
AMBON,Nunusaku.id,— Anggota DPRD Maluku, Anos Yermias memberi dukungan penuh terhadap pengembangan Integrated Island Health System (IIHS) yang digagas Dinas Kesehatan Provinsi Maluku sebagai model transformasi pelayanan kesehatan berbasis karakteristik wilayah kepulauan.
Menurut Anos, IIHS merupakan langkah strategis untuk menjawab tantangan pelayanan kesehatan di Maluku yang memiliki kondisi geografis berbeda dengan daerah kontinental.
“Maluku adalah provinsi kepulauan. Sekitar 92 persen wilayah kita adalah laut, dengan lebih dari 1.300 pulau yang tersebar. Karena itu, pelayanan kesehatan tidak bisa menggunakan pendekatan yang sama seperti daerah kontinental,” ujarnya di Ambon, Rabu (26/8).
Ia mengatakan, jarak antarpulau, kondisi cuaca, keterbatasan transportasi, distribusi tenaga kesehatan, ketersediaan obat dan alat kesehatan hingga sistem rujukan masih menjadi tantangan yang harus dijawab melalui sebuah sistem yang terintegrasi.
Karena itu, politisi Golkar tersebut mengapresiasi langkah Kepala Dinas Kesehatan Maluku dalam mengembangkan IIHS.
“Bagi beta, IIHS bukan sekadar nama program. Ini adalah kebutuhan Maluku,” tegas Legislator dapil KKT-MBD itu.
Anos menilai, implementasi IIHS harus mampu menghubungkan pelayanan kesehatan primer dengan rumah sakit rujukan, memperkuat Mobile Island Health Service, memanfaatkan telemedicine, memastikan distribusi obat dan logistik kesehatan, memperkuat surveilans penyakit, membangun interoperabilitas data serta menghadirkan Island Health Command Center sebagai pusat koordinasi pelayanan kesehatan antarpulau.
Menurutnya, integrasi tersebut penting agar masyarakat yang tinggal di pulau-pulau kecil dan wilayah terpencil tidak lagi menghadapi keterlambatan pelayanan hanya karena persoalan geografis.
“Orang sakit di pulau tidak boleh terlambat ditolong hanya karena jarak. Ibu hamil tidak boleh kehilangan kesempatan mendapatkan pelayanan yang aman hanya karena persoalan transportasi. Pasien yang membutuhkan dokter spesialis harus dapat dibantu melalui sistem rujukan dan teknologi,” katanya.
Ia menegaskan, keberhasilan IIHS tidak dapat hanya dibebankan kepada Dinas Kesehatan. Dibutuhkan kolaborasi Pemerintah Provinsi, Pemerintah Kabupaten/Kota, rumah sakit, Puskesmas, tenaga kesehatan, pemerintah desa, sektor transportasi, telekomunikasi dan seluruh pemangku kepentingan.
“Maluku membutuhkan sistem kesehatan yang memahami laut, memahami pulau, memahami jarak, dan terutama memahami kesulitan masyarakat,” ujarnya.
Anos berharap IIHS dibangun secara serius, konsisten dan berkelanjutan sehingga mampu menghadirkan pelayanan kesehatan yang lebih merata, berkualitas, adaptif dan terjangkau bagi seluruh masyarakat Maluku.
Ia bahkan optimistis, jika diterapkan secara konsisten, IIHS dapat menjadi salah satu model pelayanan kesehatan kepulauan yang dapat direplikasi di daerah kepulauan lainnya di Indonesia.
“Dari pulau ke pulau, negara harus hadir melalui pelayanan kesehatan. Yang jauh harus didekatkan, yang sulit harus dimudahkan, dan masyarakat harus menjadi pusat dari setiap kebijakan kesehatan,” pungkasnya. (NS)



