Salah satu jejak sejarah yang mendapat perhatian dalam sambutan Wattimena adalah Benteng Victoria.

Benteng yang berada di pusat Kota Ambon itu bukan sekadar bangunan tua. Ia adalah saksi perjalanan sejarah kota, tempat berbagai kepentingan, bangsa, perdagangan, kebudayaan, dan masyarakat pernah bertemu.

Dari Benteng Victoria, sebagian perjalanan panjang Ambon dapat dibaca.

Karena itu, keberadaan Benteng Victoria menurut Wattimena harus dilihat bukan hanya sebagai warisan masa lalu, tetapi juga sebagai aset sejarah dan kebudayaan yang dapat menjadi bagian penting dalam membangun masa depan.

“Usia 451 tahun memberikan sebuah pelajaran bahwa kota boleh berubah dan zaman boleh berganti. Tetapi identitas dan sejarah tidak boleh hilang,” ingatnya.

Ada pesan penting yang ingin disampaikan pemerintah kota melalui momentum HUT kali ini, Benteng Victoria yang dahulu dibangun sebagai tempat pertahanan, kini harus menjadi benteng kebudayaan, benteng sejarah, benteng persaudaraan, dan benteng identitas orang Ambon.

Jika dahulu kekuatannya berbicara tentang pertahanan fisik, maka hari ini kekuatannya harus berbicara tentang ingatan, identitas, kebudayaan, dan masa depan.

Di tempat itu, generasi muda harus dapat belajar mengenai perjalanan kotanya. Kebudayaan dapat diperkenalkan. Seni dan kreativitas dapat menemukan ruang. Dan dari sana, Ambon dapat memperkenalkan dirinya kepada dunia sebagai kota yang memiliki sejarah panjang, kekayaan budaya, serta kekuatan persaudaraan.

Pada akhirnya, Wattimena kembali menempatkan masyarakat sebagai kekuatan utama sebuah kota.

Ambon dibangun oleh masyarakat yang berbeda-beda. Berbeda negeri, latar belakang, suku, agama, dan budaya.

Namun seluruh perbedaan itu bertemu dalam satu rumah bersama, Ambon Manise.

Karena itu, pembangunan tidak cukup hanya dengan infrastruktur dan kebijakan. Pembangunan membutuhkan kepercayaan, persaudaraan, toleransi, kedamaian, dan kebersamaan.

“Tidak ada Ambon maju tanpa Ambon damai. Ambon tidak akan bersih tanpa kesadaran masyarakat. Maluku tidak akan sehat tanpa partisipasi katong samua,” tegasnya.

Pesan tersebut sekaligus menjadi pengingat bahwa masa depan Kota Ambon bukan hanya berada di tangan pemerintah.

Pemerintah, tokoh agama, tokoh adat, tokoh masyarakat, pemuda, perempuan, akademisi, media, lembaga swadaya masyarakat, serta seluruh warga memiliki peran masing-masing, Pemerintah tidak mungkin bekerja sendiri.

Di momentum usia 451 tahun itu, Wattimena juga menitipkan pesan kepada generasi muda Kota Ambon.

Perubahan zaman, perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi digital, budaya, dan pariwisata akan menghadirkan tantangan yang semakin besar.

Anak-anak muda Ambon karena itu dituntut untuk terus belajar, beradaptasi, mengembangkan kemampuan, sekaligus tetap berakar pada identitas dan budaya daerahnya, Masa depan Ambon berada di tangan generasi yang hari ini sedang tumbuh.

Mereka bukan hanya pewaris sejarah, tetapi juga orang-orang yang nantinya menentukan seperti apa wajah Kota Ambon di masa depan.

Pada usia 451 tahun, Ambon akhirnya berdiri di antara dua ruang waktu: masa lalu yang menyimpan sejarah panjang dan masa depan yang penuh tantangan.

Benteng Victoria mengingatkan tentang pentingnya menjaga ingatan. Lingkungan mengingatkan tentang tanggung jawab bersama. Keberagaman mengajarkan tentang persaudaraan.

Dan seluruhnya bermuara pada satu pesan, bahwa mencintai Ambon bukan hanya dengan merayakan hari ulang tahunnya, tetapi dengan ikut menjaga rumah bersama ini.

Dari Ambon Bersih, menuju Maluku Sehat, dan bersama-sama mengambil bagian dalam perjalanan menuju Indonesia Maju.

“Terima kasih dan penghargaan kepada Gubernur Maluku, Wakil Gubernur, jajaran Pemerintah Provinsi Maluku, akademisi, tokoh agama, tokoh masyarakat, tokoh pemuda, tokoh perempuan, pimpinan LSM, pimpinan media, serta seluruh pihak yang selama ini ikut berkontribusi dalam pembangunan Kota Ambon,” ungkapnya.

Ia berharap penyertaan Tuhan Yang Maha Kuasa senantiasa menyertai perjalanan Kota Ambon memasuki usia ke-451 tahun.

Ia adalah ingatan tentang dari mana Ambon berasal, cermin tentang siapa masyarakatnya hari ini, dan harapan tentang kota seperti apa yang ingin diwariskan kepada generasi berikutnya. (NS-02)

Views: 2
Facebook
WhatsApp
Email